DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Kamis 08 November 2018, 11:49 WIB

Kolom

Lapangan Sepak Bola Cisayong dan Inovasi Dana Desa

M. Bobby Rahman - detikNews
Lapangan Sepak Bola Cisayong dan Inovasi Dana Desa Ilustrasi: Sudrajat/Infografis
Jakarta -
Seorang teman berbagi sebuah video liputan tentang sebuah lapangan sepak bola berstandar internasional di sebuah desa di Tasikmalaya. Lebih tepatnya, lapangan sepak bola ini berada di Desa Cisayong yang berjarak sekitar 15 km dari pusat kota. Saya seketika terkesima dan berandai-andai setelah menyaksikan video berdurasi sekitar 6 menitan tersebut. Hal yang membuat lapangan ini menjadi semakin menarik bagi saya adalah karena selain letaknya di sebuah desa yang berpenduduk sekitar 5.000 jiwa, juga karena sumber dana yang digunakan berasal dari dana desa, bantuan provinsi, dan swadaya masyarakat.

Selain itu, diklaim lapangan ini memiliki standar internasional dari sisi ukuran dan drainase serta kualitas rumput setara yang dipakai oleh stadion-stadion besar di Indonesia. Jika dilihat sekilas, tampak lapangan tersebut sangat memadai untuk sebuah lapangan sepak bola. Dan, yang lebih penting, di dalam video tersebut anak-anak tampak ceria bermain sepak bola. Sebuah modal penting untuk membangun pembinaan sepak bola.

Dengan menghabiskan biaya sekitar Rp 1,4 miliar, lapangan ini memfasilitasi anak-anak dan masyarakat desa setempat bermain bola dan upaya untuk mendatangkan pemasukan bagi desa. Dalam hal ini, saya tertarik untuk membahas mengenai fenomena pembangunan lapangan sepak bola di Cisayong ini dengan menghubungkannya dengan fenomena perlombaan pembangunan stadion-stadion megah di Indonesia, inovasi penggunaan dana desa, dan peluang duplikasi gagasannya.

Berlomba-Lomba

Selama ini seringkali kita disajikan dengan berbagai janji manis calon kepala daerah yang menjadikan isu pembangunan stadion sebagai janji kampanye, atau rencana muluk pembangunan stadion di berbagai daerah di Indonesia. Sampai detik ini saya masih tidak habis pikir dengan janji kampanye atau rencana daerah tersebut dalam membangun stadion sepak bola bertaraf internasional dengan biaya hingga ratusan miliar bahkan triliunan rupiah. Apalagi jika pembangunan tersebut mengandalkan anggaran pemerintah daerah.

Dengan alasan untuk memperbaiki prestasi atau meningkatkan semangat berolah raga masyarakat, daerah berlomba-lomba membangun stadion-stadion model tersebut. Tampaknya, ide tersebut seperti jauh panggang dari api. Alih-alih menjawab kebutuhan peningkatan prestasi dan memfasilitasi masyarakat agar memiliki fasilitas olah raga (ruang publik), pembangunan stadion berbiaya mahal tersebut hanya merupakan bentuk kampanye politik untuk meraih suara konstituen belaka, atau lebih parahnya hanya pembangunan bersifat simbolis semata.

Masyarakat tidak dapat menikmati setiap saat stadion megah tersebut. Pemain sepak bola pun hanya pemain profesional yang dapat menikmati fasilitas megah tersebut, atau orang-orang yang mampu menyewa dengan biaya yang tentunya tidak murah.

Nahasnya, sebuah stadion sepak bola di Kalimantan Timur saat ini kesulitan biaya perawatan karena gagal dalam menarik minat klub sepak bola setempat untuk menggunakan stadion tersebut sehingga kehilangan potensi pemasukan untuk perawatan. Akibatnya, biaya perawatan tetap mengandalkan pemerintah daerah setempat.

Dengan adanya lapangan sepak bola Cisayong ini, tampaknya pemerintah daerah atau politisi harus berpikir ulang jika berniat membangun stadion megah dengan biaya pembangunan dan perawatan yang juga "wah". Apakah benar pembangunan stadion mewah tersebut merupakan jawaban atas mandeknya prestasi dan pembinaan olah raga? Atau, sebuah jawaban atas kebutuhan ruang publik untuk masyarakat?

Dengan biaya ratusan miliar bahkan triliunan akan jauh lebih bermanfaat jika digunakan untuk membangun fasilitas yang lebih dekat dengan masyarakat dibandingkan hanya menjadi fasilitas menara gading. Cisayong adalah contoh nyatanya.

Inovasi

Di lain sisi, apa yang dilakukan oleh Desa Cisayong patut diapresiasi ditinjau dari berani tampil beda di dalam memanfaatkan dana desa. Terlepas dari pro-kontra dan teknis pengalokasian dana desa untuk membangun lapangan sepak bola, gagasan untuk membangun fasilitas olah raga bagi masyarakat desa dalam rangka upaya untuk mendekatkan masyarakat dengan kegiatan positif merupakan hal yang baik.

Selama ini, pakem penggunaan dana desa senantiasa diarahkan untuk stimulus kegiatan ekonomi atau pembangunan fisik seperti jalan, jembatan, pasar, sumur, embung, drainase, irigasi, dan sebagainya. Sementara, permasalahan di masyarakat seringkali juga disebabkan minimnya fasilitas publik untuk dapat saling berinteraksi. Minimnya ruang interaksi menyebabkan semakin sulitnya masyarakat saling mengenal satu sama lain dan menyebabkan mudahnya terjadi gesekan di masyarakat.

Selama ini, ruang publik lebih sering difasilitasi oleh pengembang perumahan yang juga sifatnya hanya terbatas bagi pemilik rumah di dalam kompleks perumahan. Dengan hadirnya contoh lapangan sepak bola dari Cisayong ini, saya memprediksi akan semakin banyak desa yang akan berinovasi dalam memanfaatkan dana desa. Dapat dimaklumi, semenjak mulai dialokasikan pada 2015, penggunaan dana desa masih mencari bentuk dan diprioritaskan untuk kebutuhan-kebutuhan mendasar desa.

Tetapi, dalam beberapa tahun ke depan, pada saat seluruh kebutuhan dasar desa telah terpenuhi, ketika tuntutan inovasi untuk mengalokasikan dana desa tiba, akan lebih banyak lagi gagasan-gagasan yang brilian untuk kemakmuran dan kemaslahatan desa.

Menurut halaman situs Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan disebutkan bahwa penggunaan dana desa diprioritaskan untuk membiayai pembangunan dan pemberdayaan masyarakat yang ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa, peningkatan kualitas hidup manusia, serta penanggulangan kemiskinan dan dituangkan dalam Rencana Kerja Pemerintah Desa. Mengacu kepada hal ini, apa yang telah dicontohkan oleh Desa Cisayong merupakan sebuah inovasi untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Walaupun tentunya manajemen prioritas tetap menjadi pertimbangan yang bijak.

Duplikasi Gagasan

Dalam konteks pembangunan fasilitas olah raga atau fasilitas publik di tengah masyarakat, peluang untuk menduplikasi gagasan sejenis sangat terbuka lebar dengan peluang adanya dana desa saat ini. Duplikasi gagasan tidak harus serupa seperti yang telah dilakukan oleh Cisayong misalnya. Upaya penjaringan gagasan melalui rembug desa untuk menggali aspirasi kebutuhan masyarakat serta mencari solusi tantangan yang dibutuhkan desa dapat menjadi solusi.

Sedikit kilas balik ke era 1990-an, pada saat itu sangat mudah ditemui lapangan-lapangan badminton berplester semen atau sekadar tanah bergaris potongan bilah bambu, berpenerangan lampu neon, dan beratapkan langit di lingkungan tempat tinggal saya di Cibinong-Bogor, Jawa Barat. Hampir setiap malam lapangan bulu tangkis ini ramai dengan aktivitas olah raga masyarakat. Lebih istimewa lagi apabila mendekati Agustus ,maka akan semakin ramai dengan kompetisi bulu tangkis tingkat RT.

Tetapi, fenomena ini tampaknya semakin sulit ditemui dewasa ini. Semakin sulit mencari ruang publik bagi masyarakat karena saat ini setiap ruang tersisa dijadikan ruang tinggal individu. Tidak saja terjadi di perkotaan, tetapi mulai terjadi di wilayah perdesaan.

Jika gagasan-gagasan akar rumput untuk membangun fasilitas olah raga (ruang publik) dengan ragam yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat semakin menggeliat, maka masyarakat akan memiliki banyak ruang publik untuk berinteraksi satu sama lain. Perlu diingat, sepak bola bukanlah satu-satunya olah raga favorit masyarakat Indonesia. Jika lapangan bulu tangkis kembali menjamur seperti era 1990-an, dengan dukungan dana desa misalnya, maka tidak menutup kemungkinan akan lahir kembali pemain sehebat Susi Susanti atau Taufik Hidayat yang akan membanggakan Indonesia.

Munculnya inovasi-inovasi baru penggunaan dana desa seperti yang telah dilakukan oleh Desa Cisayong dengan membangun lapangan sepak bola berstandar internasional hanya tinggal menunggu waktu. Dengan semakin kreatifnya pemerintah desa, didukung oleh visi dan dukungan masyarakat, maka kreativitas untuk membangun Indonesia dari desa merupakan sebuah keniscayaan.

M. Bobby Rahman Ph.D researcher di KU Leuven Belgia dan pengajar di Institut Teknologi Sumatera (ITERA)


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed