DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Rabu 31 Oktober 2018, 15:00 WIB

Kolom

Anak-Anak Bukan Robot

Deddy Aritonang - detikNews
Anak-Anak Bukan Robot Foto: Wisma Putra
Jakarta -
Orangtua zaman sekarang adalah generasi yang ketika dalam masa kanak-kanaknya dibesarkan dengan pola asuh punishment dan reward. Dan, cara mendidik anak seperti ini sampai pada era digital sekarang juga relatif masih diadopsi. Sangat lumrah memang ketika rasa puas dan bangga muncul tatkala menyaksikan buah hati berprestasi di sekolah. Puja-puji pada anak diberikan ketika ia menjadi ranking satu di kelas, menang lomba pidato Bahasa Inggris, meraih juara pertama pada lomba mewarnai dan sebagainya.

Hasrat untuk melihat buah hati untuk berprestasi membuat kita pada akhirnya menilai metode kompetisi adalah indikator utama dalam menentukan sukses tidaknya proses pembelajaran akademis anak. Tanpa sadar, kita terbius dalam ego yang begitu besar dan menjadikan anak sebagai objek yang senantiasa dituntut untuk berprestasi. Tak jarang pula orangtua begitu kecewa ketika anak tidak mencapai target atau mengalami penurunan prestasi. Ungkapan kekecewaan apalagi bila disertai dengan hukuman fisik seperti memukul betis anak agar lebih rajin belajar tentu salah kaprah.

Anak bukanlah robot atau objek berwujud benda mati yang bisa diarahkan sesuka hati. Anak adalah pribadi yang unik dan memiliki kebutuhan serta kemampuan yang berbeda-beda. Sekalipun ketika sang anak berhasil dan diberikan penghargaan seperti diajak jalan-jalan, dibelikan barang kesukaan hingga diberi uang saku tambahan, tidak serta merta membuat kita berhak menjatuhkan hukuman tatkala mereka kita anggap gagal.

Mengedepankan Kompetisi

Harus diakui, sistem pendidikan kita masih mengedepankan kompetisi. Memang, kurikulum 2013 sudah mengeliminasi sistem ranking. Karena pada dasarnya sistem rangking lebih banyak dampak negatif daripada positifnya.

Ranking secara prinsipil memperlebar jurang pemisah di antara peserta didik yang beranekaragam. Mereka yang juara 1, 2, dan 3 atau yang masuk dalam 10 besar dipandang sebagai anak-anak pintar. Selebihnya mungkin dianggap tidak pintar atau bahkan dicap "bodoh". Padahal, sistem pendidikan kita belum sepenuhnya mengakomodasi kebutuhan belajar (learning needs) peserta didik yang pastinya berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Tentu tidak fair menempatkan anak-anak dalam sebuah kasta yang berlandaskan pada nilai-nilai rapor, sementara di satu sisi mulai metode mengajar hingga mekanisme pembelajaran disamaratakan untuk setiap anak.

Inilah yang menjadi kritik Albert Einstein, fisikawan jenius yang pernah berujar, "Everyone is a genius. But, if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing it is stupid." (Semua orang adalah jenius. Namun, bila ikan dinilai dari kemampuan memanjat pohon, dia akan merasa dirinya bodoh sepanjang hidupnya)

Meski perankingan dihapuskan, begitu banyak pola-pola kompetisi yang diterapkan di lingkungan sekolah dan menjadi favorit orangtua bahkan pihak sekolah sendiri. Sebagai contoh adalah ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN). Saya tidak pada posisi mengharamkan OSN dan kompetisi-kompetisi lain sejenis itu. Yang menjadi perhatian saya adalah ketika kompetisi seperti itu menjadi sangat diagung-agungkan dan dijadikan indikator sukses tidaknya seorang anak dalam ranah akademis.

Tak jarang orangtua sebegitu ambisiusnya agar anaknya juara sehingga menyuruh anak memforsir belajar dan mengikuti les-les atau bimbingan belajar di luar sekolah. Memang, pada satu sisi si anak akan menjadi lebih rajin dan intens meningkatkan kemampuannya. Tapi, di saat yang bersamaan terbentuk juga karakter negatif seperti ambisi yang berlebihan hingga menganggap kompetitor, yang juga anak-anak sekolah, sebagai musuh yang harus dikalahkan.

Dalam kompetisi, seorang anak akan menganggap peserta lainnya sebagai penghalang bagi dirinya menuju kemenangan. Maka, semua kompetitior harus wajib untuk ditaklukkan meski dalam kesehariannya mereka berteman. Bila menang, si anak akan merasa bangga dan mungkin tidak melihat perspektif lawannya yang kalah dan sedih karena upaya berlatih yang keras tidak membuahkan hasil. Sebaliknya, jika kalah, perasaan kecewa berat, apalagi bila selama ini selalu meraih prestasi, bisa berdampak pada penurunan semangat belajar.

Pendidikan dengan sistem kompetisi, jika tidak terlalu kasar, boleh saya sebut sebagai bentuk diskriminasi yang dibalut dalam tatanan akademis. Dalam kompetisi dan ajang lomba, hanya aka nada dua sisi yang muncul: menang dan kalah, juara dan tidak juara. Sering terlihat jelas perlakuan berbeda pada anak-anak yang berprestasi di sekolah dengan yang tidak. Label "pintar", " cerdas", " hebat" akan disematkan pada mereka yang memiliki prestasi bagus. Lalu, yang prestasi akademisnya buruk dan menduduki ranking-rangking bawah dianggap "bodoh", "malas" dan sebagainya. Padahal bisa saja mereka lebih berbakat pada bidang seperti olahraga atau musik.

Mengurangi Motivasi

Pemberlakuan penghargaan dan hukuman terkait saat anak berprestasi atau gagal berprestasi juga tidak sepenuhnya tepat. Memang dalam kaidah dasar teori tingkah laku sosial (social behavior) kedua unsur ini cukup penting dalam pembentukan kepribadian.

Ketika perilaku seseorang mendapatkan penguatan (reinforcement), maka ia akan cenderung mengulangi perilaku itu. Sebaliknya, ketika perilaku itu direspons dengan hukuman (punishment), maka yang bersangkutan akan cenderung menghentikan perilaku itu. Harapannya dengan adanya reward anak akan tetap rajin belajar, dan punishment akan membuat anak sadar agar tidak malas-malasan.

Namun, tetap saja ada sisi negatif dari kedua metode ini. Dengan adanya reward mental anak akan ditempa untuk berbuat sesuatu karena ada imbalan. Sehingga niat belajar bukan tumbuh karena kemauan sendiri dan kesadaran akan pentingnya meningkatkan ilmu yang sudah diperoleh. Pun demikian dengan punishment. Kemauan untuk belajar karena adanya hukuman justru membuat anak akan dibalut dengan rasa takut. Belajar karena rasa takut tidak akan pernah efektif menggali potensi besar dalam diri seorang anak.

Reward dan punishment menurut beberapa penelitian (dilansir dari The New York Times) mengurangi motivasi alami dalam diri manusia dan selalu diasosiasikan dengan dengan menurunkan kreativitas. Embel-embel hadiah atau penghargaan ketika berhasil melakukan sebuah pekerjaan atau hukuman bila pekerjaan itu tidak terpenuhi sesuai permintaan menjadikan kedua unsur ini sebagai paradigma yang harus ditinggalkan.

Mengutip dari salah satu film India The Three Idiots, manusia sejak dalam kandungan sudah menghadapi kompetisi. Dari jutaan sperma, hanya ada satu yang berhasil membuahi sel telur hingga berkembang menjadi manusia. Artinya, dalam konteks pendidikan mekanisme kompetisi jangan dijadikan standar utama. Negara seperti Finlandia melakukan gebrakan besar dengan beralih pada kolaborasi yang memungkinkan setiap individu memegang peranan sesuai bakatnya. Semua punya andil dalam keunikan masing-masing. Sekarang dapat dilihat betapa hebatnya pendidikan di sana.

Mereka tidak mendewakan perlombaan. Jika mau dibandingkan, mungkin perolehan medali emas anak-anak Indonesia dalam kompetisi ilmiah internasional boleh jadi lebih banyak dari mereka. Namun, dengan sistem kolaborasi ini, anak-anak dibiarkan saling melengkapi dan mencapai tujuan secara bersama-sama melewati serangkaian proses. Tidak perlu reward maupun punishment karena belajar sudah sangat dinikmati sehingga motivasi untuk itu memang sudah tertanam tanpa embel-embel lain.

Deddy Aritonang alumnus Pascasarjana Unimed, berprofesi sebagai guru dan dosen


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed