DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Rabu 21 November 2018, 13:40 WIB

Kolom

Tantangan Pertumbuhan Kredit

Abdul Manap Pulungan - detikNews
Tantangan Pertumbuhan Kredit Foto: Dok. Bank Indonesia
Jakarta -

Aktivitas perekonomian tidak dapat dipisahkan dengan sektor keuangan. Keberadaan mereka menjamin ketersediaan dana pembangunan. Secara filosofi, sektor keuangan dapat menyeimbangkan antara pihak kelebihan (surplus) dana dengan pihak kekurangan (defisit) dana. Melalui peran intermediasi keuangan tersebut, ekonomi dapat tumbuh lewat pembiayaan usaha-usaha produktif.

Dalam menyediakan sumber pembiayaan, sektor keuangan sudah berevolusi. Dahulu, sebagian besar sektor keuangan didominasi lembaga keuangan bank. Secara bertahap lembaga keuangan non-bank seperti pasar modal, asuransi, dana pensiun mulai berkembang. Negara-negara maju sudah menikmati peranan lembaga keuangan non-bank karena diikuti dengan peningkatan keterlibatan masyarakat. Di China misalnya, kekuatan pasar modal sangat bergantung pada oleh aktivitas residen.

Di Indonesia, sebagian besar aktivitas sektor keuangan masih bertumpu pada perbankan. Hal itu tergambar dari beberapa ukuran, misalnya lewat indeks literasi dan indeks inklusi keuangan. Hasil survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2016 menyimpulkan bahwa indeks literasi keuangan pada sektor perbankan lebih tinggi dibandingkan lembaga keuangan non-bank.

Data OJK mencatat, indeks literasi keuangan di sektor perbankan mencapai 28,94%, lebih tinggi dari asuransi (15,76%), dana pensiun (10,91%), lembaga pembiayaan (13,05%), pegadaian (17,82%), dan pasar modal (4,4%). Sementara itu, indeks inklusi perbankan mencapai 63,63%, sedangkan pada lembaga keuangan non-bank masih di bawah 13%.

Faktor Suku Bunga

Aktivitas penghimpunan dan penyaluran dana akan berhubungan dengan tingkat suku bunga atau harga dana. Kajian ini sebetulnya sudah dibahas sejak lama. Teori klasik soal suku bunga atau lazim disebut loanable funds theory, misalnya, menjelaskan hubungan positif antara minat menabung dengan suku bunga. Kondisi yang berkebalikan antara minat meminjam dana dan suku bunga. Sehingga, saat suku bunga tinggi, maka aktivitas investasi akan menurun, demikian sebaliknya.

Persoalan suku bunga dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal bank. Dari sisi internal, beberapa di antaranya adalah biaya dana (cost of fund) dan efisiensi bank. Dalam kaitannya dengan cost of fund, bank-bank besar diuntungkan oleh skala bisnis seperti jaringan kantor hingga teknologi informasi. Dengan keunggulan tersebut, bank besar dapat memperoleh dana murah lewat tabungan dan simpanan giro. Ketika cost of fund lebih murah, bank-bank besar dapat menetapkan bunga pinjaman. Kelompok bank besar juga tidak begitu sensitif terhadap perubahan lingkungan eksternal seperti penyesuaian suku bunga acuan.

Pengaruh lingkungan eksternal dapat hadir dari berbagai sumber, baik dari dalam maupun luar negeri. Biasanya, faktor dalam negeri terpengaruh oleh gejolak dari luar negeri. Sepanjang 2018, faktor pendorong kenaikan suku bunga terendus oleh gejolak global. Pertama, kenaikan harga minyak menyebabkan depresiasi mendalam pada nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan rupiah bertransmisi pada inflasi dari sisi impor (imported inflation) karena peningkatan kebutuhan valas untuk memenuhi impor. Hal ini akan mengerek suku bunga bank ke level lebih tinggi.

Kedua, suku bunga The Fed masih menjadi penentu pergerakan modal asing di negara-negara pasar berkembang, termasuk Indonesia. The Fed memaksa suku bunga acuan di negara-negara berkembang terkerek. Sepanjang 2018, The Fed sudah menaikkan 75 basis poin (bps), sehingga suku bunga acuan AS berada pada interval 2-2,25%. Sementara itu suku bunga acuan di Indonesia sudah naik dua kali lipat kenaikan The Fed, mencapai 150 bps, menjadi 5,75%.

Lonjakan suku bunga acuan tersebut juga menggiring naiknya imbal hasil (yield) obligasi di kedua negara. Yield obligasi Indonesia (5 tahun) mencapai 8,28%; sedangkan yield T-Bill (5 tahun) mencapai 3%. Sehingga, perbedaan yield sudah mencapai 5,28%.

Selain tekanan dari faktor global, lonjakan suku bunga juga dipengaruhi intervensi pemerintah di dalam perekonomian, terutama terkait dengan aktivitas sektor fiskal. Salah satu yang masih hangat adalah rencana pemotongan pajak penghasilan (PPh) final dari bunga obligasi pemerintah. Meski bertujuan untuk menekan imbal hasil obligasi pemerintah, kebijakan tersebut akan mempengaruhi likuiditas bank. Rencana tersebut bukan sesuatu yang baru, karena sejak 2016 sudah sempat dibahas oleh regulator. Saat itu, PPh ditetapkan hingga 0%.

Belied terkait dengan PPh bunga obligasi yang berlaku saat ini adalah PP No. 100 Tahun 2013. Wajib Pajak (WP) dan Badan Usaha Tetap (BUT) dalam negeri dikenakan PPh 15%, sedangkan WP luar negeri selain BUT sebesar 20% atau sesuai dengan tarif berdasarkan persetujuan penghindaran pajak berganda.

Rencana pemotong PPh final bunga obligasi berpengaruh terhadap daya tarik bagi investor. Selain dengan suku bunga yang relatif tinggi dibandingkan deposito bank, obligasi pemerintah lebih likuid karena dapat dicairkan lebih cepat. Sementara itu, deposito bank mensyaratkan pengendapan dana pada jangka waktu tertentu. Jika dicairkan, maka deposan akan dikenakan pinalti.

Ada beberapa kondisi yang perlu dipertimbangkan sebelum mengeksekulasi rencana tersebut. Pertama, kondisi likuiditas bank. Harus dipahami, bahwa sumber pembiayaan perekonomian masih ditopang oleh sektor perbankan. Menurut data OJK, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada September 2018 hanya terakselerasi 6,6% (yoy); lebih rendah dari pertumbuhan kredit mencapai 12,98 % (yoy). Pertumbuhan DPK yang lebih rendah dari pertumbuhan kredit menggambarkan kekeringan likuiditas di bank. Jika kebijakan tersebut diluncurkan, maka likuditas bank semakin tergerus.

Pada September 2017, pertumbuhan DPK masih lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan kredit masing-masing 11,69% (yoy) dan 7,93% (yoy). Sementara itu, pertumbuhan giro melambat dari 12,73% (yoy) pada September 2017 menjadi 9,59% (yoy) pada September 2018. Simpanan berjangka, hanya tumbuh 3,17% (yoy) sepanjang September 2018; menurun dari 12,53% (yoy) pada September 2018. Dengan porsi simpanan deposito 1 bulan mencapai 46% dari total deposito, sehingga memiliki peranan penting bagi ketersediaan dana di bank.

Kedua, daya saing bank nasional di tengah-tengah keterbukaan ekonomi. Tentu, rencana pemotongan PPh final akan mengerek naik suku bunga bank, padahal saat ini levelnya sudah jauh lebih tinggi dibandingkan negara lain. Suku bunga kredit di Malaysia hanya 4,9%; Filipina 5,9%; sedangkan di Indonesia masih bergerak pada level 10%. Suku bunga yang lebih tinggi berpengaruh terhadap efisiensi dan kinerja bank. Bagi perekonomian, suku bunga tinggi mempengaruhi realisasi kredit, investasi, hingga pertumbuhan ekonomi.

Dengan memperhatikan kondisi di atas, regulator perlu mengkaji berbagai dampak kebijakan yang akan diambil, sehingga tidak kontraproduktif terhadap aktivitas pembiayaan, terutama di sektor perbankan. Hal ini sangat krusial karena menentukan efektivitas fungsi intermediasi dan daya saing di regional.

Abdul Manap Pulungan peneliti Indef


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed