DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 23 Oktober 2018, 15:36 WIB

Kolom

Menggali Slogan Politik yang Inspiratif

Imam Subkhan - detikNews
Menggali Slogan Politik yang Inspiratif Sebuah acara deklarasi mendukung capres (Foto: Ari Saputra)
Jakarta -
Pengaruh politik Donald Trump, Presiden ke-45 Amerika Serikat, sepertinya makin bersinar dan bahkan sudah menjalar ke Tanah Air. Calon Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya di depan peserta Rakernas LDII di Pondok Gede, Jakarta Timur dengan penuh semangat menyerukan "Indonesia First, Make Indonesia Great Again" yang terinspirasi dari slogan kampanye Presiden Trump, "American First" dan "Make America Great Again" (MAGA).

MAGA memang sangat populer. Jika saat ini Anda cari di mesin pencari Google, ditemukan hampir 13 juta frasa ini disebut di dunia maya. Sebenarnya Presiden Ronald Reagan, bukan Trump, yang pertama kali menggunakan slogan MAGA dalam kampanye politiknya pada 1980. Sementara, frasa American First dipopulerkan oleh kelompok Ku Klux Klan, sebuah kelompok ekstrem kanan supremasi kulit putih pada 1920-an. Maka dari itu, slogan ini oleh beberapa kalangan di Amerika disebut mengandung pesan rasisme khususnya yang disuarakan oleh kelompok supremasi kulit putih.

Terlepas dari kontroversi yang menyelimuti frasa MAGA, slogan ini terbukti efektif menyihir pemilih Amerika yang mengantarkan kemenangan Trump pada pemilu presiden 2016. Tulisan ini tidak bermaksud menilai apakah tepat dan benar secara moral menggunakan slogan ini dalam konteks politik kontemporer Indonesia. Namun, lebih melihat bagaimana sebuah slogan politik memainkan peranan penting dalam mengkonstruksi kesadaran politik pemilih yang pada gilirannya mempengaruhi arah preferensi politik mereka.

Bagaimana slogan MAGA mampu efektif mempengaruhi preferensi politik pemilih Amerika? Pertama, tentu saja karena slogan ini sederhana dan mudah diingat. Simple is better, sederhana itu lebih baik. Masyarakat akan susah mengingat slogal yang terlalu panjang dan rumit. Slogan "2019 Ganti Presiden" yang saat ini mulai agak redup saya kira contoh bagaimana slogan yang sederhana dapat dengan mudah masuk ke ingatan publik. Selain sederhana, hal kedua agar slogan politik itu efektif adalah mereproduksi slogan itu dalam semua material alat kampanye politik, mulai dari merchandise seperti topi, gelas, pin, kaos, website, spanduk, bendera, dan lain-lain.

Hampir seluruh produk alat kampanye Trump mencantumkan slogan ini di mana-mana. Topi merah Trump yang bertuliskan Make America Great Again sangat ikonik dan laris manis sepanjang kampanye presiden. Cara ini pernah dilakukan oleh kelompok Teman Ahok ketika menggalang dukungan untuk pencalonan Ahok melalui jalur independen dengan slogan "KTP Gue Buat Ahok". Meskipun akhirnya Ahok memilih diusung koalisi partai politik, mereka mengklaim berhasil mengumpulkan dukungan melebih jumlah minimal yang dipersyaratkan oleh undang-undang.

Ketiga, tidak terlalu penting soal asli atau tidak sebuah slogan politik yang digunakan, yang penting adalah memastikan pesan slogan itu sampai kepada pemilih. Dengan kata lain, slogan itu bukan hanya diketahui dan dipahami oleh pemilih, namun sampai pada tahapan dijiwai oleh mereka. Untuk sampai pada tahapan itu, slogan yang diciptakan harus memiliki hubungan batin atau frekuensi yang sama dengan kehidupan yang tengah dihadapi dan dialami pemilih.

Sebagian besar pemilih kulit putih Trump merasakan kehadiran kelompok kulit hitam dan imigran minoritas lambat laun mulai mengancam kekuasaan politik dan ekonomi mereka baik di lapangan kerja, bisnis, maupun pemerintahan dalam satu dekade terakhir ketika Obama berkuasa. Mereka merasa slogan MAGA yang digaungkan Trump mewakili keresahan dan kepentingan mereka. Di sini, pesan MAGA bukan sekadar diketahui tapi sudah masuk menjadi bagian kesadaran pemilih.

Untuk bisa masuk ke kesadaran pemilih, slogan politik itu harus diulang terus-menerus dalam setiap kesempatan di mana pun dan kapan pun. Trump melakukan itu dengan sangat konsisten. Slogan MAGA selalu diselipkan dalam berbagai pidatonya, disisipkan dalam setiap cuitan Twitter-nya. Tim kampanyenya juga melakukan hal yang sama hingga slogan itu membanjiri ruang publik dan menenggelamkan slogan lawan sengit politiknya Hillary Clinton, "Stronger Together". Hal yang sama juga pernah dilakukan oleh Obama dengan slogan "Yes We Can" pada kampanye 2008 yang belakangan diadaptasi oleh pasangan SBY-JK menjadi "Bersama Kita Bisa" pada Pilpres 2009.

Dalam soal menggali dan menciptakan slogan politik, Sukarno sampai saat ini tiada tandingannya. Lihat saja judul-judul pidato kenegaran yang dia sampaikan setiap tanggal 17 Agustus. Bukan hanya menginspirasi, namun juga mengabadi. Misalnya, "Tahun Kemenangan" (Takem), "Tahun Berdikari" (Takari), "Tahun Vivere Pericoloso" (Taviv), "Genta Suara Revolusi Indonesia" (Gesuri), dan yang paling disering dikutip orang adalah "Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah" (Jasmerah).

Sayangnya, sampai saat ini belum muncul slogan kampanye Pilpres yang cukup inspiratif dan ikonik dimunculkan oleh kedua pasangan baik dari kubu Jokowi-Ma'ruf Amin maupun kubu Prabowo-Sandi. Beberapa slogan yang muncul antara lain "Bersih, Merakyat, Kerja Nyata", "Indonesia Kerja", "Indonesia Adil Makmur", dan lain-lain belum cukup mampu mengagregasi emosi pemilih.

Slogan yang inspiratif bukan muncul dari manifestasi, representasi, dan personifikasi figur pasangan kandidat presiden. Apalagi kalau sekadar mengadopsi dari luar yang bisa jadi terputus dan timpang dengan konteks Indonesia. Agar efektif, slogan itu semestinya digali dari kristalisasi suasana kebatinan warga yang ingin diperbaiki kalau mereka terpilih sebagai presiden dan wakil presiden nanti. Hanya dengan cara itu sebuah slogan politik mampu menjadi jangkar bagi berbagai kehendak yang sama meskipun mereka berasal dari afiliasi dan golongan yang berbeda-beda sehingga mampu mendobrak kejenuhan politik.

Imam Subkhan mahasiswa doktoral Antropologi Politik University of Washington, penerima Beasiswa Presiden Republik Indonesia (BPRI) LPDP


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed