"Common Sense" Ishadi SK

CNBC Indonesia dan Investor Pasar Modal

Ishadi SK - detikNews
Senin, 22 Okt 2018 18:03 WIB
Ishadi SK (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Pada 10 Oktober 2018, bersamaan dengan Konferensi Tahunan IMF dan World Bank 2018, CNBC Indonesia diluncurkan di bawah naungan Transmedia (CT Corp), dan mulai saat itu, khususnya para pelaku usaha, terlebih lagi para pemain dan pelaku saham, bisa menikmati dan mengikuti pergerakan saham penting seluruh dunia, khususnya Indonesia. Hanya ada 5 negara yang memperoleh hak afiliasi dari CNBC International, yakni Italia, jepang, Abu Dhabi, India, dan Indonesia.

Dalam istilah mereka, "CNBC Indonesia akan menancapkan tonggak sejarah baru industri media dengan meluncurkan platform terintegrasi antara TV, media online dan mobile apps untuk mengakses berita ekonomi dan bisnis yang dilengkapi dengan fitur transaksi dan investasi."

CNBC singkatan dari "Consumer News and Business Channel", berdiri pada 17 April 1989 di New Jersey, milik NBC, satu dari empat TV Nasional free to air Amerika Serikat --tiga lainnya CBS, ABC, dan Fax TV. CNBC menyuguhkan liputan dan analisis pasar secara mendalam yang amat berpengaruh dalam pengambilan keputusan para pelaku dan pemain saham.

Untuk mendorong pembangunan ekonomi yang pada gilirannya menyejahterakan rakyat secara keseluruhan ada lima sumber keuangan negara-negara. Pertama, dana di RAPBN setiap tahun. Kedua, penanaman modal asing. Ketiga, perolehan dana dari laba BUMN. Keempat, utang luar negeri, yang harus dibayar setiap tahun. Kelima, modal asing dan dalam negeri yang dijalankan lewat Bursa Efek Indonesia

Dalam konteks investasi asing lewat bursa yang lebih penting adalah perception (persepsi). Kalau saham-saham yang ditanam di bursa Indonesia terus membaik, meningkat, atau paling tidak stabil, persepsi yang diperoleh investor asing terhadap prospek bisnis dan investasi di Indonesia tinggi. Sebaliknya, kalau terus menurun, persepsi masa depan ekonomi Indonesia tidak baik.

Persepsi menjadi kata kunci. Persepsi juga untuk para investor saham dalam negeri yang jumlahnya makin lama makin banyak. Ukurannya untuk dunia usaha papan atas adalah IPO (International Public Offering). Semakin ramai IPO, semakin baik persepsi terhadap potensi dan masa depan bursa dan ekonomi Indonesia. Dalam hal ini, peranan media seperti CNBCIndonesia.com dan CNBC Indonesia TV amatlah penting. Lewat kedua medium itu para pemain pasar bursa akan bisa mengikuti detik demi detik pergerakan naik turun saham dan mata uang, setiap hari selama 24 jam.

Berita-berita ekonomi dan bisnis disampaikan lewat TV biasa, TV kabel, mobile phone, tablet maupun desktop. Setiap menit digelontorkan video real time market analysis, we-exclusive live, video dan analisis perangkat finansial lainnya oleh para jurnalis dan analis profesional.

Di pasar bursa Indonesia sekarang ini menurut Direktur Finance IDX, Risa Effenita Rustam, terdapat lebih dari 600 perusahaan yang terdaftar dengan nilai kapitalisasi pasar saham sebesar Rp 6,7 triliun. Sebesar 51% dimiliki oleh para investor asing, dan 49% dimiliki oleh para investor Indonesia.

Tercatat rata-rata nilai transaksi harian saat ini mencapai Rp 8,5 triliun dengan lebih dari 60%-nya dilakukan oleh para investor Indonesia.

Jumlah penduduk Indonesia yang bermain saham (sebagai perangkat investasi termudah) masih amat sedikit. CNBC Indonesia seharusnya berperan dalam mendongkrak jumlah pemain saham.

Bursa Efek Indonesia telah melakukan banyak usaha untuk edukasi masyarakat dalam bentuk "Yuk Nabung Saham", dan pendirian lebih dari 400 galeri investasi di kampus-kampus yang tersebar di seluruh Indonesia, lewat media sosial dan lebih dari 400-an komunitas investor saham.

Investor pasar modal Malaysia berjumlah 2.490.000 (Desember 2017), 7,6% dari jumlah penduduknya yang mencapai 32,4 juta jiwa. Sedangkan investor pasar modal Thailand berjumlah 1.621.511 (September 2018), 2,3% dari jumlah penduduk yang dimilikinya, yaitu 69 juta jiwa. Filipina, dengan 105 juta jiwa penduduk, investor pasar modalnya hanya sebesar 0,83% dari jumlah penduduknya.

Sementara, Indonesia dengan jumlah penduduk 264 juta jiwa, investor pasar modal hanya 1.325.273 jiwa atau 0,5% dari jumlah penduduk.

CNBC yang merupakan media yang terutama melayani para investor pasar modal Indonesia mestilah harus ikut berperan mendorong lebih banyak lagi investor pasar modal untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang sehat, yang pada gilirannya CNBC Indonesia jugalah yang akan menikmati. Apalagi kelak, seperti dikatakan CEO CT Corp, Chairul Tanjung, ke depan CNBC Indonesia akan menjadi usaha platform fintech. Secara teknis hal yang mungkin di zaman ekonomi bisnis digital 4.0 sekarang.

Ishadi SK Komisaris Transmedia

(mmu/mmu)