Kolom

Hidup Sehat dengan Swamedikasi

Muhamad Jalil - detikNews
Senin, 12 Nov 2018 10:38 WIB
Temu Putih (foto: Muhamad Jalil)
Jakarta - Kampanye "back to nature" atau "go green" oleh sebagian besar masyarakat menciptakan tren global terhadap pangan organik serta obat, vitamin, dan suplemen. Gerakan kembali ke alam dapat diwujudkan dalam aneka gerakan saintifikasi. Menggaungkan apotek hidup di lingkungan keluarga adalah salah satunya.

Indonesia sebenarnya telah lama memakai obat-obatan tradisional yang berbahan herbal sebagai bahan penyembuh. Hal ini dapat dilihat pada prasati Madhawapura; terdapat kutipan dari bagian prasasati tersebut yang menyebutkan acaraki atau yang disebut sebagai penjual jamu pada masa KerajaanMajapahit.

Tak mengherankan jika obat herbal sudah diwariskan sejak zaman Majapahit. Karena sejak dahulu negeri ini adalah negeri yang subur makmur. Dunia mengakui bahwa kekayaan flora di Indonesia sangat beraneka ragam. Negara ini memiliki bioma hutan hujan tropis terbesar ketiga setelah Amazon dan lembah sungai Kongo di Afrika. Tersebar di lebih dari 18.000 pulau, hutan hujan Indonesia mengandung 10 persen dari spesies tumbuhan yang dikenal di dunia.

Sayangnya, pemanfaatan bahan baku obat herbal oleh masyarakat baru 1000 jenis, dengan 74% di antaranya merupakan tumbuhan liar yang hidup di hutan. Tidak kaget apabila obat-obatan yang sekarang dipakai oleh masyarakat Indonesia adalah cenderung ke arah obat kimia. Dan, pelan-pelan mulai meninggalkan obat-obatan tradisional.

Kemasasan obat tradisional memang tidak semenarik obat kimia, sehingga masyarakat modern ogah mengkonsumsi obat tradisional semacam jamu. Obat kimia sudah dikemas dalam bentuk kapsul, pil, serbuk menjadikan praktis dalam penggunaannya. Wajar kalau terjadi antrean panjang di loket pengambilan obat di rumah sakit daerah untuk mendapatkan racikan obat kimia dari dokter. Padahal obat kimia memiliki efek samping jika penggunaannya tidak sesuai dengan petunjuk dokter, dan diminum secara berlebihan. Berbeda obat-obat herbal yang sudah dipercaya sebagai obat yang tidak menimbulkan efek samping.

Dalam kesempatan ini, saya menawarkan kembali perlunya mengedepankan gaya hidup sehat dengan membuat apotek hidup di lingkungan keluarga. Pembuatan apotek hidup merupakan bagian kampanye pengenalan tanaman obat keluarga, dan merupakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Gerakan untuk membumikan apotek hidup juga digalakkan oleh World Health Organization (WHO) dengan menerbitkan kebijakan WHO Traditional Medicine Strategy 2014-2023 yang menekankan pada pengembangan dan penelitian tanaman obat sebagai salah satu alternatif pengobatan. Gerakan ini diyakini sebagai cara ampuh dalam menciptakan go green dengan ikut menghijaukan bumi (Solehan et al, 2015).

Secara tersurat, menghidupkan apotek hidup memang tidak masuk dalam rencana jangka pendek, menengah, dan panjang program Gerakan Masyarakat Sehat (Germas) yang dicanangkan Kementerian Kesehatan sejak 15 November 2016 di Bantul. Dan, diinpreskan dengan Nomor 1 Tahun 2017 tentang Germas pada 27 Februari 2017. Namun, secara tersirat aktivitas membuat apotek hidup masuk program Germas. Karena, salah satu indikator Germas adalah adalah melakukan aktivitas fisik. Tentunya kegiatan fisik di sini bukan hanya olah raga semata. Tapi, dapat diwujudkan dengan bercocok tanaman obat di pekarangan rumah.

Banyak pilihan yang dapat digunakan sebagai alternatif tanaman obat keluarga. Di antaranya temu-temuan, kumis kucing, brotowali, kemangi, mengkudu, serai, dan lain-lain. Gerakan menghidupkan apotek hidup di tengah perayaan Hari Kesehatan Nasional 12 November 2018 ini telah mendapatkan momentumnya. Kesempatan ini sudah sepantasnya dijadikan momentum untuk meningkatkan taraf kesehatan keluarga. Yaitu, dengan membuat gerakan menghidupkan apotek hidup masyarakat. Gerakan ini merupakan upaya swamedikasi dengan tanaman obat.

Swamedikasi dapat diartikan sebagai upaya untuk mengobati diri sendiri tanpa berkonsultasi dengan dokter (Winkanda, 2013). Upaya swamedikasi ini dapat dilakukan dengan berbekal pengetahuan yang cukup tentang cara mengetahui gejala penyakit, dan juga pengetahuan tentang khasiat obat. Upaya dapat dilakukan dengan melakukan pelatihan dan sosialisasi melalui program Germas. Para aktivis kesehatan dapat dilibatkan dalam gerakan apotek hidup ini.

Peserta dikenalkan dengan berbagai macam tanaman obat, berlatih mengenal ciri morfologi tanaman, dan bagian-bagian tanaman yang berkhasiat sebagai obat, serta berlatih mengenal tanaman obat dan khasiatnya. Untuk meningkatkan kecintaan kepada tanaman obat, maka peserta diberikan pelatihan cara meracik tanaman obat menjadi sediaan jamu. Sediaan jamu yang dipraktikkan adalah jamu yang mudah dibuat dan juga umum digunakan untuk meningkatkan kesehatan keluarga.

Tidak hanya mendapatkan manfaat kesehatan, apotek hidup adalah alternatif keluarga dalam menghadirkan ruang hijau. Penanaman tanaman obat-obatan memberikan dua keuntungan sekaligus, yaitu estetika dan kesehatan. Selain mudah ditanam dalam pot dan polybag, tanaman ini memiliki banyak pilihan ragam bunga dan daunnya.

Misalnya, tanaman temuan-temuan memiliki daun berwarna hijau dengan tengah bergaris merah. Daun berbentuk bundar lonjong dengan ujung meruncing. Bunga temu ini memiliki tandan cukup panjang. Mahkota bunga ada yang berwarna putih, kuning, dan merah. Bunga ini memiliki daun pelindung berbentuk tumpul. Tabung mahkota bunga berbentuk corong, cupingnya mengarah ke samping berbentuk lonjong tegak.

Hidup yang dipenuhi dengan kesehatan dan keindahan bukan lagi sebuah utopis bagi manusia. Kesehatan adalah faktor pengali untuk membuat hidup seseorang lebih produktif. Tak ada gunanya mempunyai emas 100 kg, apabila hidup kita sakit-sakitan. Karenanya bisa diwujudkan dengan mengubah gaya hidup kita. Yaitu, dengan olah raga teratur, makan makanan bergizi, dan menyediakan ruang hijau pada keluarga. Ruang hijau yang dimaksud tidak lain tidak bukan dengan mendesain apotek hidup di lingkungan tempat tinggal kita.

Muhamad Jalil mahasiswa Program Doktor Biologi S3 UGM

(mmu/mmu)