ADVERTISEMENT

Kolom

Setelah Paus Mati di Wakatobi

Lamtiur Junita - detikNews
Jumat, 30 Nov 2018 13:16 WIB
Sampah plastik di laut (Foto: Pradita Utama)
Jakarta -

Baru-baru ini, masyarakat Indonesia di gemparkan dengan seekor paus yang menelan 115 plastik di Wakatobi. Setelah di akumulasikan ternyata mencapai 5.9 kg. Ini tentu membuat miris. Sampah plastik ini telah menjadi makanan untuk si paus. Keberadaan plastik di laut telah berhasil mengelabui sang paus seakan-akan plastik itu adalah makanannya. Wakatobi yang dikenal sebagai tempat wisata dan menjadi habitat hewan laut ternyata memberikan insecure place untuk keberlangsungan paus dan hewan-hewan lainnya.

Mari kita telusuri apa yang menyebabkan plastik ini "singgah" di perut paus tersebut.

Pola konsumsi manusia terhadap plastik tentu saja menggenjot produsen plastik untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Botol minuman air, sedotan, packaging untuk makanan, packaging untuk produk kecantikan, dan banyak produk lainnya yang menggunakan plastik. Mirisnya, produk-produk sekali pakai itu sering tidak didaur ulang secara sempurna. Tidak mengagetkan jika populasi di Indonesia berbanding lurus dengan banyaknya jumlah sampah plastik yang mencapai dan tersebar di lautan.

Setelah terbuang ke lautan, paus tidak bisa membedakan plastik itu adalah makanannya atau tidak. Alhasil, sang paus menelan plastik itu secara tidak sengaja. Lantas apakah masalah plastik ini hanya sampai di paus saja? Tentu tidak. Selain paus, banyak hewan-hewan laut lainnya yang akan menjadi tempat persinggahan sampah plastik.

Kemampuan plastik berdegradasi dengan lingkungan membutuhkan waktu puluhan tahun dan akan tetap membuatnya berakumulasi dan menumpuk. Jika terus dibiarkan berada di lautan, sampah plastik tersebut akan berfragmentasi atau pecah menjadi ukuran yang lebih kecil karena paparan sinar matahari, air, angin, dan pergesekan dengan benda-benda lain.

Bahaya yang ditimbulkan selanjutnya adalah bahaya baru. Manusia kemudian akan secara langsung mengkonsumsi plastik dengan ukuran kecil (mikroplastik) lewat konsumsi ikan. Ikan-ikan laut yang lebih kecil dari paus akan menjadi tempat persinggahan sang plastik. Jika termakan, inilah yang dapat mengganggu kesehatan. Senyawa kimia dalam plastik dapat mengganggu fungsi hormon estrogen pada perempuan yang berakibat pada masalah reproduksi, kerusakan otak, dan mengandung zat karsinogenik atau zat yang menyebabkan kanker.

Hal inilah mengapa kasus kematian paus di Wakatobi akibat sampah merupakan teguran keras untuk masyarakat Indonesia bahwa ancaman sudah sangat jelas di depan mata. Tinggal memilih untuk membiarkan ancaman tersebut mendekati lebih dekat lagi atau memilih menghadapinnya lewat kemampuan logis dan praktis.

Itulah mengapa peranan pemerintah sangat dinantikan dalam mencegah dampak-dampak lebih lanjut dari plastik ini. Daur ulang saja tidak cukup. Butuh sebuah kebijakan yang berani. Sebagai contoh, pemerintah Taiwan pada 2018 telah melarang penggunaan kantong plastik pada toko penjual minuman bubble tea. Pada 2019 direncanakan mengimplementasikan program pengendalian penggunaan sedotan dengan pelarangan penggunaan sedotan.

Kebijakan pemerintah tersebut didukung oleh penelitian-penelitian terhadap sampah plastik di Taiwan. Pemerintah Indonesia bisa meniru kebijakan pemerintah Taiwan dengan mendukung penelitian-penelitian terhadap plastik dan menerapkan pelarangan-pelarangan serupa.

Pelarangan penggunaan kantong plastik harusnya benar-benar tegas, bukan sekadar "coba-coba" dengan menetapkan kebijakan membayar plastik di supermarket. Kebijakan tersebut tidak merangsang masyarakat untuk peduli akan keberlangsungan ekosistem. Bayar segitu murah, toh tidak masalahlah.

Keberanian pemerintah menetapkan kebijakan demi sustainability sumber daya alam laut, sungai, dan pantai adalah sebaiknya dengan mengedukasi masyarakat. Kampanye tentang bahaya konsumsi plastik bagi ekosistem laut seharusnya menjadi fondasi dasar pemerintah untuk mengembangkan kebijakan lanjutan seperti cukai plastik maupun pelarangan penggunaan jenis plastik tertentu.

Dengan begitu, tidak hanya pemerintah yang kerja sendiri. Masyarakat juga perlu diberikan stimulan positif untuk memikirkan kondisi lingkungannya. Kampanye di sekolah-sekolah, universitas, tempat kerja, dan tempat-tempat tongkrongan anak muda secara visual dan verbal akan mendorong masyarakat untuk mengubah pola perilakunya.

Sebagai contoh perilaku sederhana yaitu mengurangi pola konsumsi membeli air minum kemasan setiap hari dengan membawa botol air minuman pribadi yang bisa dipakai berulang-ulang.

Pemerintah juga akan sangat terbantu dengan kepedulian masyarakatnya. Pembersihan sampah plastik di laut juga dapat diminimalisasi jika masyarakat mampu mengendalikan pola konsumsi plastik. Pantai-pantai di Indonesia akan tetap terjaga keindahannya tanpa keberadaan sampah plastik.

"Kesehatan" ekosistem laut akan selalu bersinggungan dengan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian sustainability yang diharapkan benar-benar bisa diwujudkan, dan tidak ada paus-paus atau hewan lain yang ikut "mencicipi" sampah plastik tersebut.

Lamtiur Junita peneliti mikroplastik dan alumnus Taipei Medical University Taiwan, penggiat peduli lingkungan dan sosial

(mmu/mmu)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT