DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 11 Desember 2018, 14:53 WIB

Kolom

Generasi yang Tak Ingin Dipahami

Muhammad Nur Alam Tejo - detikNews
Generasi yang Tak Ingin Dipahami Ilustrasi: Luthfy Syahban
Jakarta -
Generasi milenial bagi saya adalah generasi yang tidak ingin dipahami siapapun. Kontradiksi-kontradiksi hadir dan telah jadi kewajaran seolah tumbuh subur di benak para milenial.

Banyak hal yang cenderung absurd atau bahkan suram hadir di ruang-ruang virtual, yang secara sengaja, diciptakan oleh anak-anak muda pada suatu masa di mana ruang maya lebih indah ketimbang dunia nyata. Kondisi di saat waktu yang 24/7 terbuang habis di dalam parade iklan atawa meme. Tatkala ide-ide hanya berputar-putar di kepala dan tiba-tiba menguap begitu saja terhempas informasi yang hilir-mudik sedemikian derasnya.

Generasi ini mengemban beban berat masa depan ekonomi yang dengan pasrah harus dipikul. Momok lain berupa bayang-bayang kehancuran dunia akibat kerusakan lingkungan juga menghantui hari-hari para milenial yang penuh dengan ketidakpastian.

Sebagai generasi milenial saya tidak ingin menjadi nihilis dan juga tak mengelak bahwa dunia ini sebenarnya aneh cenderung tak masuk akal. Estetika sebagai panduan menuju kehalusan akal budi dan rasa dipukul mundur dengan segala horor bercampur humor. Pada akhirnya kecurigaan atas dunia yang tak masuk akal dibiarkan merayap, tak ada yang berani mengusik sebab semua orang sibuk dengan pikirannya masing-masing. Dunia tak lagi punya arti penting, dan generasi ini punya alasan tersendiri.

Banyak studi menjunjukkan tren bahwa nilai-nilai tradisional, seperti agama dan keluarga, kurang relevan dengan kehidupan anak muda dibandingkan kehidupan orangtua kita 10-20 tahun belakangan. Struktur moral yang dihasilkan milenial sudah sedemikian dilonggarkan dan digantikan dengan kecenderungan lunak yang tidak berkeadilan menuju kebaikan.

Apa lacur harus kita ucapkan selamat tinggal pada karier yang bertahan lama; generasi ini diperintahkan kuliah untuk menghasilkan uang, namun kebanyakan dari mereka hanya mengumpulkan utang dan pada akhirnya menjadi budak guna membayar utang itu. Tunda dulu pikiran untuk menikah, keinginan memiliki anak, membeli rumah, dan sederet nikmat hidup lainnya. Milenial telah menjadi sedemikian pesimistis dengan sistem politik yang korup, dan terlalu sering kesepian.

Meski tak sepenuhnya pesimistis, tapi kadang pergumulan dengan perasaan hampa dan putus asa tampaknya telah menjadi keharusan bagi generasi saya. Dunia ini bising, kita sama-sama mengamininya. Di tengah kebisingan ini ada sebuah gaya ekspresif yang diketengahkan dan menyebar di kalangan anak muda. Daripada mengembalikan makna dan merefleksikan keadaan lenyapnya emosi, gaya ini bertujuan untuk bermain dengan suasana hati serta emosi dunia yang tak terbaca.

Anonimitas sepertinya telah menubuh ke ranah paling privat, bahkan diri sendiri pun rela untuk dibohongi. Di satu sisi, era ini adalah kemajuan digital tumbuh pesat, sementara di sisi lain genre seni menjadi sedemikian nyata dan absurd sekaligus menandai gejolak di gelanggang kehidupan. Jika sudah demikian, mau dikemanakan estetika?

Saya bisa mengerti jika moralitas, doktrin religius, dan adat istiadat sudah sedemikian longgar bagi para milenial, tapi jika estetika juga sudah jadi sedemikian rapuh, apa lagi yang harus direfleksikan? Estetika sebagai sebuah filsafat kesenian yang secara longgar dapat mengakomodasi arah gerak artistik para milenial pasalnya sudah tak lagi ambil pusing soal keindahan.

Dalam sebuah puisi misalnya, para penyair milenial sudah 'bodo amat' dengan rima, aliterasi, asonansi, dan repetisi. Puisi Rupi Kaur misalnya, ia lebih memilih menggunakan bahasa yang lugas, tetapi tetap tidak sulit untuk menangkap maksudnya.

i struggle so deeply
to understand
how someone can
pour their entire soul
blood and energy
into someone
without wanting
anything in
return.
(Milk and Honey, hal. 40)

Dalam puisi itu keunikan bunyi tidak muncul sebagaimana puisi konvensional. Puisi yang lebih mirip dengan catatan harian meskipun kata-katanya tampak "indah". Hal ini merupakan salah satu ciri khas milenial yang tak ingin repot. Sesuai dengan kredo mereka "segalanya harus cepat dan mudah", pun puisi harus juga demikian. Piranti puisi tak seluruhnya hilang, majas adalah salah satunya. Majas yang dipilih pun "tidak berlebihan" sehingga tak membutuhkan waktu yang lama untuk menangkap maksudnya.

Biasanya majas yang digunakan para penyair milenial merupakan perumpamaan atau perbandingan yang dengan cepat memunculkan kesan-kesan di kepala. Inilah yang membuat pembaca mudah mengerti apa yang dimaksudkan. Sekali lagi serangkaian kontradiksi dipupuk subur dan dibiarkan menjadi suatu bentuk kegembiraan sekaligus kesuraman, yang seringkali disalahartikan menjadi hal yang indah.

Dalam seni pertunjukan, lewat Rick and Morty dan BoJack Horseman dari Netflix contohnya, seperti yang dipaparkan kritikus New Yorker Emily Nussbaum, "kesuraman dan kegembiraan" dalam "alam semesta alternatif yang penuh realitas", ditujukan untuk anak muda. Sejenis surealisme milennium yang bersifat mainstream dan sangat gelap—bertujuan meraih horizon luas psikologi anak muda yang bersandar pada perasaan khawatir, kegagalan, dan ketakutan.

Sebagai anak muda saya sepenuhnya mengerti bagaimana teman-teman sebaya saya memaknai keindahan sebagai sesuatu yang harus bebas dari segala dogma, baik dogma teoretik atau pun agama. Tapi, akan sangat mengerikan jikalau apa yang seharusnya indah seringkali dicampuradukkan dengan horor dan segala hal yang tak masuk akal. Dan, tak usah merasa spesial dengan identitas milenial yang melekat pada diri kita.

Tak ada yang unik dalam ide milenial, ia hanya merupakan jargon global di bawah budaya kapitalisme mutakhir abad ke-21, yang memberi kesan ruang gerak tak terbatas pada generasi ini. Dalam kenyataan, segala sesuatu akhirnya ditentukan oleh seberapa tebal isi dompet di dalam saku generasi tersebut.

Secara sosial dan dalam hitungan statistik, hanya sedikit yang bisa menikmati gambaran ideal konsepsi generasi milenial. Sebagian besar generasi milenial tetap dipaksa mencari siasat bertarung di pasar kerja, magang dengan iming-iming jaringan tanpa digaji, menjadi sekrup dengan gaji yang hanya cukup untuk menyambung nyawa sehari-hari. Angka-angka statistik adalah kenyataan dingin yang menyakitkan.

Sebagai anak muda kalian boleh bermimpi menjadi pembawa obor perubahan dan menjadi nahkoda gerak sejarah. Namun, catatan juga tidak berbohong bahwa perubahan bukan sekadar generasi mana yang memikul beban sejarah seperti yang sering digaungkan media masa kapitalistik. Terdapat kenyataan sosial, ekonomi, politik, dan budaya yang jauh lebih kompleks dibanding sekadar persoalan perbedaan generasional tersebut.

Rangkaian sebab-akibat yang saling kelindan tersebut membawa generasi ini ke dalam sikap absurd dalam hal apapun. Milenial laksana alegori Sisipus yang masyhur berkat tangan dingin Albert Camus. Ia dikutuk terus-menerus mendorong batu ke puncak bukit untuk kemudian menggelinding lagi ke bawah. Ia harus melakukan itu terus-menerus, dan membayangkan bahwa Sisipus bahagia melakukan kegiatan konyol tersebut.

"The absurd," tulis karya yang Albert Camus pada 1942, "is born of this confrontation between the human need (for happiness and reason) and the unreasonable silence of the world." Absurditas di sini merupakan suatu keharusan untuk pencarian makna yang tidak ada sama sekali di sana. Bentuk surealisme absurd ini menarik untaian aspek bersama dengan humor menciptakan dunia yang aesthetic.

Dengan kata lain, ia telah menciptakan "sialan, nggak ada yang penting" tanpa tedeng aling-aling menjadi hal yang baik-baik saja. Semuanya menjadi sah di hadapan dunia yang absurd. Dalam kesenian, milenial cenderung—dalam istilah Baudrillard—menciptakan simulacrum, yaitu salinan yang tak punya hubungan sama sekali dengan hal asli yang disalinnya.

Simulakrum, dengan kata lain, adalah salinan dari dirinya sendiri. Kita menjadi kesulitan—atau malah memaklumi?—menilai mana karya seni yang sungguh-sungguh menggugat tatanan, sebab semua karya selalu dapat diintegrasikan sebagai komponen dari tatanan itu sendiri. Sejak Marcel Duchamp dengan karyanya Fountain (1917) dan memuncak pada Andy Warhol, segala sesuatunya bisa menjadi karya seni lagi.

Menurut Baudrillard, riwayat karya seni rupa abad ke-20 sampai era pop art pada dekade 1960-an sebagai orgy artistik yang menghasilkan kebaruan terakhir dalam sejarah seni rupa hari ini. Fenomena perluasan kategori estetis pada wilayah kenyataan yang tadinya non-estetis, disebut trans-estetika oleh Baudrillard. Hal yang marak dalam budaya indie era sekarang yang berusaha mencabut segalanya dari konteks, walhasil segalanya sah-sah saja atas nama seni.

Segalanya telah menjadi estetis sekaligus non-estetis dengan sendirinya. Tak ada lagi beda antara objek estetis dan objek non-estetis. Ketika seni dan non-seni tak lagi bisa dipilah, estetika kehilangan fungsinya. Apa yang tersisa bagi estetika hanyalah tinggal konspirasi-konspirasinya saja. Hanya sebuah desas-desus yang merayap mengiringi tiap-tiap karya seni. Seperti halnya cerita kuping Vincent van Gogh lebih menarik daripada karya seni yang ia ciptakan.

Lalu, pada akhirnya estetika milenial hanya perkara gosip belaka. Tak ada yang baru di belantara kesenian milenial, semua tergantung apa tebal isi dompet dan relasi sosial yang melingkupinya.

Muhammad Nur Alam Tejo mahasiswa Filsafat UGM 2015, penikmat sastra, film, dan filsafat; editor Lingkar Studi Filsafat Cogito


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed