DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 30 Oktober 2018, 14:38 WIB

Kolom

Hoaks dan Kebenaran

Taufiqurrahman - detikNews
Hoaks dan Kebenaran Ilustrasi: Thinkstock
Jakarta -

Pada November 1935, Museum Seni Modern di New York mengadakan pameran karya-karya Vincent Van Gogh. Itu adalah kali pertama karya-karya Van Gogh dipamerkan di Amerika. Karenanya, ada ribuan pengunjung yang berdesak-desakan ingin melihat karya-karya sang maestro tersebut.

Hugh Charles Troy, salah seorang pelukis Amerika yang terkenal dengan olok-oloknya, juga datang ke museum itu untuk melihat lukisan-lukisan Van Gogh. Tapi, ia putus asa ketika melihat kerumunan yang terdiri ribuan orang itu. Seorang pecinta seni seperti dia, pikirnya, tidak akan bisa menikmati karya seni dengan khidmat di tengah kerumunan massa yang berhimpit-himpitan seperti itu.

Namun, ia punya satu keyakinan yang entah datang dari mana. Orang-orang yang berkerumun itu, menurutnya, kebanyakan datang ke pameran bukan karena apresiasi terhadap seni, melainkan hanya karena cerita sensasional tentang kehidupan pribadi Van Gogh. Cerita bahwa Van Gogh pernah memotong daun telinganya, dan daun telinga itu ia bungkus dengan koran dan kemudian ia berikan ke seorang pelacur sembari berpesan, "Jagalah barang ini baik-baik!"

Beberapa saat kemudian, Troy kembali ke museum tempat karya-karya Van Gogh dipamerkan tersebut. Kali ini ia datang bukan hanya untuk melihat lukisan, melainkan juga dengan niat usil untuk membuktikan kayakinannya bahwa kerumunan massa itu datang ke museum hanya karena cerita sensasional tentang daun telinga Van Gogh.

Troy datang dengan membawa sebuah kotak berisi daun telinga palsu yang ia buat dari daging sapi yang dikeringkan. Kotak itu diletakkan di atas sebuah meja di dalam museum, dan di sisinya diberi sebuah keterangan: This is the ear which Vincent Van Gogh cut off and sent to his mistress, a French prostitute, Dec. 24, 1888.

Dugaan Troy benar. Para pengunjung tiba-tiba mengerumuni kotak berisi daun telinga palsu itu dan tak lagi mempedulikan lukisan-lukisan Van Gogh. Dengan demikian, Troy pun bisa melihat lukisan-lukisan Van Gogh secara leluasa, tanpa perlu berdesak-desakan dengan kerumunan massa. Cara yang cerdas, bukan?

Itulah salah satu hoaks dalam dunia seni. Selain hadir sebagai sebuah "karya seni", hoaks bikinan Troy itu juga hadir sebagai kritik atas bagaimana publik Amerika memahami seni. Hoaks apa pun, jika kita bisa sedikit menunda penilaian moralis kita, juga punya pola serupa.

Hoaks sebagai Kritik

Dalam percakapan sehari-hari, hoaks sering disalahpahmi. Ia dinilai dengan kategori moral, sehingga pengertiannya menjadi tumpang-tindih dengan kebohongan atau penipuan. Orang yang menyampaikan berita bohong, karenanya, sudah dianggap sebagai pembuat hoaks.

Padahal kebohongan tak selalu berarti hoaks. Selain memuat unsur kebohongan—atau lebih tepatnya: pengelabuan—elemen utama hoaks adalah kritik. Hoaks dibuat untuk memberikan kritik, untuk menguji konsistensi pikiran, atau untuk menunjukkan sebuah kesalahan. Oleh karena itu, hoaks bahkan sering dipakai dalam diskursus ilmu pengetahuan.

Baru-baru ini kalangan intelektual Amerika, bahkan dunia Barat pada umumnya, digegerkan oleh artikel-artikel hoaks bikinan tiga orang akademisi usil. Ketiganya adalah Helen Pluckrose (editor Majalah Areo), James A. Lindsay (doktor matematika), dan Peter Boghossian (profesor filsafat).

Selama 10 bulan, terhitung sejak Agustus 2017, mereka bertiga menulis 20 artikel abal-abal, bahkan beberapa menggunakan data palsu, untuk dikirimkan ke jurnal-jurnal ilmiah. Dua puluh artikel tersebut dikirim dengan menggunakan nama-nama fiktif (yang sebenarnya tidak ada orangnya, seperti Helen Wilson, Ph.D.) dan nama pinjaman (atas persetujuan yang bersangkutan, seperti Richard Baldwin, Ph.D.). Tujuh dari dua puluh artikel abal-abal dengan penulis pseudonim itu ternyata diterima, dan empat di antaranya sudah terbit.

Salah satu artikel yang sudah terbit itu memiliki judul yang cukup lucu, Going in Through the Back Door: Challenging Straight Male Homohysteria and Transphobia through Receptive Penetrative Sex Toy Use. Artikel itu memiliki tesis bahwa mendorong pria-pria heteroseksual melakukan penetrasi terhadap anusnya melalui sex toy saat masturbasi dapat mengurangi fenomena homofobia. Padahal, hal itu sebenarnya hanya omong kosong belaka dan bahkan berbahaya.

Namun, hanya karena kesimpulannya sesuai dengan kepentingan ideologis jurnal yang bersangkutan, yaitu Jurnal Sexuality & Culture, maka artikel yang ditulis oleh pseudonim M Smith itu oleh reviewers-nya dipuji-puji sebagai "sebuah artikel yang memberikan kontribusi luar biasa penting dan menarik terhadap kajian tentang seksualitas dan budaya, khususnya persilangan antara maskulinitas dan analitas."

Dalam sebuah artikel klarifikasi yang cukup panjang di Areo Magazine, ketiga akademisi usil itu menjelaskan bahwa mereka membuat artikel-artikel hoaks hanya untuk menguji keketatan seleksi jurnal-jurnal ilmiah yang bidangnya adalah cultural studies (kajian budaya) atau identity studies seperti kajian gender. Dengan diterimanya beberapa artikel hoaks itu berarti bahwa bidang-bidang kajian budaya masih dipenuhi oleh bias ideologis dalam menerbitkan karya-karya ilmiah.

Hoaks semacam itu sebenarnya bukan yang pertama dalam lingkup ilmu pengetahuan. Pada 1996, seorang fisikawan matematis di Universitas New York, Alan Sokal, juga pernah melalukan hal yang sama. Ia mengirimkan sebuah artikel gadungan—yang berjudul Transgressing the Boundaries: Towards a Transformative Hermeneutics of Quantum Gravity dengan tesis bahwa gravitasi kuantum memiliki dampak politik yang progresif—ke jurnal Social Text. Artikel itu diterima, padahal menurut Sokal isinya omong kosong belaka.

Sokal melakukan itu juga untuk menguji keketatan berpikir para pemikir pascamodernis yang ada di balik Jurnal Social Text tersebut. Dalam artikel yang ditulis setelahnya, Sokal menyatakan bahwa artikel tentang gravitasi kuantum itu diterima hanya karena editor Social Text menyukai kesimpulannya, yakni bahwa "konten dan metodologi ilmu pengetahuan pascamodern memberikan dukungan intelektual yang kuat terhadap proyek politik progresif."

Hoaks sebagai Aletheia

Dalam fungsinya sebagai kritik, alih-alih sama dengan kebohongan dalam kategori moral, hoaks justru bisa menyingkapkan sebuah kebenaran. Kebenaran, dalam konteks ini, adalah kebenaran yang jauh lebih kompleks daripada hanya sekadar korespondensi antara tuturan dan kenyataan atau antara data dan fakta.

Kebenaran yang mungkin dihadirkan melalui hoaks adalah kebenaran yang oleh Martin Heidegger—dengan meminjam istilah Yunani kuno—disebut aletheia yang berarti "ketaktersembunyian" atau "ketersingkapan". Kebenaran sebagai aletheia itu menyiratkan ketersembunyian (letheia) dan sekaligus ketaktersembunyian (a-letheia). Pengertian yang tampak kontradiktif ini merupakan implikasi dari kata "aletheia" itu sendiri.

Kata "aletheia" secara semantik memiliki makna positif (yaitu, ketersingkapan) setelah kata "letheia" diimbuhi alfa privatif "a-" sehingga menjadi "a-letheia (ketaktersembunyian). Demikian juga hoaks. Ia menyingkapkan sebuah kebenaran dengan menyembunyikan satu kebenaran lainnya. Sebab, hanya dengan menyembunyikan satu kebenaran, kebenaran lain yang lebih besar akan tersingkapkan.

Kasus hoaks Alan Sokal atau tiga akademisi usil di atas, misalnya. Di satu sisi, artikel-artikel mereka menyembunyikan sebuah kebenaran ilmiah, melalui data-data palsu yang disampaikannya atau melalui argumen-argumen cacat logis yang pseudo-ilmiah. Namun, di sisi lain, artikel-artikel mereka juga menyingkapkan sebuah kebenaran yang lebih besar bahwa ada yang salah dalam cara sebuah bidang keilmuan dikembangkan.

Dengan demikian, hoaks seharusnya tidak dipahami dengan kategori moral, sebab ia berbeda dengan kebohongan. Hoaks adalah sebuah perangkat epistemik untuk melancarkan kritik atau untuk menguji konsistensi sebuah pikiran. Yang belakangan ini berseliweran di media sosial itu bukanlah hoaks, melainkan hanya kebohongan semata!

Taufiqurrahman peneliti di Ze-No – Centre for Logic and Metaphysics




(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed