detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Kamis 22 November 2018, 12:06 WIB

Kolom

Twitter, Minyak, dan Politik

Herry Darwanto - detikNews
Twitter, Minyak, dan Politik Foto: Reuters
Jakarta -

Presiden AS Donald Trump membuat cuitan di Twitter-nya pada Seni (12/11) sore, mengatakan agar Arab Saudi dan OPEC tidak mengurangi produksi minyak mereka. Trump ingin agar harga minyak dunia turun kembali setelah pada Senin paginya waktu AS, Arab Saudi dan negara-negara produsen minyak memperlihatkan sinyal akan mengurangi produksi minyak, yang berarti harga minyak dunia bakal naik. Rupanya cuitan tadi cukup sakti. Beberapa jam kemudian harga minyak kembali turun.

Sebelumnya, persisnya pada Juni lalu, Trump sudah mewanti-wanti agar OPEC menaikkan produksinya karena suplai minyak dunia akan berkurang akibat AS menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran. Selain itu situasi politik dalam negeri di Venezuela dan Libya juga menyebabkan turunnya produksi minyak dunia. Tanpa penambahan pasokan, harga minyak dunia akan naik. Ini yang tidak dikehendaki Trump.

Trump memang sangat peka terhadap fluktuasi harga minyak dunia. Ini karena harga minyak cukup berpengaruh terhadap kelangsungan pemerintahannya. Jika harga minyak dunia naik, maka harga minyak di AS juga naik. Kenaikan harga minyak akan menambah beban bagi warga AS yang memerlukan minyak untuk penghangat ruangan saat musim dingin dan penyejuk ruangan saat musim panas.

Jika warga AS merasa beban hidupnya bertambah, maka sebagai balasannya mereka tidak akan memilih calon anggota DPR (Congress) dan DPD (Senat) dari Partai Republik yang sedang berkuasa. Jika Partai Republik kalah pada pemilu sela November ini, maka Trump akan sulit membuat keputusan yang memerlukan persetujuan DPR dan DPD. Kemungkinan untuk terpilih kembali pada periode ke-2 pemerintahannya juga akan terancam, jika ia membuat kebijakan yang membuat rakyat AS kesal karena harga BBM naik.

Itulah sebabnya Trump sangat jeli melihat perkembangan harga minyak dunia. Ia cepat bereaksi jika harga minyak akan berubah di luar harapannya, dengan langsung membuat cuitan. Terlihat keputusannya dibuat tanpa harus dirapatkan terlebih dahulu dengan para pembantunya. Memang inilah ciri Trump: spontan, lugas, dan gesit. Konsekuensinya memang ada, yaitu dicemooh orang jika cuitannya atau tutur katanya tidak sesuai dengan logika umum, seperti pada saat Sidang Umum PBB yang lalu.

Namun, tidak selalu keinginan Trump direspons dengan positif dan cepat oleh negara-negara anggota OPEC, walaupun di dalamnya ada Arab Saudi yang menjadi sekutu terdekat AS. Contohnya pada Juni lalu Trump meminta Arab Saudi untuk meningkatkan produksi minyak sehubungan dengan menurunnya pasokan minyak dari Venezuela, Libya, dan Iran. Namun, pada 11 November Arab Saudi justru menyatakan akan memangkas ekspor minyak sebanyak 500 ribu barel per hari untuk menaikkan harga minyak.

Bagaimanapun, pengaruh AS dalam menentukan harga minyak dunia memang cukup besar. Pasalnya, AS bisa menggelontor pasar minyak dunia dengan pasokan minyak serpihnya. Jika kompromi tidak terwujud, maka akan terjadi perang dagang antara AS dengan negara-negara anggota OPEC. AS ingin harga minyak stabil, sebaliknya OPEC ingin agar harga minyak terus naik.

Sementara itu, perang dagang AS vs China masih belum terlihat mereda. Jika China memasukkan minyak impor dari AS ke dalam daftar 545 produk yang akan dinaikkan tarif impornya, sebagai retaliasi terhadap kebijakan serupa oleh AS, maka perang dagang minyak akan semakin ramai. Dunia agaknya sedang dirundung ketidakpastian yang cukup gelap.

Indonesia bisa terombang-ambing oleh perang minyak tersebut. Harga BBM di dalam negeri akan bisa naik dan turun dengan cepat, menyebabkan dunia usaha dan warga kebanyakan bertambah susah karena harus mengatur keuangan yang terbatas dengan cermat.

Inilah realitas politik yang ada di depan kita. Pemerintah dan para calon presiden harus memikirkan jalan keluar sebaik-baiknya dari fluktuasi harga minyak dunia agar rakyat Indonesia tidak terkena dampak negatif dari keputusan politik yang dibuat oleh negara-negara lain.

Herry Darwanto pemerhati ekonomi




(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed