DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Rabu 12 Desember 2018, 12:00 WIB

Kolom

Sun Go Kong pun Minta Dibayar Non-Tunai

Ali Rokhman - detikNews
Sun Go Kong pun Minta Dibayar Non-Tunai Foto: Ali Rokhman
Jakarta -

Saya baru saja menghadiri forum internasional The First High Level Forum on China-Indonesia People-to-People Exchange among Universities yang diselenggarakan oleh Central China Normal University yang berkedudukan di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China. Dalam acara yang diadakan pada 25 November itu saya mempresentasikan makalah tentang perlunya kita bekerja sama untuk menangani cyber security antarnegara. Karena, fenomena sekarang ini perdagangan secara elektronik atau yang lebih dikenal dengan e-commerce telah merebak ke banyak negara, termasuk di Indonesia.

Menurut data yang dilansir oleh databoks.co.id pada 2014 transaksi e-commerce di Indonesia hanya sekitar Rp 20 triliun, pada 2017 sudah lebih dari Rp 100 triliun, dan pada 2018 diperkirakan transaksi e-commerce Indonesia mencapai Rp 140 triliun.

Malamnya selepas acara resmi saya ada kesempatan jalan-jalan ke down-town Kota Wuhan, tepatnya di Jianghan Road. Dari hotel ke Jianghan Road kami naik subway. Sebagai orang yang cukup lama punya pengalaman hidup di Jepang, sekilas kehidupan penduduk Wuhan sudah tidak begitu jauh dengan kota besar di Jepang. Kereta subway juga sangat ramai dengan jeda waktu keberangkatan hanya sekitar 10 menit. Karena malam Minggu, kereta dipenuhi banyak anak muda yang mau jalan-jalan ke Jianghan Road.

Saya ditemani oleh seorang mahasiswa Indonesia yang sedang mengambil program doktor di Wuhan. Karena saya tidak mau merepotkan dia yang sudah menyediakan waktu untuk mengantar kami, saya pun berinisiatif untuk membayar ongkos kereta. Saya siap-siap mengeluarkan mata uang China. Namun, apa kata dia? "Tidak bisa, Pak di sini membayarnya harus pakai aplikasi." Artinya, harus bayar pakai non-tunai dan menggunakan uang elektronik.

Di Jianghan Road, saya tak hanya melihat keramaian kota pada malam hari, bukan hanya melihat toko-toko yang banyak menyajikan dagangan, tapi saya lebih tertarik untuk memperhatikan perilaku orang dalam membayar. Banyak pedagang kecil, penjual makanan saya perhatikan pembayarannya menggunakan non-tunai. Pembeli cukup scan "QR Code" di handphone penjual. Padahal kalau saya lihat usia dari si penjual, bukan usia yang muda, sudah masuk kategori nenek-nenek.

Dalam perjalanan pulang ke hotel, masih di area Jianghan Road kami dicegat oleh dua orang yang berkostum Sun Go Kong atau yang lebih dikenal dengan Kera Sakti, tokoh film yang terkenal di Tanah Air yang berkali-kali ditayangkan di berbagai stasiun televisi. Kami ditawari berfoto bersama dengan Sun Go Kong. Kami pun bersedia, buat kenang-kenangan karena Sun Go Kong adalah ikon terkenal Negeri Tiongkok.

Namun, tak disangka setelah pemotretan selesai, Sun Go Kong menyingsingkan bajunya, di lengannya ada tulisan tentang tarif sekali potret. Kami merasa dijebak, namun tetap happy karena dengan gesture yang jenaka seperti Sun Go Kong "beneran" di film. Yang mengejutkan saya adalah ketika mau bayar, dia malah mengeluarkan handphone-nya. Dia pun minta dibayar secara non-tunai. Di gadget-nya terpampang "QR Code" yang harus kami scan. Kami pun scan QR Code di handphone dia, dengan nominal pembayaran sebesar 20 Yuan.

Begitulah, masyarakat China ternyata sudah berubah perilakunya dalam bertransaksi. Pembayaran non-tunai sudah sangat biasa. Ini juga ditunjang oleh penyediaan aplikasi yang sangat memudahkan masyarakat. Seperti aplikasi medsos WeChat, platform asli buatan China, sudah ada fitur untuk pembayaran online.

Bagaimana di negara kita? Lambat laun masyarakat kita pasti akan mengalami hal yang sama. Suatu saat nanti orang lebih banyak bertransaksi dengan menggunakan handphone. Bahkan mungkin sekali pada resepsi pernikahan pihak yang punya gawe tidak menyediakan kotak sumbangan, melainkan "QR Code" yang tinggal di-scan oleh para tamu.

Pembayaran non tunai adalah salah satu inovasi dalam teknologi transaksi dekade ini yang sudah mulai merebak. Di negara kita, Menteri Dahlan Iskan yang mengenalkan dan memaksakan kita membayar dengan cara non-tunai di gerbang tol. Namun, sayangnya masih menggunakan kartu khusus dari bank, bukan menggunakan handphone.

Masyarakat China, terutama di Kota Wuhan saya lihat banyak orang yang menggunakan handphone untuk transaksi pembayaran. Secara teoritis, karakteristik inovasi jika mau digunakan masyarakat adalah apakah inovasi tersebut mempunyai manfaat atau benefit bagi penggunanya. Jika pun punya benefit, masih ada lagi yang jadi faktor penentu lainnya yakni apakah teknologi tersebut kompatibel dengan "keadaan" masyarakat apa tidak, selaras dengan calon pengguna apa tidak.

Keadaan di sini bisa berarti kemampuan masyarakat untuk menggunakan, dan kemampuan masyarakat untuk membelinya. Intinya kemampuan masyarakat untuk memenuhi persyaratan yang harus dimiliki oleh inovasi tersebut.

Kasus pembayaran non-tunai di China sudah membuktikan bahwa uang elektronik sebagai inovasi baru dalam bertransaksi sudah kompatibel dengan masyarakat, dan mendatangkan manfaat bagi pengguna sehingga dengan cepat dapat diterima masyarakat. Terlepas dari penggunaan tersebut apakah sifatnya mandatory atau dipaksakan, apa merupakan kesadaran secara sukarela dari penggunanya.

Ali Rokhman Dosen FISIP Universitas Jenderal Soedirman, Rektor Institut Teknologi Telkom Purwokerto


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed