DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 09 November 2018, 13:06 WIB

Kolom

Mimpi "Gelombang Indonesia"

Liliana Muliastuti - detikNews
Mimpi Gelombang Indonesia Foto: Muhammad Aminudin
Jakarta - Fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan (bahasa nasional) dan bahasa resmi kenegaraan memasuki fase baru dalam satu dekade terakhir. Bahasa Indonesia kini berada dalam lintasan sejarah penting. Pasal 44 UU No. 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan telah menargetkan peningkatan fungsi bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional.

Bahasa adalah roh utama produk kebudayaan suatu bangsa. Ikhtiar menginternasionalkan bahasa Indonesia menurut saya harus menjadi bagian strategi kebudayaan kita secara menyeluruh dalam mengejar pengakuan internasional. Tentu kita wajib optimistis amanah UU tersebut dapat diwujudkan. Meskipun, beberapa tahun laluBenAnderson dalam salah satuesainya menyebut bahasa Indonesia tidak memiliki aura transnasional.

Kekayaan bahasa dan budaya Indonesia membuat kita memiliki modal lebih dari cukup untuk meraih pengakuan internasional. Dengan strategi yang tepat, Indonesia berpeluang menjadi negara "adibudaya" di pentas global. Jika kondisi ini dapat diwujudkan, otomatis akan menarik perhatian internasional terhadap produk budaya kita, termasuk bahasa Indonesia.

Memang telah banyak ikhtiar dilakukan selama ini dalam penyebaran bahasa Indonesia melalui pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) dan ekspedisi budaya. Namun, itu semua belum cukup. Internasionalisasi bahasa Indonesia perlu mendapat dukungan berbagai pihak. Termasuk, salah satunya melalui produk budaya populer yang digeluti para pelaku industri kreatif. Produk industri kreatif seperti film, drama televisi, animasi, dan industri musik Indonesia dapat menjadi magnet orang asing belajar bahasa Indonesia.

Melihat potensi yang dimilikinya, Indonesia layak mengejar status negara adibudaya. Mengapa tidak? Status negara adibudaya dapat dikaitkan dengan pemikiran Robert N Nye, Jr. tentang negara yang mengembangkan pengaruhnya melalui "kuasa lunak" (soft power). Kita bisa berkaca pada keberhasilan Korea Selatan mengemas budaya populernya menjadi fenomena dunia yang disebut Korean Wave ("Gelombang Korea" atau Hallyu dalam bahasa Korea).

Menurut Suryani (2014), Korean Wave adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan produk kebudayaan populer Korea Selatan yang berhasil diekspor ke negara-negara lain di wilayah Asia, Eropa, maupun Amerika. Melalui musik, film, dan produk industri hiburan seperti drama televisi, Korean Wave menjual kebudayaan Korea Selatan yang memadukan kehidupan tradisional dan modern. Korean Wave tidak saja sebatas berhasil memasarkan budaya, namun mampu produk-produk komersial dan pariwisata Korea Selatan kepada publik di berbagai negara. Dalam kasus ini, Korean Wave bukan lagi sekadar transfer budaya lintas-negara atau perluasan industri hiburan, namun telah menjadi instrumen "kuasa lunak" dalam mencapai tujuannya, yaitu memperoleh keuntungan ekonomi.

Nye, Jr. dalam Suryani (2014) menjabarkan bahwa soft power suatu negara didasarkan pada tiga sumber utama: kebudayaan (culture) yang membuat negara tersebut menarik bagi pihak lain; nilai politik (political values) yang dianut negara tersebut; dan, kebijakan luar negeri (foreign policies) yang membuat negara tersebut memiliki legitimasi dan otoritas moral. Kebudayaan sebagai salah satu sumber utama soft power dibagi menjadi dua jenis, yakni high culture (budaya "tinggi") seperti seni, sastra, dan pendidikan yang menarik perhatian elit tertentu, serta pop culture (budaya populer) yang berfokus pada produksi hiburan massal (mass entertainment).

Popularitas global K-Pop lewat lagu seperti Gangnam Style ternyata memberi dampak positif pada peningkatan minat belajar bahasa dan budaya Korea di luar negeri. Sebuah laporan belum lama ini muncul di media daring BBC, K-pop drives boom in Korean language lessons. Matt Pickles yang menulis laporan ini mengungkap banyak fakta menarik.

Pickles mengungkapkan terjadi peningkatan minat belajar bahasa Korea sebesar 14 persen pada universitas-universitas AS sepanjang 2013-2016. Padahal bahasa-bahasa lain mengalami penurunan jumlah peminat. Statistik terakhir mencatat sebanyak 14.000 mahasiswa mengambil studi bahasa Korea di AS. Dua dekade sebelumnya, hanya 163 mahasiswa tertarik belajar bahasa tersebut. Sungguh lompatan jumlah yang mengesankan.

Mendunianya popularitas K-Pop dan drama Korea turut berkontribusi pada peningkatan minat belajar bahasa Korea di berbagai negara, antara lain AS, Kanada, Thailand, dan Malaysia. Situs penyedia pembelajaran bahasa, Duolingo tahun lalu merilis kursus bahasa Korea karena meningkatnya permintaan. Dalam waktu singkat, program belajar bahasa Korea itu diminati 200.000 orang.

Di Kanada, Profesor Andre Schmid telah melihat peningkatan pesat di Universitas Toronto, tempatnya meneliti sejarah Korea. Ketika universitas memperkenalkan kelas bahasa Korea sepuluh tahun lalu, mahasiswa yang berminat hanya 30 orang. Saat ini kelas menampung 150 orang dan daftar tunggu yang lebih panjang. Peningkatan serupa juga terjadi dalam jumlah peminat yang mempelajari sejarah Korea.

Menurut Schmid, perkembangan internet dan kehadiran situs seperti Youtube telah membawa K-Pop dan drama Korea ke tempat-tempat yang paling tidak terduga. Demam K-Pop yang berdampak pada minat mengenal bahasa Korea juga terjadi di tempat-tempat yang tidak terbayang sebelumnya, seperti Aljazair. Sebuah survei terhadap pengikut K-Pop di Aljazair menemukan bahwa sebagian besar telah mulai menggunakan kata dan frasa Korea dalam percakapan sehari-hari mereka.

Perkembangan yang mengesankan ini membuat pemerintah Korea Selatan percaya diri. Mereka memanfaatkan aset budayanya dengan mendirikan 130 institut bahasa di 50 negara. Padahal, meminjam istilah Ben Anderson, bahasa Korea pun terbilang tidak memiliki aura transnasional karena hanya menjadi bahasa warga di Semenanjung Korea (Korea Selatan dan Korea Utara). Bahasa ini juga bisa ditemui di Yanbian, Tiongkok timur laut. Secara keseluruhan terdapat sekitar 78 juta penutur bahasa Korea di seluruh dunia, termasuk kelompok-kelompok besar di Uni Soviet, AS, Kanada, dan Jepang. Bandingkan dengan cakupan bahasa Indonesia yang secara geografis lebih luas, dengan jumlah penutur yang jauh lebih besar (sekitar 260 juta) dibandingkan bahasa Korea.

Seperti kesuksesan Korea mempopulerkan produk budaya dan bahasanya, Indonesia pun dapat melakukan hal yang sama. Dua tahun lalu saya bertemu para pengajar bahasa Melayu dari Malaysia dan Singapura dalam satu kegiatan pelatihan. Para pengajar bahasa Melayu tersebut dengan antusias bercerita tentang salah satu sinetron Indonesia yang mereka gandrungi. Mereka bercerita dengan lancarnya alur cerita sinetron tersebut hingga hafal pula nama para pemainnya. Saya berharap, suatu hari nanti budaya pop Indonesia pun dapat menembus batas lebih jauh, tidak hanya ke negara tetangga dekat kita seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei.

Kita harus berani bermimpi suatu saat akan ada "Gelombang Indonesia" (Indonesia Wave), seperti halnya Korean Wave yang mampu menembus batas-batas negara nonbahasa Melayu. Tidak bisa tidak, pemerintah harus membuat berbagai kebijakan yang berdampak kepada soft power seperti halnya Korean Wave. Keberhasilan pertunjukan seni budaya dalam upacara pembukaan dan penutupan Asian Games 2018 yang banyak dipuji negara lain menjadi salah satu indikator bahwa kita juga mampu meraih apresiasi internasional. Sudah saatnya bahasa dan produk budaya Indonesia mendunia.

Liliana Muliastuti Dekan Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta dan Ketua Afiliasi Pengajar dan Pegiat BIPA (APPBIPA) 2015-2019


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed