DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 16 Oktober 2018, 16:10 WIB

Kolom

Makanan dan Manusia: Refleksi Hari Pangan Sedunia

Hanry Tapotubun - detikNews
Makanan dan Manusia: Refleksi Hari Pangan Sedunia Foto: Detikfood
Jakarta -

Secara biologis, manusia dan semua makhluk hidup perlu makan sebagai salah satu syarat kelangsungan hidup. Berbeda dengan ras makhluk lain, makan dalam perkembangan sejarah manusia telah menjadi bagian yang tidak bisa dilepaskan dari evolusi manusia. Hal inilah yang oleh Yuval Noah Harari (2014) dalam bukunya, Sapiens: A Brief History of Humankind dijelaskan sebagai "makanan adalah dasar manusia dalam berbudaya."

Menyongsong Hari Pangan Internasional yang jatuh pada 16 Oktober ini, menarik untuk melihat kembali bagaimana pemaknaan nilai dalam makanan, yang memang telah menjadi salah satu dasar berbudaya masyarakat dunia, termasuk juga masyarakat Indonesia. Dalam hal ini, fokus akan diarahkan pada bagaimana ikatan antara manusia Indonesia dalam dinamika sosial dan budaya masyarakat.

Menghargai Nilai

Masyarakat Indonesia ialah tipe masyarakat yang sangat menghargai nilai, mulai dari hal-hal besar hingga hal-hal kecil selalu memiliki nilai, termasuk dalam hal ini makanan. Dalam banyak konteks budaya lokal di Indonesia, makanan memiliki nilai yang sangat tinggi, baik secara personal, sosial, bahkan spiritual. Masyarakat Jawa misalnya, menganggap bahwa berbagi makanan berarti berbagi hidup. Sejalan dengan itu, masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar di Jawa Barat bahkan menganggap beras atau padi sebagai dewi kehidupan. Hal ini menunjukkan bahwa makanan bukan hanya masalah biologis manusia Indonesia, tapi merupakan salah satu dasar masyarakat Indonesia berbudaya.

Perkembangan "nilai" sosial budaya dalam makanan juga menjadi semakin kompleks. Salah satu yang mempengaruhi ialah ketika kaum Eropa datang ke wilayah Nusantara, yang akhirnya berdampak pada pertukaran pengetahuan tentang makanan serta nilai yang terkandung di dalamnya. Kita tak bisa memungkiri bahwa dengan kedatangan bangsa Eropa ke Nusantara, makanan di Indonesia pada akhirnya memiliki strata, mengikuti sistem masyarakat yang juga mulai terdampak oleh sistem strata sosial, yang mayoritas diperkenalkan (atau semakin diruncingkan) oleh bangsa Eropa. Roti misalnya, bahkan sampai sekarang ini masih dianggap identik dengan kaum kelas atas, yang memang pada zaman penjajahan merupakan makanan kaum penjajah. Dari sini dapat kita lihat bahwa sistem nilai yang dianut oleh masyarakat mempengaruhi nilai pada makanan yang dikonsumsi.

Berlanjut pada era yang sudah (dianggap) modern ini, cara pandang manusia Indonesia mengenai makanan masih tetap sama, yaitu tetap memiliki nilai, meski bisa dikatakan telah bergeser jauh, dari yang bernuansa sosial ke nilai yang lebih individual. Hal ini tak bisa dihindari merupakan dampak dari konstruksi masyarakat yang semula adalah masyarakat komunal (community) ke masyarakat yang lebih individual (society). Saya sendiri melihat fenomena ini sebagai dampak "klasifikasi makanan" sebagai produk kolonialisme, dan sistem masyarakat individual-modernis sebagai produk liberal-kapitalis.

Pergeseran ini agaknya menjadi sangat nyata terlihat dalam masyarakat, terutama jika kita membandingkan generasi dulu dan mayoritas generasi saat ini. Tidak usah terlalu jauh membandingkan, contoh yang paling nyata ialah bagaimana nenek kita dengan kita saat ini dalam hal melihat dan memperlakukan makanan. Meski kita mengklaim bahwa penilaiannya masih tetap dipertahankan, tetap saja ada ruang yang bergeser, ada makna yang berubah.

Dulu dan Sekarang

Sedikit membandingkan antara dulu dan sekarang, sistem sosial yang dianut oleh masyarakat ialah sistem komunitarian, di mana kelas atau kategori sosial diukur berdasarkan afiliasi setiap individu, atau bisa berdasarkan garis keturunan. Pada sistem masyarakat seperti demikian, makanan sangat identik dengan kelompok, seperti roti yang identik dengan penjajah, dan singkong yang identik dengan pribumi.

Berbeda dengan saat ini, sistem masyarakat semakin bergerak ke pola masyarakat individualis, yang menyebabkan setiap manusia memiliki "kesempatan" yang sama untuk didefinisikan sebagai "orang kelas atas". Mau tidak mau, makanan dalam konteks ini menjadi salah satu media kontestasi perebutan gelar "high class" tersebut. Sebut saja fenomena makanan-makanan yang "hits" bagi kawula muda saat ini. Suatu hal yang lazim bagi kaum milenial ini untuk bisa menunjukkan apa dan di mana mereka makan di jagat media sosial, baik kepada teman maupun "rival" mereka.

Contoh lain, produk-produk makanan yang diproduksi atau dipromosikan oleh golongan selebritas, selebgram, vlogger, dan lain-lai. yang pada aspek tertentu memang mengalami peningkatan penjualan. Kenyataan ini semakin memperkuat apa yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa makanan telah mengalami distorsi nilai dari simbol solidaritas sosial ke status sosial.

Ruang Perubahan

Dari sini, kita seharusnya menyadari dua hal. Pertama, bahwa pemaknaan terhadap makanan akan selalu bergerak mengikuti perubahan masyarakat, baik secara personal, sosial, bahkan spiritual. Selain itu, faktor perubahan itu juga dipengaruhi oleh pertukaran ide mengenai segala hal, salah satunya juga pertukaran ide tentang makanan. Sederhananya, makanan bisa dikatakan sebagai ruang perubahan itu sendiri dalam fenomena masyarakat yang dinamis.

Oleh karena itu, memahami makanan bukan hanya sebatas perannya sebagai penyumbang nutrisi bagi kelangsungan hidup manusia Indonesia. Lebih dari itu, ialah esensi dari manusia, sehingga melihat apa yang dimakan oleh manusia Indonesia berarti melihat manusia Indonesia dalam segala dinamikanya.

Selamat makan, dan ingatlah akan ikatan semesta yang telah berkorban untuk menyajikan makanan di mejamu!

Hanry Tapotubun kelahiran Ambon, sedang menyelesaikan Studi Agama Lintas Budaya di Sekolah Pascasarjana UGM, fokus pada Fenomena Masyarakat dan Perdamaian


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed