DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Senin 22 Oktober 2018, 10:00 WIB

Kolom Kang Hasan

Jangan Terpesona oleh Klaim Riset

Hasanudin Abdurakhman - detikNews
Jangan Terpesona oleh Klaim Riset Hasanudin Abdurakhman (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Seorang penjual alat untuk memproduksi air yang diklaim punya banyak khasiat untuk kesehatan mengontak saya, menanggapi isi kolom saya minggu lalu. Katanya, ia punya data dari jurnal ilmiah yang menunjukkan bukti khasiat air yang diproduksi dengan alat yang ia jual. Saya tanya balik, bagaimana status riset pada jurnal itu, ia tidak menjawab. Ia kemudian berkali-kali menulis kata "reset" saat mencoba menjelaskan pada saya. Saya bisa menduga bahwa orang ini sebenarnya tidak paham soal apa yang sedang dibicarakan.

Saya bertanya soal status riset, dan ini pertanyaan penting. Ia sepertinya memang tidak paham. Alih-alih menjawab pertanyaan saya, ia mengirimi saya satu file presentasi. Itu data kami, katanya. Saya hanya bisa senyum sendiri. Sepertinya itu presentasi standar untuk "menggertak" orang-orang yang bertanya soal ilmiah atau tidaknya klaim mereka. Dengan penyataan "ini sudah ada risetnya" sepertinya lebih dari separuh pertanyaan soal kesahihan klaim bisa dimentahkan.

Satu dari sekian makalah jurnal yang disodorkan pada saya itu judulnya diawali dengan "pilot study...." Artinya, itu adalah percobaan awal. Hasil yang diperoleh tentu saja juga merupakan hasil studi awal. Hasil studi awal itu masih harus diuji terus sampai ditemukan hasil yang lebih meyakinkan. Konyolnya, jurnal tadi terbit tahun 2012. Seharusnya, kalau hasilnya meyakinkan, ada studi terbaru yang tidak lagi berstatus "pilot". Kenapa perlu menyodorkan makalah usang itu?

Klaim pada dunia riset itu biasa. Jangankan air, kencing onta saja ada risetnya, dan dimuat di jurnal ilmiah internasional. Hasilnya adalah klaim bahwa kencing onta punya khasiat ini dan itu. Tapi, satu-dua makalah di jurnal ilmiah tidak serta merta boleh dijadikan dasar untuk membenarkan klaim khasiat ini dan itu. Tidak semudah itu.

Dalam dunia kesehatan klaim awal seperti itu tidak bisa dijadikan patokan apapun bagi orang awam. Ada proses panjang yang harus dilalui sampai suatu produk bisa dikonsumsi oleh orang awam. Hasil riset awal tadi harus menjalani berbagai pengujian dari berbagai sisi. Setelah diperoleh hasil yang meyakinkan, baru dilakukan proses untuk membuat suatu produk. Ini juga riset.

Setelah produk dihasilkan, dilakukan lagi proses uji klinis yang panjang. Ada sejumlah hal penting yang ingin diperoleh dalam uji klinis. Di antaranya, untuk memastikan efek produk tadi secara sahih. Satu dua pengguna yang merasakan manfaat jelas bukan dalil yang cukup untuk membuktikan kesahihan khasiat produk. Seratus-dua ratus pun belum cukup. Harus dilakukan pengujian sistematis, untuk memastikan bahwa khasiat yang diperoleh memang berasal dari produk tadi, bukan efek lain, misalnya sugesti.

Efek produk banyak yang tidak sahih. Kita banyak mendengar kesaksian soal khasiat produk dari penggunanya. Sebagian pengguna itu adalah penjualnya juga. Jadi, ia terus meyakinkan dirinya bahwa barang yang ia pakai berkhasiat. Dengan keyakinan itu ia bisa menjual produk. Sebagian lain hanyalah pemakai tak cerdas. Efek yang ia rasakan sebenarnya tak ada. Ia merasa berbeda karena diyakinkan oleh berbagai pihak. Kalau pun ada yang tampak berubah karena khasiat, itu bukan bukti, karena itu hanyalah hasil pengamatan kasar tanpa struktur, sehingga tidak bisa dipastikan kebenarannya.

Sisi lain yang tidak kalah penting adalah untuk menguji ada tidaknya efek sampingan. Ada banyak produk yang bisa dibuktikan punya efek yang bagus, tapi tidak bisa dipakai karena efek sampingannya buruk. Produsen harus memastikan efek sampingan produknya dalam batas yang dibolehkan.

Setelah itu semua dilalui barulah sebuah produk boleh dikonsumsi orang banyak. Tanpa proses itu, konsumen dihadapkan pada dua potensi kerugian, yaitu khasiat yang sebenarnya tidak ada, dan ancaman efek sampingan yang berbahaya. Kalau Anda mengkonsumsi suatu produk yang masih dalam tahap riset awal, Anda berhadapan dengan dua jenis kerugian itu.

Oleh karena itu jangan buru-buru percaya pada klaim-klaim seperti itu. Banyak orang mendengar "riset" dan "jurnal" seperti mendengar mantra. Karena sudah ada risetnya, berarti ini sudah benar. Tidak demikian. Saya tidak mengatakan riset tadi salah atau bohong. Risetnya benar. Tapi, sikap Anda dalam menyikapinya yang salah. Temuan riset tidak serta merta memberi Anda izin untuk mengkonsumsi suatu produk.

Riset itu bisa kita sederhanakan dengan menganggapnya sebuah percobaan. Artinya, selama statusnya masih berupa riset, produk itu masih sedang diuji. Artinya, belum siap dikonsumsi. Kalau Anda konsumsi, Anda menjadikan tubuh Anda sebagai objek percobaan liar. Ya, liar, karena tidak ada yang memantau efeknya pada tubuh Anda.

Sama seperti produk percobaan tadi, jurnal ilmiah juga bukan konsumsi awam. Ketika orang jual produk dengan menyodorkan jurnal ilmiah sebagai bukti klaim, jelas ia hendak menipu. Konsumen pada umumnya adalah orang awam yang tidak paham apa yang ditulis di jurnal. Isi makalah jurnal dibuat untuk dibaca oleh kalangan profesional di bidang tersebut. Orang awam tidak paham isinya. Tujuan menyodorkan jurnal memang bukan untuk memahamkan, tapi sekadar untuk menggertak saja.

Panduan kita sederhana. Ada BPOM yang bertugas menyeleksi berbagai jenis produk obat dan makanan yang beredar. Kalau sudah ada izin dari BPOM, kita bisa yakin bahwa produk itu aman dikonsumsi. Bila tidak, Anda tidak usah mengkonsumsinya. Apalagi bila produk itu sudah dinyatakan tidak berkhasiat oleh BPOM. Untuk apa Anda membelinya?

Tapi, penjual sering kali memang tidak kehilangan akal. Mereka pandai pula meramu teori konspirasi. Ada yang tidak segan menuduh BPOM ketinggalan zaman. Bahkan ada yang menuduh itu bagian dari perang dagang dari produsen saingan. Di tulisan saya yang membongkar kepalsuan produk-produk seperti itu selalu ada tuduhan bahwa tulisan saya adalah fitnah untuk menjatuhkan produk tersebut.

Jadilah konsumen cerdas, yang tahu bagaimana mencari informasi dan memastikan khasiat suatu produk. Jangan silau oleh klaim-klaim.

Hasanudin Abdurakhman cendekiawan, penulis dan kini menjadi seorang profesional di perusahaan Jepang di Indonesia

(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed