DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 16 Oktober 2018, 15:00 WIB

Sentilan Iqbal Aji Daryono

Kita yang Terobsesi dengan Kecepatan

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Kita yang Terobsesi dengan Kecepatan Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - "Ada banyak sekali buku yang harus Anda baca, tapi waktu Anda tidak cukup? Anda ingin menghemat 70% waktu belajar Anda? Ikuti seminar kami, bacalah dengan metode blablabla, dan Anda akan bisa membaca satu buku dalam hitungan menit!"

Sudah lama saya mendengar metode baca kilat atau baca cepat. Dengan teknik tertentu, konon, kita bisa melatih diri untuk membaca 100 halaman dalam dua kedipan.

Di dinding Facebook saya, kalimat promosi semacam kutipan di atas itu terus-menerus muncul pada beberapa hari belakangan ini. Mungkin karena saya sering mencari akun pedagang buku online, atau nge-klik pengumuman diskusi-diskusi perbukuan, maka nongol jugalah iklan-iklan yang menawarkan bimbingan agar kecepatan membaca saya setara dengan kecepatan pukulan Khabib Nurmagomedov.

Iseng-iseng, saya baca nama-nama trainer pelatihan-pelatihan baca cepat itu. Jelas, posisi mereka penting sekali. Asumsi saya, karena mereka trainer, otomatis sudah ribuan buku mereka baca. Lha sekelas peserta saja dijamin bisa tuntas membaca satu buku tebal cukup selama 30 menit, dengan pemahaman maksimal. Berarti kalau sudah trainer, otomatis paling jelek dalam 10 menit bisa menyelesaikan satu buku.

Coba bayangkan, dengan kemampuan seperti itu, ada berapa puluh buku yang mereka baca dalam sehari? Berapa ratus buku dalam sepekan, berapa ribu buku dalam sebulan? Pasti dalam usia muda mereka telah tuntas membaca puluhan ribu buku, dengan pemahaman sempurna. Luar biasa. Saya iri sekali.

Dengan akses dan penguasaan atas pengetahuan yang menggunung, tak terbantahkan lagi, mereka pasti berhasil juga memproduksi pengetahuan-pengetahuan baru yang serba hebat. Itu konsekuensi logisnya.

Maka, nama-nama para master-membaca-cepat tadi saya masukkan Google, saya klik search, untuk menemukan apa saja karya-karya intelektual mereka, buah-buah pemikiran canggih mereka, penemuan-penemuan mengejutkan dari mereka, yang kira-kira cukup untuk sedikit menggoyang dunia.

Namun, ah, ternyata tidak ada. Pencarian saya sia-sia. Nama-nama para trainer itu ya cuma menempel di aneka acara pelatihan membaca cepat, di e-book tentang membaca cepat, atau di beberapa artikel tentang membaca cepat. Itu saja.

Dari situ, muncul di kepala saya satu pertanyaan paling mendasar: untuk apa membaca buku cepat-cepat? Jawabannya langsung ketemu dengan tak kalah cepat: kita perlu membaca buku cepat-cepat, agar bisa menjadi trainer pelatihan membaca cepat! Hahaha!

***

Mohon maaf, saya tidak sedang menertawai cara orang berbisnis, apalagi sampai mengejek cara orang mencari nafkah. Semoga saya dijauhkan dari sikap-sikap tak berbudi semacam itu.

Namun, ilustrasi kecil tentang cita-cita membentuk kemampuan membaca cepat itu tadi agaknya bisa menjadi gambaran atas obsesi kita di zaman ini: obsesi atas kecepatan. Main dulu-duluan, main balap-balapan. Berlarian sampai terengah-engah, melaju terburu sampai ngos-ngosan.

Rumus yang kita pegang pun lambat laun membaku: yang menang bukanlah siapa yang paling matang, namun siapa yang paling duluan.

Dengan atmosfer zaman seperti ini, semua bergabung dalam ajang adu kecepatan. Para produsen informasi berebut meraih posisi nomer satu dalam mengabarkan sesuatu. Cepat-cepatan. Tak peduli hanya cangkang judul beritanya saja yang tampil menggigit, dengan badan yang kopong gabuk tanpa isi, yang penting nongol paling cepat. Siapa yang muncul lebih belakangan, dia terjengkang.

Para pengunyah informasi pun, mau tak mau, terseret arus itu. Mereka meluncur bersama dalam situasi adu cepat. Siapa lebih cepat merespons, dialah yang menang. Maka, yang harus dilakukan adalah mangap duluan, sedangkan kejernihan silakan duduk di bangku nomor sekian.

Pernah suatu kali, saya berlibur sepekan saja bersama keluarga. Selama waktu itu, sangat minim saya gunakan ponsel saya. Begitu pulang, lalu saya aktif kembali dengan segenap kanal media sosial, tiba-tiba beberapa kawan mencecar saya.

"Hoi, kenapa kamu nggak berkomentar soal isu kalajengkingnya Jokowi? Mana pendapatmu? Ngumpet ke mana saja kamu? Juga tentang berita yang ini, juga yang itu?"

Waduh. Ada apa ini? Ada apa?

Demi Tuhan, semua perkara yang diberondongkan itu sama sekali belum saya ketahui. Saya pun sontak merasa bodoh tak terperi. Cuma sepekan saja pergi, diri ini langsung tersulap bak pemuda Ashabul Kahfi yang keluar gua di zaman yang telah berganti.

Mendadak, seperti ada tanggung jawab kemanusiaan yang ditimpakan secara wajib di tengkuk setiap makhluk, untuk mengetahui setiap biji peristiwa secara cepat. Membuat respons komentar seketika dalam format analisis abal-abal adalah ukuran kehormatan intelektual. Kata "nggak update" pun jadi predikat yang menjijikkan, bahkan mengerikan.

***

"Kita sekarang sangat senang menjadi speed boat, dan tak lagi mau menjadi kapal selam." Begitu lebih kurang kata Pak Sumar, pak guru paling progresif se-tlatah Kasultanan Yogyakarta. Speed boat itu, sambung Pak Sumar, tugasnya adalah melesat cepat, tapi cuma di permukaan. Ia bukan kapal selam, yang berjalan agak lambat, tenang, tapi di kedalaman.

Maka, kira-kira ya seperti para penggila membaca cepat itu tadi. Cepat, dan banyak. Sebab sesungguhnya bukan cuma speed yang mereka kejar, melainkan juga kuantitas. Bukan hanya adu cepat, melainkan juga adu banyak. Membaca 15 buku dalam sekali penerbangan Jakarta-Palembang. Menyelesaikan 100 buku dalam seminggu. Satu detik untuk satu halaman. Begitulah yang pernah saya dengar.

Paham materinya sih mungkin memang paham. Hafal sih mungkin memang hafal. Tapi, setelah paham dan hafal, lalu apa? Ya, setelah paham dan hafal, yang dikejar adalah ratusan buku yang lain lagi, untuk dibaca kilat lagi dan dihafal lagi. Begituuu terus, sampai cebong dan kampret kawin silang lalu bahagia selamanya.

Kita senang menumpuk pengetahuan. Ilmu kita posisikan sebagai barang koleksi. Pokoknya banyak-banyakan tahu, sambil pura-pura lupa bahwa pengetahuan adalah bahan mentah yang mesti direfleksikan, lalu diolah ulang untuk menjadi pengetahuan tahap lanjut yang lebih matang.

Lalu bagaimana? Mau ke mana kita?

"Kuncinya adalah tuma'ninah," kata seorang kiai pada suatu ketika. "Tanpa tuma'ninah, kita cuma mengejar rakaat salat, tanpa meraih kedalaman."

Tuma'ninah adalah berhenti sesaat dalam gerakan-gerakan salat. Sembahyang tak boleh dilakukan sambil terburu-buru, berkejaran dengan waktu. Dalam setiap ruas gerakan, ada beberapa detik yang mesti diambil untuk berhenti, meresapi, menghayati, dan menikmati.

"Tuma'ninah itu jeda, simbol napas kehidupan kita. Kita mesti menjalani hidup dalam jeda demi jeda, bukan dalam irama yang terus berkejar-kejaran sepanjang masa," sambung Pak Kiai ketika menolak tawaran tiket pesawat dari kami, dan lebih memilih naik kereta api.

Sepertinya, cara kita membaca selama ini, cara kita menumpuk-numpuk pengetahuan, cara kita mengakses informasi, tidak begitu cocok dengan pesan Pak Kiai.

Iqbal Aji Daryono esais, tinggal di Bantul


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed