DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Rabu 05 Desember 2018, 14:03 WIB

Kolom

Pendidikan Inklusi bagi Anak Difabel

Muhammad Khambali - detikNews
Pendidikan Inklusi bagi Anak Difabel Bocah difabel di Sukabumi (Foto: Syahdan Alamsyah)
Jakarta - Tanggal 3 Desember lalu dirayakan sebagai Hari Disabilitas Internasional. Tahun ini, peringatan di Tanah Air mengambil tema "Indonesia Inklusi dan Ramah Disabilitas". Tema tersebut dapat menjadi pengingat pada gagasan pendidikan untuk semua. Hak, kesempatan, kesetaraan, dan akses yang sama menjadi isu penting dalam dunia pendidikan mutakhir. Termasuk bagi anak-anak difabel atau anak berkebutuhan khusus. Mereka berhak memiliki pintu-pintu yang sama untuk dapat belajar di sekolah seperti anak-anak yang lain.

Perkembangan ilmu pendidikan kiwari memang menekankan humanisme dan menghargai adanya perbedaan setiap individu. Setiap anak dianggap unik, memiliki kebutuhan, kemampuan, dan potensi yang berbeda-beda. Karenanya, sistem pendidikan usang yang masih memukul rata kemampuan setiap anak disebut sebagai pembelajaran klasikal. Dalam pembelajaran klasikal, setiap anak dalam satu kelas dianggap memiliki kemampuan yang seragam. Maka, tujuan, materi, metode, dan penilaian hasil belajar yang diberikan pada setiap anak adalah sama.

Lawan dari pembelajaran klasikal adalah pembelajaran individual. Dalam sistem ini, anak menjadi pusat proses belajar. Artinya, apabila memang dibutuhkan, setiap anak dapat memiliki tujuan, materi, metode, dan penilaian hasil belajarnya tersendiri. Anak-anak dapat belajar dalam satu ruang kelas yang sama, dalam kegiatan belajar yang sama, tetapi setiap anak memiliki kebutuhan belajar yang berbeda dan khas. Gagasan pembelajaran individual ini menjadi ide awal lahirnya pendidikan inklusi.

Saat ini, di kota-kota, pemerintah mulai menunjuk sekolah untuk menyelenggarakan pendidikan inklusif. Perlahan tumbuh kesadaran kolektif untuk menyediakan kesempatan pendidikan yang sama bagi difabel. Kesadaran bahwa anak-anak difabel semestinya dapat bersekolah di sekolah reguler seperti anak-anak pada umumnya. Bahkan, antusiasme ini dicanangkan oleh beberapa kota dengan mendeklarasikan sebagai kota inklusif.

Meskipun demikian, pendidikan inklusi memiliki banyak tantangan dalam praktiknya di sekolah. Richard Rieser (2000) dalam esai Special Educational Needs or Inclusive Education: The Challenge of Disability Discrimination in Schooling mengungkapkan bagaimana di Inggris pun praktik pendidikan inklusi tidaklah mudah. Banyak hambatan dari lingkungan yang tidak ramah dan menyulitkan anak-anak difabel belajar. Bagi Richard Rieser, agar dapat terselenggara secara efektif, sebuah sekolah inklusi harus mengadopsi cara pandang social model terhadap difabel.

Dalam mengadopsi social model ini, para guru dan sekolah mesti peduli terhadap tantangan yang menghambat pendidikan inklusi. Yakni, hambatan fisik, komunikasi, sosial, dan kurikulum. Misalnya, hambatan fisik terjadi ketika tata arsitektural gedung sekolah dan media pembelajaran yang mungkin tidak aksesibel untuk anak difabel. Lalu, hambatan komunikasi seperti tidak adanya pemahaman mengenai kebutuhan akan bahasa isyarat dan huruf braille.

Hambatan lain yang mungkin dihadapi oleh anak difabel adalah dalam membangun pertemanan. Anak difabel cenderung kesulitan berteman, sehingga senantiasa dijauhi dan terisolasi dari anak yang lain. Banyak kasus terjadi di sekolah-sekolah inklusi ketika anak difabel menjadi bahan olok-olok dan mendapat perundungan dari teman-temannya.

Terakhir, tantangan yang paling sering terjadi adalah kurikulum. Saat ini, kurikulum di sekolah inklusi seperti materi, metode, dan sistem evaluasi belajar masih diskriminatif terhadap anak-anak difabel. Padahal, tanpa adanya penyesuaian dan akomodasi dalam kurikulum, anak-anak difabel akan kesulitan dalam mengikuti proses belajar di sekolah inklusi.

Adanya tantangan dalam pendidikan inklusif tersebut yang sering kali menjadi dalih sebuah sekolah untuk beranggapan bahwa mereka tidak akan mampu belajar. Kita tidak hidup dalam dunia yang terpisah, tetapi kadang bersikap memisahkan orang-orang yang kita anggap berbeda. Sistem pendidikan kita yang masih menggunakan pendekatan standarisasi dan kompetisi telah mengesahkan cara pandang demikian.

Anak-anak berkebutuhan tentu saja membutuhkan pendekatan sistem dan layanan pendidikan yang berbeda dan mengakomodasi keberagaman. Anak-anak difabel membutuhkan rancang-bangun pendidikan yang tidak menghakimi kekurangan fisik, kognitif, maupun perilaku sebagai masalah belajar. Helen Keller yang buta-tuli dalam bukunya The World I Live in (1908) mengutarakan, "Secara umum bisa dikatakan, kita menempuh jalan yang sama, membaca buku yang sama, berbicara dalam bahasa yang sama. Namun yang kita alami sangat berbeda." Bagi Helen, "Tangan bagiku sama artinya dengan penglihatan dan pendengaran bagimu."

Bila anak-anak yang dapat melihat membaca dengan mata mereka, maka anak-anak difabel netra membaca melalui jarinya-jari pada huruf braille dan mendengarkan lewat audiobook. Bila anak-anak yang dapat mendengar berkomunikasi secara lisan, maka anak-anak difabel rungu berkomunikasi dengan bahasa isyarat dan dengan alat bantu dengar. Mereka sama dan mampu untuk belajar, hanya saja cara belajarnya yang khusus dan unik.

Gagasan inklusi adalah menciptakan pendidikan yang melihatnya kekurangan dalam diri individu sebagai hal yang perlu diakomodasi, melalui pembelajaran yang berfokus untuk menggali kemampuan, kelebihan, minat, dan bakat yang dimiliki anak. Mike Oliver, pengajar dan aktivis difabel di Inggris pernah berujar, ide pendidikan inklusi sangatlah politis. Inklusi tidak sebatas regulasi untuk memindahkan anak difabel dari sekolah luar biasa (SLB) ke sekolah umum, namun menyangkut proses mengubah etos sekolah untuk penuh komitmen menyediakan pendidikan yang menghargai dan merayakan perbedaan individu.

Setiap anak dapat belajar. Anggapan anak difabel tidak mampu atau tidak kompeten seolah mengizinkan seorang guru untuk menghilangkan kesempatan belajar anak. Artinya, tidak mencoba melihat apapun kecuali kegagalan. Sebaliknya, berpandangan bahwa anak mampu belajar memungkinkan seorang guru untuk dapat menghargai anak secara setara. Dengan kata lain, memerlukan sebuah cara pandang yang demokratis, dan komitmen pada keadilan. Adanya keyakinan bahwa setiap anak mampu belajar dapat membuat arti pendidikan menjadi hidup dan berjiwa.

Muhammad Khambali pengajar di sekolah buta-tuli di Jakarta, peneliti pendidikan di Pustaka Kaji

(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed