DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Rabu 17 Oktober 2018, 11:18 WIB

Kolom

Menikmati Politik dengan Metalinguistik

Rahmat Petuguran - detikNews
Menikmati Politik dengan Metalinguistik Deklarasi Kampanye Damai (Foto: Fuad Hasim/detikcom)
Jakarta - Setelah kampanye damai dideklarasikan, kampanye Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2019 secara resmi dimulai. Sebagaimana pemilu pada musim sebelumnya, masyarakat punya tugas berat memilih dan memilah informasi mana yang terpercaya dan mana yang tidak selama masa kampanye. Tugas itu penting sekaligus genting. Itu tugas penting karena demokrasi mengasumsikan setiap warga negara memiliki pengetahuan memadai sebagai bekal pengambilan keputusan.

Demokrasi tanpa literasi informasi yang cukup adalah demokrasi yang cacat. Jika warga negara menggunakan informasi yang keliru dalam pengambilan keputusan, demokrasi bersifat semu. Tugas itu juga genting karena menentukan siapa yang akan berkuasa selama lima tahun ke depan. Pilihan yang tepat dapat membawa bangsa Indonesia lebih maju dan sejahtera, sementara pilihan salah dapat menimbulkan kesengsaraan bersama.

Pada era keterbukaan informasi seperti kini, membedakan pernyataan terpercaya dan mana yang bohong tampaknya pekerjaan sederhana. Namun, pengalaman justru menunjukkan hal sebaliknya. Semakin canggih teknologi, semakin sulit informasi palsu diidentifikasi. Kecanggihan para pembuat kebohongan selalu selangkah lebih maju dari rata-rata kecakapan literasi warga. Kondisi inilah yang membuat masyarakat perlu memberdayakan metalinguistik. Pengetahuan metalinguistik bisa menjadi piranti dasar agar tiap warga negara memiliki sensitivitas terhadap pernyataan-pernyataan politik di sekitarnya.

Bahasa Dua Panggung

Secara sederhana, metalinguistik dapat dipahami sebagai pengetahuan yang menghubungkan gejala bahasa dengan gejala di luar kebahasaan. Pengetahuan ini berguna karena setiap ekspresi bahasa pasti lahir dari kondisi psikologi, sosial, dan politik yang melatarinya. Kondisi di luar kebahasaan itu dapat digunakan untuk menguji apakah sebuah pernyataan layak dipercaya, meragukan, atau justru sebuah kebohongan.

Chomsky (dalam Alipour, 2014) mendefinisikan metalinguistik sebagai kajian mengenai subjek dan struktur bahasa. Kajian ini muncul berkat kesadaran bahwa bahasa adalah sebuah sistem yang membentuk keteraturan sehingga pengguna dan penggunaannya terikat dengan pola-pola tertentu, baik pola yang disadari maupun tidak. Orang dengan literasi metalinguistik yang baik dapat membaca siasat bahasa yang digunakan orang lain sehingga dapat mengetahui bagaimana bahasa diberdayakan untuk kepentingan penuturnya.

Dalam arena politik, jarak antara "yang dinyatakan" dan "yang disembunyikan" kerap sangat lebar. Metalinguistik berguna untuk melihat bagaimana jarak itu dibuat, dengan siasat apa, dan apa ideologi yang melatarbelakanginya. Dengan jangkauan demikian, metalinguistik bisa menjadi perangkat tambahan untuk menajamkan sikap kritis warga. Sikap itu diperlukan karena hampir setiap ekspresi bahasa mengandung kepentingan yang cenderung manipulatif. Ada kepentingan yang diungkapkan, ada yang disembunyikan. Metalinguistik bisa menjadi "pemandu" untuk melacak kepentingan dimanipulasi yang berusaha disembunyikan pengguna bahasa.

Pengetahuan metalinguistik baru-baru ini menjadi pembicaraan setelah New York Times memuat artikel anonim yang berisi pesan agar Presiden Trump dilengserkan. Koran itu tidak mau mengumumkan identitas penulis artikel itu, namun diketahui bahwa penulisnya adalah staf Gedung Putih. Berdasarkan petunjuk sederhana itu, BBC menduga bahwa penulis anonim itu adalah Wakil Presiden Mike Pence. Dugaan itu didasarkan pada analisis sintaksis tulisan. Panjang rata-rata kalimat dalam tulisan opini itu adalah 19,3 kata.

BBC kemudian membandingkan dengan sejumlah keterangan resmi yang dikeluarkan oleh staf dan pejabat Gedung Putih. Pernyataan Sekretaris Pers Sarah Sanders tentang Suriah rata-rata 31 kata per kalimat. Surat dari Trump kepada Senat AS pada 28 Agustus rata-rata 30 kata per kalimat. Hanya Mike Pence yang konsisten membuat kalimat di bawah 20 kata per kalimat. Selain analisis sintaksis, BBC juga menganalisis penggunaan istilah aneh pada opini tersebut. Istilah tertentu biasanya identik dengan subjek tertentu. Baik pada tulisan opini maupun pidato Pence dapat ditemukan kata "lodestar".

Analisis BBC mudah diterima akal karena relevan dengan dua realitas politik. Pertama, Pence adalah orang yang paling diuntungkan jika Trump benar-benar lengser. Kedua, Pence diketahui memiliki pengalaman menjadi penyiar radio. Orang-orang yang terlatih dalam bidang jurnalistik lazim menggunakan kalimat pendek agar tulisan atau perkataannya relatif mudah dipahami pendengar atau pembaca.

Analisis kebahasaan yang dilakukan BBC pada dasarnya bisa dilakukan siapa pun yang memiliki pengetahuan metalinguistik memadai. Analisis itu juga bisa dilakukan terhadap siapa pun: pacar, salesman, dan tentu saja: politisi. Sebab, setiap orang memiliki keunikan verbal serupa DNA yang sangat sulit diingkari keberadaannya.

Kebohongan Budaya, Kebohongan Politik

Tetapi, benarkah metalinguistik cukup efektif untuk mengidentifikasi kebohongan? Dalam masyarakat Indonesia, kebohongan ternyata memiliki variasi yang cukup banyak. Ada jenis kebohongan yang bisa diterima secara budaya, ada yang ditolak karena dianggap sebagai bentuk kejahatan. Bahkan, meski lazim dianggap sebagai kecacatan moral, kebohongan juga kerap dipandang sebagai bentuk perkembangan mental.

Kebohongan anak-anak masa awal perkembangannya, misalnya, tidak dipandang sebagai kejahatan melainkan keberhasilan bersiasat dalam merespons kondisi lingkungan. Dengan melahirkan kebohongan, anak-anak belajar bahwa tidak setiap hal harus dinyatakan secara apa adanya. Sejumlah kebohongan diterima secara sosial dan budaya sehingga cenderung lestari hingga saat ini.

Di sejumlah komunitas, kebohongan adalah siasat yang bisa dimaklumi jika digunakan untuk menghindari konflik, menjaga harmoni, dan mematuhi aturan sosial. Dengan takaran yang beragam, bahkan dapat dikatakan bahwa setiap pengguna bahasa pada dasarnya adalah pembohong. Sebab, setiap orang selalu memilih ide yang ingin dikatakan dan ide yang disembunyikan.

Gaya bahasa metafora yang sering digunakan dalam sastra pada dasarnya adalah kebohongan. Demikian pula gaya bahasa lain yang lazim digunakan dalam perbincangan sehari-hari: eufemisme, disfemisme, hiperbola, dan personifikasi. Namun, kebohongan itu bisa diterima tanpa perlu dipersoalkan aspek etisnya.

Jenis kebohongan yang dianggap sebagai kejahatan adalah kebohongan politik. Jenis kebohongan ini patut diwaspadai karena lahir dari niat menguntungkan diri dan mengorbankan kepentingan masyarakat luas. Agar kebohongan ini tidak menimbulkan kerusakan, kebohongan ini perlu diidentifikasi, digugat, juga dilawan. Janji palsu dalam kampanye masuk dalam kategori ini. Sebab, janji ini digunakan subjek tertentu untuk mengakumulasi kekuasaan sehingga ia memiliki akses mengatur kehidupan orang banyak. Kekuasaan yang diperoleh dengan kebohongan cenderung dikelola secara manipulatif sehingga menimbulkan kerugian luas.

Di sinilah metalinguistik menemukan signifikansinya. Dengan pengetahuan metalinguistik yang cukup, publik akan lebih kritis menerima janji yang didengarnya. Jika janji itu mengandung siasat yang manipulatif, patut dibantah atau diabaikan. Lima tahun adalah waktu yang terlalu lama untuk hidup di bawah pemimpin yang tak jujur.

Rahmat Petuguran dosen Bahasa Indonesia Universitas Negeri Semarang, penulis buku Politik Bahasa Penguasa (2016)


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed