DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 30 Oktober 2018, 11:46 WIB

Kolom

Upaya Penyelamatan Defisit Transaksi Berjalan

Mohammad Hafiz - detikNews
Upaya Penyelamatan Defisit Transaksi Berjalan Foto: Pradita Utama
Jakarta -
Kondisi neraca transaksi berjalan yang masih mengalami tren defisit tentu menimbulkan kekhawatiran di tengah situasi perekonomian global yang tidak kunjung menentu. Dari sisi eksternal, fenomena perang dagang, bangkitnya proteksionisme, normalisasi suku bunga The FED, serta kenaikan harga minyak dunia telah memberi tekanan pada neraca transaksi berjalan. Dari sisi internal, upaya transformasi struktural yang telah dijalankan pemerintah dan otoritas moneter dalam satu dekade terakhir ternyata belum cukup bertaji untuk menahan gejolak eksternal dalam jangka pendek. Alhasil, defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit-CAD) kian melebar.

Pada semester I-2018, CAD tercatat sebesar 13,7 miliar dolar AS (2,6 persen PDB). Realisasi itu meningkat dua kali lipat dari semester I tahun sebelumnya yang hanya defisit 6,8 miliar dolar AS atau setara 1,4 persen PDB. Meski begitu, kondisi CAD di semester I-2018 sebenarnya relatif lebih baik dari CAD pada semester I-2013 dan semester I-2014 yang masing-masing mencapai 16,1 miliar dolar AS (3,42 persen PDB) dan 14,5 miliar dolar AS (3,29 persen PDB). Bank Indonesia sendiri memprediksi hingga akhir 2018, CAD dapat mencapai 25 miliar dolar AS atau 2,2 persen dari PDB, dengan asumsi pertumbuhan ekonomi di 2018 mencapai 5 persen.

Persoalan CAD yang sudah menjadi penyakit akut bagi perekonomian tentu tidak lepas dari kinerja perdagangan barang dan jasa. Jika dilihat tren neraca transaksi berjalan dalam empat dekade terakhir dapat dilihat bahwa pergerakan transaksi berjalan sangat bergantung pada kinerja perdagangan barang dan jasa. Pada sisi perdagangan barang, secara umum kinerjanya masih cukup positif bagi transaksi berjalan karena neraca perdagangan selalu mencetak surplus.

Sungguhpun demikian, kinerja neraca perdagangan pada 2018 patut diwaspadai mengingat sepanjang periode Januari-September baru tercatat tiga kali surplus pada Maret, Juni, dan September. Capaian itu berbanding terbalik dari tahun sebelumnya yang hanya mencetak defisit dua kali.

Sebagaimana diketahui, surplus perdagangan barang Indonesia selalu mendapat berkah dari lonjakan harga komoditas di pasar internasional. Komoditas perkebunan dan pertambangan yang menjadi tulang punggung ekspor non migas seperti minyak sawit, karet, kopi, batu bara, timah, dan lain sebagainya sangat bergantung pada dinamika harga global. Ketika situasi ekonomi global dalam tekanan dan berdampak pada jatuhnya harga komoditas sudah pasti kinerja ekspor barang Indonesia akan melorot.

Selain itu, karena struktur ekspor masih didominasi barang mentah mengakibatkan depresiasi rupiah sulit untuk menambah devisa hasil ekspor. Beda cerita jika ekspor komoditas tersebut sudah diolah menjadi barang sekunder atau lebih bagus lagi barang tersier, sehingga menambah daya saing di pasar internasional dan menghasilkan devisa lebih tinggi.

Persoalan neraca perdagangan tidak berhenti di situ, karena kebutuhan akan impor migas maupun non migas masih cukup tinggi. Target produksi atau lifting migas yang dalam beberapa tahun terakhir masih sulit untuk dipenuhi tentu harus ditambal lewat impor. Begitu juga dengan impor barang non migas yang kian meningkat demi memenuhi permintaan dan kebutuhan domestik.

Memang, secara umum struktur impor Indonesia masih didominasi oleh bahan baku dan modal yang erat dengan geliat kinerja sektor industri, khususnya manufaktur. Namun, kondisi itu juga sekaligus menggambarkan bahwa kondisi industri penyangga yang berorientasi substitusi impor masih mati suri. Alhasil, laju pertumbuhan impor barang konsumsi yang masih mencapai dua digit juga terus ikut berkontribusi atas menciutnya neraca perdagangan barang.

Sungguhpun neraca perdagangan barang masih dapat mencetak surplus, sayangnya pada pos perdagangan jasa tidak demikian. Setidaknya dalam satu dekade terakhir, neraca jasa terus tercatat defisit sehingga menekan surplus yang dihasilkan aktivitas perdagangan barang. Perkembangan pada neraca jasa sulit dipisahkan dari kinerja komponen jasa transportasi dan jasa perjalanan. Peran kedua komponen tersebut saling berseberangan di mana jasa transportasi konsisten jadi langganan penyebab defisit, sedangkan jasa perjalanan berusaha menutup lubang defisit yang ditimbulkan.

Jasa transportasi khususnya transportasi barang menyumbang lebih dari setengah defisit neraca jasa. Transportasi barang yang sebagian besar diangkut melalui jalur laut sayangnya masih banyak menggunakan jasa non domestik dalam perdagangan internasional. Perusahaan pelayaran internasional menjadi pilihan para eksportir-importir nasional bahkan dalam pengiriman jarak pendek menuju Singapura atau Malaysia. Industri pelayaran domestik pun masih menggunakan atau menyewa kapal buatan asing sehingga turut memperlebar defisit neraca jasa.

Beruntung defisit neraca jasa dapat dapat ditekan lewat jasa perjalanan. Dalam kurun empat tahun terakhir, tren surplus jasa perjalanan menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Sepanjang 2014-2017, surplus jasa perjalanan tumbuh lebih dari 50 persen. Namun, destinasi utama para wisatawan mancanegara masih terkosentrasi di Bali, Jakarta, dan Batam. Padahal potensi daya tarik pariwisata Indonesia masih banyak yang menjanjikan.

Merujuk pada kondisi di atas, pemerintah pada periode Kabinet Kerja ini sebetulnya telah memeras keringat untuk mengatasi persoalan CAD, khususnya pada transaksi barang dan jasa. Pada perdagangan barang, pemerintah telah menjalankan sejumlah bauran kebijakan seperti peninjauan kembali proyek strategis nasional (PSN) yang memerlukan bahan baku impor tinggi.

Kementerian Keuangan juga telah melakukan penyesuaian tarif pajak penghasilan (PPh) yang sebagian besar merupakan barang konsumsi. Dalam rangka mengurangi impor bahan bakar, implementasi penggunaan biodiesel (B-20) pun diperluas. Pertamina juga mendapat suntikan blok migas utama seperti Blok Mahakam dan Blok Rokan yang dapat mengurangi ketergantungan impor migas dalam jangka menengah panjang. Dari sisi perdagangan jasa, upaya untuk membangun infrastruktur dan pelayanan di sepuluh destinasi wisata baru sekelas Bali terus dilakukan demi memperluas basis devisa.

Upaya yang telah dilakukan pemerintah tentu layak diapresiasi, meski belum seluruhnya mampu menyelamatkan CAD dari keterpurukan. Strategi bertahan dengan menekan impor harus diimbangi strategi menyerang yang mendorong ekspor. Perluasan basis pasar ke negara non-tradisional wajib dilakukan pemerintah melalui diplomasi dagang yang mengedepankan win-win solution antarkedua negara. Proses industrialisasi juga harus diakselerasi khususnya pada industri berbasis substitusi impor melalui insentif fiskal serta didukung kepastian kebijakan yang konsisten.

Membaiknya iklim investasi dan daya saing juga perlu dioptimalkan untuk menangkap potensi perubahan rantai pasok global (global value chain) sebagai dampak dari tensi perang dagang antara AS-China. Pada sektor perdagangan jasa, pemerintah tidak boleh hanya berharap dari sektor pariwisata. Pemerintah mesti serius untuk mendorong tumbuhnya industri perkapalan nasional yang dapat menunjang aktivitas perdagangan global karena implementasi tol laut saja tidak cukup.

Mohammad Reza Hafiz Akbar peneliti INDEF


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed