DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Kamis 13 Desember 2018, 16:37 WIB

Kolom

Menangkap Angin Segar Pasar Digital

Hikmayani - detikNews
Menangkap Angin Segar Pasar Digital Foto: istimewa
Jakarta - Seiring perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang membawa pengaruh signifikan bagi kehidupan, telekomunikasi menjadi sangat penting bagi pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja. Data Produk Domestik Bruto (pDB) yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa sejak 2014 sudah tiga kali Lapangan Usaha Informasi dan Komunikasi menempati peringkat pertama pertumbuhan ekonomi yang ditinjau dari sisi produksi.

Hal ini terjadi pada 2014, 2015 dan 2017. Nilainya pernah menyentuh dua digit pada 2014 (10,02%) dan 2015 (10,06%). Ini menunjukkan bahwa industri Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) terus menggeliat dan bertumbuh pesat. Generasi milenial pun mahfum, mereka terstimulasi makin kreatif dan inovatif. Kemajuan TIK terus dimanfaatkan, antara lain untuk perkembangan telekomunikasi yang makin cepat dan murah.

Komunikasi dan akses informasi kini dilakukan melalui berbagai media dan aplikasi. Kecepatan instan yang cukup menjanjikan ini dimanfaatkan juga oleh milenial dalam transformasi kegiatan ekonomi, antara lain untuk produksi barang dan jasa, pemasaran produk serta memperoleh kebutuhan hidup.

Dinamika pada banyak aspek ekonomi terus terjadi. Tidak hanya proses produksi semakin mengandalkan kecanggihan teknologi. Pola konsumsi milenial lebih banyak mengandalkan internet. Lokasi dan alat transaksi tidak melulu berbentuk fisik dan kasat mata. Transaksi virtual menjadi hal yang tidak asing bagi masyarakat milenial. Dalam hitungan menit, kebutuhan diperoleh dan omzet mengalir. Sederhana, cukup dengan mengusap layar gawai.

Bank Indonesia menyebutkan, sekitar 24,73 juta orang berbelanja online selama 2016. Dengan total belanja menembus Rp 75 triliun, sehingga rata-rata setiap orang yang berbelanja online menghabiskan sekitar Rp 3 juta per tahun.

Data Sensus Ekonomi 2016 BPS menyebutkan, selama 2006-2016 jumlah e-commerce di Indonesia naik hingga 17%. Totalnya mencapai sekitar 26,2 juta pelaku e-commerce. Ini mengindikasikan penggunaan platform online atau pasar digital sangat tinggi, khususnya para pengguna media digital dan smartphone yaitu generasi milenial.

Satu dekade perkembangan pesat perdagangan digital menjadi fenomena baru dalam ekonomi Indonesia. Banyak pihak berharap fenomena itu dimanfaatkan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat dan menyokong perekonomian makro negara kita.

Beberapa tahun terakhir, makin banyak pelaku usaha, baik perusahaan besar maupun ritel, beralih atau mengembangkan usaha ke arah digital. Gaya hidup masyarakat perlahan bergeser dari belanja pada toko ritel konvensional menjadi toko ritel online. Pada 2016, porsi konsumsi di e-commerce terhadap total ritel mencapai 2,2%. Diproyeksikan mencapai 4,4% pada 2018 ini.

Indonesia menjadi negara dengan pertumbuhan e-commerce tertinggi di dunia. Kondisi ini diprediksi semakin meningkat seiring dengan tumbuhnya masyarakat kelas menengah Indonesia. Riset global dari Bloomberg tersebut juga menyatakan, pada 2020 lebih dari separuh penduduk Indonesia akan terlibat di aktivitas e-commerce.

Kemunculan jutaan pelaku e-commerce membawa angin segar bagi perekonomian Indonesia. Pasar digital memberi peluang yang sama bagi setiap orang, khususnya para milenial yang dikenal akrab TIK. Sektor ekonomi baru ini diharapkan signifikan meningkatkan perekonomian sekaligus kesejahteraan, mengingat pasar digital tidak memandang ruang dan waktu untuk melakukan transaksi.

Euforia Harbolnas

Terinspirasi Cyber Monday yang berlangsung setiap akhir Desember di Amerika dan Eropa, para pelaku e-commerce Tanah Air berkolaborasi mengajak masyarakat berbelanja online. Event tahunan ini yang diselenggarakan bersama oleh para pelaku pasar digital, disambut baik oleh sejumlah mitra, seperti pelaku industri telekomunikasi, perbankan, fintech, hotel, logisitik, hingga media.

Diselenggarakan pertama kali pada 2012 dengan tajuk cantik promo "12.12.12", hajat tersebut dipelopori oleh salah satu raksasa marketplace. Dan, pada penyelenggaraan perdana tersebut hanya diikuti tujuh marketplace. Berikutnya, program Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) resmi diperkenalkan pada 2013. Dengan iktikad mengedukasi masyarakat tentang kemudahan belanja online aman dan nyaman yang bisa dilakukan kapan dan di mana saja.

Dari tahun ke tahun, terjadi peningkatan partisipasi konsumen maupun pelaku usaha pada momen Harbolnas. Bermodal potensi demografi, Indonesia memiliki komposisi penduduk yang lebih menguntungkan dibandingkan lima negara Asia lainnya dengan PDB besar seperti China, Jepang, India, dan Korea. Usia produktif mendominasi di Indonesia. Data BPS menyebutkan sekitar 32% penduduk usia produktif pada 2016 adalah milenial. Generasi yang curious, interest, bahkan aktif berpartisipasi di pasar digital.

Konsisten dengan itu, tercatat juga tren omzet dan volume penjualan Harbolnas selalu meningkat. Wajar jika Harbolnas terbukti sukses menstimulasi para pelaku UMKM dalam negeri ini, oleh sejumlah pihak diharapkan mampu mengembangkan pasar digital Tanah Air.

Lebih dari 200 e-commerce ambil bagian dalam Harbolnas 2017, dengan estimasi total transaksi sebesar Rp 4,7 triliun, jauh di atas perolehan tahun sebelumnya sebesar Rp 1,4 triliun.

Tahun ini, perhelatan akbar pasar digital tersebut mengangkat semangat gotong royong dengan tema "Belanja untuk Bangsa". Diikuti lebih dari 300 e-commerce, dengan menargetkan total transaksi hingga Rp 7 triliun, tema Harbolnas 2018 merepresentasikan harapan adanya peningkatan partisipasi pengusaha lokal, serta kualitas dan nilai omzet pasar digital Tanah Air, yang pada gilirannya menjadi multiplier effect bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Tidak hanya itu, kiranya Harbolnas mampu memberikan pengalaman berbelanja yang menyenangkan dan semakin secure bagi masyarakat.

Pisau Bermata Dua

Pasar digital yang terus berkembang semoga mampu mengakomodasi bonus demografi yang sedang menyapa bangsa kita. Kondisi yang bisa menjadi peluang emas sekaligus bencana jika tidak diantisipasi dari berbagai aspek. Tingkat penyerapan tenaga kerja bisa tergerus oleh perkembangan teknologi yang masif.

Dinamika yang begitu cepat mengancam manusia Indonesia yang lambat atau salah merespons. Kemudahan akses dan diskon menggiurkan yang ditawarkan pasar digital justru bisa menjadi bumerang bagi konsumen yang kurang jeli dan cermat. Godaan opsi pembayaran secara angsuran menggunakan fasilitas perbankan tentu berdampak secara psikologis bagi konsumen, tergantung kearifan berpikir dan keputusan ketika belanja.

Peluang munculnya kejahatan digital pun susah dielakkan jika tidak diantisipasi secara tegas oleh pemerintah. Upaya memperketat payung hukum terkait pemanfaatan ITE dan meningkatkan perlindungan bagi para pelaku usaha digital dan konsumen yang bertransaksi secara legal di pasar digital harus terus dilakukan.

Terakhir, ketersediaan data aktual dan berkesinambungan terkait pasar digital juga sudah menjadi keharusan. Perencanaan, monitoring, dan evaluasi segala yang terkait pasar digital sangat perlu dilakukan mengingat perkembangannya yang pesat dan menyentuh banyak aspek. Kerja sama dari para pelaku usaha digital dalam bentuk pemberian data valid dan akurat amat dibutuhkan, agar dapat dibangun suatu gambaran yang lebih utuh mengenai perkembangan pasar digital dalam negeri.

Hikmayani ASN pada Badan Pusat Statistik Kabupaten Pangkep, Sulsel


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed