DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Rabu 17 Oktober 2018, 15:00 WIB

Kolom

Hoaks, Raja, dan Keledai Dungu

Djoko Subinarto - detikNews
Hoaks, Raja, dan Keledai Dungu
Jakarta - Kabar-kabar bohong dengan mudah kita percaya karena kita cenderung mengedepankan hati ketimbang pikiran, mengedepankan perasaan ketimbang pengetahuan.

Kemajuan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini telah membuat kita semua berada di zaman nyaris serbadigital. Kemajuan ini tentu saja melahirkan dampak positif dan juga dampak negatif. Selalu ada sisi plus dan sisi minus dari kelahiran sebuah teknologi. Tak bisa kita mungkiri, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi telah pula menelurkan berbagai inovasi dahsyat yang membuat kehidupan kita semakin mudah.

Namun, di saat yang sama, kemajuan ini juga mendorong munculnya apa yang disebut sebagai zaman disruptif, yang ditandai dengan banyaknya perubahan serta guncangan yang menerpa berbagai sektor kehidupan kita.

Dalam soal akses dan produksi informasi, keberadaan internet sebagai salah satu bagian dari kemajuan teknologi komunikasi telah menjadikan arus informasi saat ini bukan monopoli segelintir individu atau kelompok. Siapa pun, sepanjang memiliki akses internet, bisa melahap informasi tanpa batas. Bukan cuma itu, siapa pun kini bisa pula memproduksi informasi, terlepas apakah informasi itu bernilai atau tidak, dan menyebarkannya ke seantero jagat dengan cepat dan seketika alias real time.

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) yang dirilis baru-baru ini, pengguna internet di Indonesia pada 2017 mencapai 143,26 juta orang dengan penetrasi 54,68 persen dari total penduduk yang berjumlah 262 juta jiwa. Jumlah tersebut meningkat sekitar 10 persen dibandingkan pada 2016, sebanyak 132,7 juta orang.

Seperti disebutkan di muka, siapa pun sekarang ini dapat memproduksi informasi, baik itu teks, gambar, audio maupun video, dan menyebarkannya lewat beragam platform media sosial. Kendatipun demikian, tidak semua informasi yang didistribusikan lewat media sosial itu benar dan akurat. Tidak sedikit informasi yang disebarkan lewat media sosial justru merupakan berita palsu atau berita bohong serta menyesatkan, yang tujuan utamanya antara lain untuk memprovokasi, menghasut, memfitnah, menebar kebencian serta mengadu-domba antarelemen masyarakat.

Repotnya, berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika, 92,60 persen berita bohong atau hoaks justru bersumber dari media sosial.

Sejatinya, setiap teknologi adalah bebas nilai. Baik dan buruknya sangat bergantung sepenuhnya kepada para penggunanya. Di tangan para pengguna yang cerdas dan bijak, keberadaan media sosial bakal melahirkan hal-hal produktif berupa berbagai kebaikan dan kemanfaatan. Sebaliknya, di tangan mereka yang kurang cerdas dan sembrono, besar kemungkinan media-media sosial itu hanya mendorong munculnya perilaku tidak produktif, yang memicu berbagai keburukan dan kesia-siaan.

Kritis dan Skeptis

Kita semua memiliki hati. Selain hati, kita juga memiliki pikiran. Hati terkait erat dengan perasaan, sedangkan pikiran terkait erat dengan pengetahuan.

Kenneth Hanson (2004), penulis buku Secrets From the Lost Bible, yang juga mahaguru bidang filsafat dan agama di Universitas Central Florida, Orlando, Amerika Serikat pernah menyatakan bahwa manusia sebaiknya menempatkan lebih dahulu pikiran di depan hatinya. Mereka yang menempatkan pikiran di depan hatinya ibarat seorang raja, sedangkan mereka yang menempatkan hati di depan pikirannya ibarat seekor keledai dungu, begitu menurut hemat Kenneth Hanson.

Keberadaan seorang raja, sudah barang tentu, jauh lebih baik daripada seekor keledai yang dungu. Pun seorang raja akan lebih berharga daripada seekor keledai yang dungu. Pasti, kita semua ingin bersikap dan berperilaku seperti seorang raja. Kita semua tidak ingin menjadi keledai-keledai dungu.

Jika kita ingin bersikap dan berperilaku seperti seorang raja, semestinya hidup kita lebih bersandar pada apa yang kita ketahui, bukan melulu pada apa yang kita rasakan. Mengapa demikian? Kenneth Hanson mengatakan, "Kehidupan pada hakikatnya bukan hanya apa yang kita rasakan. Kehidupan pada hakikatnya juga apa yang kita ketahui."

Perasaan itu sifatnya subjektif. Sedangkan, pengetahuan akan lebih objektif. Apa yang kita rasakan baik sangat boleh jadi justru malah buruk bagi orang lain, termasuk buruk bagi lingkungan sekitar kita. Maka, setiap perilaku kita, setiap tindakan kita, seyogianya harus lebih bersandar pada pengetahuan. Bukan melulu bersandar pada perasaan.

Kabar-kabar bohong yang menyesatkan saat ini dengan mudah memperdaya diri kita karena kita tampaknya lebih mengedepankan hati dan perasaan ketimbang mengedepankan pikiran dan pengetahuan. Kita tahu, perasaan cenderung membuat kita tuli dan buta, sedangkan pengetahuan akan menjadikan kita lebih kritis serta lebih skeptis.

Di tengah banjir informasi yang sulit sekali kita bendung dewasa ini, kemampuan untuk berpikir kritis dan skeptis merupakan aspek penting yang mesti dimiliki oleh segenap warga negeri ini, lebih-lebih lagi para pemimpin dan calon pemimpin.

Lahan subur bagi kabar-kabar bohong bakal musnah dengan sendirinya apabila masyarakat mampu senantiasa berpikir kritis serta skeptis.

Djoko Subinarto kolumnis dan esais


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed