DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 16 November 2018, 15:46 WIB

Kolom

Layakkah Motor Listrik Nasional Gesits Diproduksi Massal?

Jacob F N Dethan - detikNews
Layakkah Motor Listrik Nasional Gesits Diproduksi Massal? Presiden Jokowi menjajal motor listrik Gesits (Foto: Andhika)
Jakarta -
Presiden Joko Widodo terlihat begitu bahagia saat menjajal motor listrik nasional yang dinamai Gesits. Seraya melontarkan berbagai pujian untuk produk dalam negeri ini, Presiden menyatakan akan membeli 100 unit. Direktur PT GTI Zaki Nahdi Saleh juga menyatakan bahwa sudah ada pre-order 30.000 unit.

Harga motor ini ditaksir dapat bersaing dengan harga motor matic berbahan bakar bensin umumnya. Motor ini juga dinyatakan dapat menempuh jarak 80-100 kilometer dengan kecepatan 100 kilometer per jam. Sekilas, masyarakat akan dibuat tertarik untuk memiliki kendaraan roda dua ini dengan adanya kelebihan, seperti tidak adanya kebisingan dan ramah lingkungan yang ditawarkan motor listrik ini.

Masalah utama dari motor Gesits adalah motor ini menggunakan baterai lithium ion yang memerlukan setidaknya 3 jam untuk proses pengisian ulang daya baterai dari kosong sampai level penuh. Zaki Nahdi Saleh menyatakan bahwa akan ada sekitar 10 SPBU di Jakarta yang menyediakan fasilitas pengisian baterai.

Pemerintah juga telah menyadari bahwa tidak mungkin masyarakat diminta menunggu selama 3 jam hanya untuk melakukan proses pengisian baterai di SPBU. Oleh karena itu pemerintah telah mempersiapkan sistem penukaran baterai di SPBU yang ditentukan, sehingga masyarakat dapat langsung menukarkan baterai yang hampir habis dengan baterai yang sudah terisi penuh tanpa harus menunggu selama 3 jam. Hal ini membuat motor tersebut sangat menarik untuk digunakan.

Namun, ada beberapa hal yang harus benar-benar dengan serius dipertimbangkan oleh pemerintah. Dengan jumlah motor listrik yang relatif sedikit, proses penukaran baterai masih bisa ditanggulangi dengan mudah. Tapi, akan sangat berbeda ketika jumlah pemakai motor ini sudah mencapai puluhan ribu, ratusan ribu, bahkan jutaan. Tentunya baterai kosong yang ditukarkan oleh pengguna harus dilakukan pengisian ulang oleh pihak SPBU yang membutuhkan waktu 3 jam per baterainya.

Berapa banyak charger yang harus disediakan di setiap SPBU? Apakah sumber daya manusia dan peralatan yang akan disediakan sanggup menghadapi jumlah pengisian baterai secara signifikan?

Sampai saat ini, sudah dilakukan penelitian oleh universitas dalam negeri seperti Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Sebelas Maret (UNS) untuk menciptakan baterai lithium ion yang dapat digunakan oleh Gesits. Namun, durasi pengisian baterai yang lama masih sulit untuk dipersingkat. Masalah ini tidak hanya sulit untuk diatasi di Indonesia, tetapi juga oleh berbagai negara yang mencoba memasarkan mobil listrik.

Sampai saat ini, mobil listrik masih belum berhasil menjadi pilihan utama konsumen di beberapa negara maju dikarenakan oleh masa pengisian ulang baterai mobil tersebut. Oleh karena itu, pemerintah harus benar-benar dengan matang memikirkan proses pasca-penjualan Gesits secara serius. Masalah operasional sangat mungkin menyebabkan kesulitan besar dalam penggunaan Gesits jika hal ini tidak dari sekarang diperhatikan oleh pemerintah.

Beberapa negara maju seperti Australia bahkan cenderung lebih tertarik untuk menggunakan teknologi seperti hidrogen dibandingkan baterai. Sebagai perbandingan, tangki mobil hidrogen dapat diisi ulang hanya dalam 3-5 menit seperti pengisian bensin. Namun, mobil hidrogen dapat digunakan sejauh 600 KM untuk sekali pengisian yang jauh lebih efisien dibandingkan dengan mobil listrik yang rata-rata hanya dapat mencapai jarak maksimum 300 KM untuk sekali jalan dengan kapasitas baterai penuh.

Penggunaan teknologi motor/mobil hidrogen jika dijadikan fokus oleh pemerintah akan sangat mengurangi kesulitan pengisian baterai yang dihadapi oleh teknologi motor listrik. Selain itu masyarakat akan mendapatkan jarak tempuh yang lebih jauh dibandingkan dengan maksimum jarak tempuh 100 KM yang ditawarkan Gesits.

Tapi, penelitian dan pengembangan teknologi kendaraan berbasis hidrogen membutuhkan investasi pemerintah dalam bidang penelitian dan pengembangan yang signifikan. Untuk dapat bersaing dengan penelitian terbaru yang dilakukan di negara-negara maju, pemerintah kita haruslah dengan sangat serius mendukung penelitian-penelitian yang dilakukan oleh universitas-universitas atau lembaga penelitian di Indonesia.

Dana penelitian yang dapat diakses oleh universitas-universitas di Indonesia masih jauh lebih kecil dibandingkan dengan dana penelitian yang dapat diakses di negara-negara lain. Ini juga berdampak pada kualitas penelitian yang dihasilkan. Selain itu, perlu juga ditingkatkan fasilitas penelitian seperti laboratorium di seluruh universitas agar dapat mendorong penelitian-penelitian mutakhir lainnya. Peningkatan kompetensi dosen dan peneliti di Indonesia juga harus terus menjadi perhatian pemerintah.

Bahasa Inggris harus didorong untuk digunakan secara luas di berbagai universitas karena hal ini dapat mendorong meningkatnya publikasi dosen dan peneliti kita di jurnal internasional yang tentunya akan berdampak pada produksi teknologi yang tidak kalah dengan negara maju.

Salut untuk Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) yang sudah bisa menciptakan Gesits dengan keterbatasan yang ada. Sangat diharapkan agar Gesits dapat memicu semangat pemerintah untuk mendorong terciptanya produk-produk teknologi buatan Indonesia lainnya yang dapat bersaing tidak hanya di level nasional, tapi juga internasional.

Fokus pemerintah juga diharapkan untuk tidak hanya disalurkan pada proses produksi, tapi juga pada proses perawatan dan pengoperasian yang akan sangat menentukan kesuksesan penggunaan teknologi yang dihasilkan.

Jacob F. N. Dethan dosen Teknik Elektro Universitas Buddhi Dharma, kandidat PhD Monash University


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed