DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Rabu 21 November 2018, 14:17 WIB

Kolom

Di Balik Penguatan Rupiah

Teguh Santoso - detikNews
Di Balik Penguatan Rupiah Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -
Rupiah menjadi mata uang terkuat di Asia terhadap dolar AS sejak 1 November 2018 ini. Selama 9 hari diperdagangkan, kurs rupiah terhadap dolar AS secara rata-rata terapresiasi sebesar -0.57%. Faktor eksternal yakni kondisi ekonomi-politik AS dan stabilitas ekonomi domestik ditengarai menjadi penyebab penguatan rupiah.

Ekonomi-Politik AS

Dalam beberapa pekan terakhir, kurs dolar melemah terhadap mata uang negara lain, termasuk rupiah. Penurunan Manufacturing Purchasing Manager Index (PMI) --indeks manajer pembelian sektor manufaktur-- menjadi salah satu penyebab pelemahan dolar. PMI adalah indikator yang mengukur perkembangan sektor industri yang dihasilkan dari survei terhadap setiap manajer pembelian sebuah perusahaan.

Indeks PMI dianggap investor sebagai leading indicator bagi keadaan perekonomian, karena dapat gambaran mengenai hasil penjualan, upah, persediaan barang, dan tingkat harga. Tinggi-rendahnya PMI sangat berpengaruh pada kenaikan nilai mata uang lokal. Jika PMI suatu negara naik, maka mata uang negara tersebut akan menguat dan sebaliknya.

Per 31 Oktober 2018, PMI AS sebesar 57.7 atau turun 2.1 poin (3.51%) dibanding September sebesar 59.8. Penurunan PMI dapat menjadi indikasi bahwa sektor manufaktur AS tengah dalam kondisi kontraksi. Kalangan investor di berbagai sektor manufaktur memandang pesimis terhadap performa industri AS. Kondisi ini merupakan dampak dari perang dagang AS-China yang terus mendalam. Tarif impor untuk produk China dikenakan sangat besar, terdapat kenaikan hampir 50% beban tarif yang ditanggung produsen AS. Kondisi tersebut tentu saja mengganggu kinerja produksi, terutama sektor manufaktur yang memiliki ketergantungan bahan baku impor, utamanya dari China, seperti baja dan aluminium.

Benar saja, rilis survei PMI tersebut langsung direspons pasar yang terlihat dari pelemahan dolar terhadap banyak mata uang di berbagai kawasan. Pada 1 November 2018, dolar langsung menukik, banyak mata uang lain menguat tajam. Rupiah menguat (-1.55%), lira (-0.92%), dolar Singapura (-0.69%), yuan (-0.675), bath (-0.66%), yen (-0.33%), dan ringgit menguat (-0.09%). Artinya, aspek mikro dari kondisi sektor manufaktur AS menjadi pertimbangan bagi pelaku pasar untuk menahan investasi di sektor keuangan Amerika, yang membuat pergerakan dolar berbalik arah.

Selain kinerja sektor manufaktur AS, situasi politik AS juga disinyalir berkontribusi terhadap pelemahan dolar. Kemenangan Partai Demokrat pada pemilu sela turut andil dalam arah ekonomi AS. DPR AS yang saat ini didominasi politis demokrat dapat melakukan kontrol berbagai kebijakan pemerintah, utamanya yang perlu dituangkan dalam undang-undang, seperti anggaran pemerintah. Pemerintahan Trump memang menjalankan anggaran longgar, dengan melakukan pemotongan pajak dan pengeluaran yang besar untuk anggaran pertahanan dan keamanan.

Dengan potensi Partai Demokrat dapat melakukan kontrol terhadap kebijakan Presiden Trump dalam bidang anggaran, maka kondisi tersebut sangat berpengaruh terhadap kondisi fiskal AS. Imbal hasil investasi di sektor keuangan AS akan terdampak. Dengan potensi pengurangan anggaran pemerintah (potensi penerbitan bond berkurang), maka imbal hasil investasi di pasar keuangan AS akan menurun. Investor akan mengalihkan portofolio investasi ke negara-negara yang memberikan imbal hasil investasi yang lebih tinggi serta memiliki stabilitas ekonomi dan politik yang lebih terjaga.

Stabilitas Ekonomi Domestik

Investor memandang Indonesia memiliki stabilitas makro yang baik, terlihat dari capaian pertumbuhan ekonomi dan laju inflasi yang terkendali dengan prospek ekonomi yang baik. Pada Kuartal III-2018 ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5.17%, naik 0.11% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Laju inflasi pada Oktober 2018 juga terkendali pada level 3.16% (y-o-y). Meski lebih tinggi dibanding tingkat inflasi September sebesar 2.88%, namun realisasi inflasi Oktober masih di bawah sasaran inflasi Bank Indonesia sebesar 3.5±1%. Kenaikan laju inflasi Oktober lebih disebabkan kenaikan harga BBM non-subsidi dan harga beberapa komoditas pangan. Sementara itu, inflasi inti relatif stabil.

Namun demikian, Indonesia masih memiliki masalah mendasar yakni defisit neraca transaksi berjalan. Per Oktober 2018, neraca transaksi berjalan Indonesia mencatatkan defisit sebesar 8,8 miliar dolar AS atau 3,37% PDB. Meningkat cukup besar dibanding defisit September 2018 sebesar 8,0 miliar dolar AS atau 3,02% PDB. Secara kumulatif, pada 2018 Indonesia mencatatkan defisit sebesar 2.86%. Meski masih di bawah batas aman yakni 3% dari PDB, namun jika defisit semakin melebar, akan berdampak pada potensi pelemahan rupiah dan stabilitas makroekonomi.

Upaya Struktural

Dari sisi penyebab, penguatan rupiah masih sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal. Artinya, rupiah sangat riskan terhadap apa yang terjadi di AS dan global. Jika yang terjadi merupakan situasi yang menguntungkan, seperti penurunan kinerja ekonomi AS dan potensi penurunan imbal hasil investasi, maka rupiah akan menguat. Namun, jika sebaliknya, rupiah sering dibuat tak berdaya melawan laju dolar. Dengan demikian, guna mengantisipasi kerentanan tersebut, diperlukan upaya yang bersifat struktural, yakni menekan defisit neraca transaksi berjalan.

Menekan defisit memang bukan merupakan upaya instan, melainkan upaya struktural yang mencakup berbagai aspek, utamanya daya saing produk ekspor. Perbaikan daya saing perdagangan jasa juga perlu dilakukan disamping memperkuat daya saing produk andalan ekspor seperti manufaktur, komoditas dan migas. Langkah awal yang dapat dilakukan dalam perbaikan daya saing perdagangan jasa adalah memperbaiki neraca perdagangan internasional jasa yang dinilai belum mencerminkan transaksi riil perdagangan jasa Indonesia.

Teguh Santoso dosen Departemen Ilmu Ekonomi FEB Unpad dan peneliti pada Center for Economics and Development Studies-FEB Unpad




(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed