DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Kamis 13 Desember 2018, 17:08 WIB

Kolom

Getir Histeria Pesta Harbolnas

Jusman Dalle - detikNews
Getir Histeria Pesta Harbolnas Foto: ist
Jakarta -

Diskon, best deal, promo, cashback, gratis ongkir, hadiah mobil, garansi asli atau uang kembali. Deretan frasa dan diksi itu mewarnai berbagai ruang di sekitar kita hari-hari ini. Mulai dari billboard dan papan reklame di persimpangan lampu merah yang selalu ramai. Juga di ruang tanpa batas yang bernama gawai.

Mantra-mantra pamungkas tersebut amat intens memanggil di notifikasi. Pesannya diperkuat oleh ilustrasi visual menarik hati yang telah dirancang apik oleh pihak agensi yang diakui. Saban hari, materi promosi itu lalu lalang di berbagai etalase advertensi. Terutama dari aplikasi ecommerce yang terpasang gawai.

Pariwara pertanda ada serangan gelombang pesta belanja juga muncul amat masif di laman-laman dunia maya. Dari yang kurang familiar hingga portal berita populer. Media elektronik radio dan televisi juga dimanfaatkan sebagai arena berpromosi.

Untuk sukses Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas), histeria diciptakan. Sumber daya dikerahkan. Energi disatukan. Selebritas Korea yang punya jutaan penggemar fanatik di Indonesia didaulat sebagai komunikator cum brand ambassador.

Pokoknya, tidak ada ruang kerumunan yang dibiarkan luput. Semua "diledakkan" demi mencipta gegap gempita perhelatan akbar Harbolnas. Puncak pesta belanja di Indonesia yang digelar setiap 12 Desember. Populer dengan numerik unik nan cantik, 12.12.

Merujuk pada data Nielsen Indonesia, total belanja iklan ecommerce sepanjang 2017 menembus angka Rp 4,6 triliun. Angka itu mengusai 63% dari total belanja iklan sepanjang tahun. Agresivitas melakukan belanja iklan memang sejalan dengan hasil yang dituai. Aneka godaan belanja yang berseliweran ampuh memacu masyarakat melabuhkan pilihan belanjanya ke lapak, kios, toko, hingga mal yang terpasang di gawai.

Royalitas adalah kunci loyalitas. Pameo tersebut berlaku paten di jagat bisnis ecommerce yang terus dipacu mencatatkan rekor pertumbuhan anyar dari tahun ke tahun. Royalitas dengan spending nilai jumbo belanja iklan sektor industri digital, sejalan dengan loyalitas masyarakat mempercayakan pemenuhan kebutuhan hariannya di aneka opsi saluran berbelanja secara daring. Menurut data Nielsen, 30% dari 90% pengguna aplikasi ecommerce berbelanja setidaknya sekali dalam seminggu.

Sebagai puncak dari berbagai rentetan pesta belanja seperti 10.10 dan 11.11 yang diadopsi dari Singles Day ala China, Harbolans hendak membuktikan tuahnya. Target besar pun ditetapkan. Tahun ini, ekosistem ecommerce berambisi mencapai angka transaksi Rp 7 triliun. Besar atau kecilnya angka itu amat relatif, dari sudut mana ia ditakar.

Bila dibandingkan dengan Singles Day China, angka Rp 7 triliun jelas tidak ada apa-apanya. Raksasa ecommerce China , Alibaba saja mampu membukukan transaksi Rp 450,9 triliun seperti dilaporkan oleh CNBC. Angka penjualan fantastik untuk total transaksi sehari. Dari satu konglomerasi, Alibaba.

Namun, bila merujuk pada standar di Indonesia, transaksi Rp 7 triliun jelas angka yang menggembirakan. Tak ada momentum belanja yang mampu menyatukan energi kocek konsumen dalam rentang waktu 24 jam, memacu perputaran uang sedemikian masif dengan angka transaksi fantastik. Kecuali pada momen Harbolnas.

Tantangan

Namun, di balik gegap gempita dan histeria pesta belanja Harbolnas, ada satu tanya yang mengganjal. Hajatan nasional ini apakah ampuh memberdayakan ekonomi lokal seperti Alibaba berkontribusi memompa jantung pacu ekonomi mikro di China berkat ajang Singles Day? Atau, 12.12 ini sekadar mengikuti tren? Pembuktian bahwa bila China punya Singles Day dan Amerika Serikat ada Black Friday, Indonesia juga punya Harbolnas.

Fakta berikut patut jadi input, koreksi, sekaligus renungan. Bagi semua pihak yang meyakini bahwa masa depan ekonomi Indonesia adalah ekonomi digital.

Nah, rupanya, dari target transaksi Harbolnas sebesar Rp 7 triliun, hanya Rp 1 triliun yang ditargetkan dari penjualan produk lokal. Selebihnya dari produk-produk impor. Target Harbolnas tersebut seolah mengamini data-data soal dominasi produk impor di jagat ecommerce Indonesia.

Sejumlah lembaga, termasuk dari pemerintah, membeberkan data ihwal fakta itu. Hanya ada sekitar 7% produk lokal yang ditawarkan di berbagai marketplace. Data mengejutkan tersebut disampaikan oleh Kemenko Perekonomian. Ada data lain. Kemenperin bilang, 90% produk ecommerce adalah impor.

Kadin punya data berbeda. Menurut Kadin, 93% produk di situs online adalah impor. Ini senada dengan Kemenko Perekonomian. Tak mau kalah, Kominfo juga menyajikan data. Katanya, 60% produk yang listing di ecommerce adalah impor.

Di balik data-data yang tidak kompak tersebut, kita bersepakat pada satu hal. Ecommerce Indonesia didominasi oleh produk impor. Salahkah? Tentu tidak. Realitas itu terbentuk dari cara kerja pasar di era persaingan bebas. Mekanisme ekonomi yang kita amini.

Namun, tentu getir rasanya melihat perhelatan akbar Harbolans 12.12, 11.11, 10.10 dan berbagai program promotif untuk mengedukasi masyarakat berbelanja secara daring, justru tidak tepat sasaran. Berbagai benefit yang ditawarkan untuk meledakkan potensi industri ini, akhirnya kurang optimal dalam memberikan manfaat terhadap pelaku ekonomi lokal.

Padahal, ecommerce adalah peluang terbaik yang dimilik oleh Indonesia saat ini untuk menampilkan kekuatan UKM yang kerap dibangga-banggakan. Ecommerce adalah masa depan ekonomi Indonesia. Anak-anak bangsa pelaku ekonomi dari berbagai pelosok negeri mestinya naik kelas dengan memanfaatkan booming ecommerce dan ekonomi digital. Era ekonomi inklusif yang memberikan peluang kepada siapa saja untuk ikut tumbuh bersama industri ini.

Okelah, sudah ada banyak produk yang berhasil menembus pasar global berkat penetrasi ecommerce. Namun, jauh lebih banyak produk yang akhirnya kita impor untuk memenuhi dahaga konsumsi dalam negeri.

Kalau sudah begini, kita tentu tercenung. Gelombang komsumtivisme yang dihela sedemikian rupa di era gawai nan canggih, justru tak membuat pelaku ekonomi lokal berada di podium tertinggi. Lantas, untuk siapa sebenarnya kita membangun industri sarat konsumtivisme ini?

Jusman Dalle Direktur Eksekutif Tali Foundation dan Praktisi Ekonomi Digital




(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed