detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 16 Oktober 2018, 11:00 WIB

"Common Sense" Ishadi SK

Nonton (Lagi) Pentas "I La Galigo" di Bali

Ishadi SK - detikNews
Nonton (Lagi) Pentas I La Galigo di Bali Ishadi SK (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Jumat, 10 Oktober 2018 di Denpasar, Bali berlangsung acara peluncuran CNBC Indonesia, portal TV News khusus berita ekonomi, finansial, dan bisnis di bawah naungan Transmedia Group pimpinan Chairul Tanjung (CT). Peresmian dilakukan oleh Wapres Jusuf Kalla, disaksikan oleh Presiden CNBC International, Menko Kemaritiman, Ketua OJK, BEJ, dan Gubernur Bank Sentral. Pak CT sumringah sepanjang acara. Banyak bos bisnis besar hadir dari dalam maupun luar negeri.

Malamnya saya diundang Restu Kusumanegaran untuk menghadiri pagelaran I La Galigo. Restu adalah co-producer dan artistic coordination pertunjukan tersebut. Sebuah karya klasik berdasarkan buku suci era Pra Islam orang-orang Bugis, Makasar, Mandar, dan Toraja. Buku itu betutur tentang cara kehidupan purba yang terbagi dalam 3 dimensi masa. Dunia atas, tempat para dewa, dunia tengah --yang masih kosong dan kemudian diisi oleh putera-puteri sulung para bangsawan dunia atas-- dan dunia bawah. Buku itu kemudian disunting dalam rangkaian teks yang secara sederhana disebut Sureq Galigo oleh orang Bugis, atau I La Galigo oleh orang asing.

Buku ini tanpa ragu lagi merupakan salah satu karya tulis terpanjang dalam sastra dunia. Kisah dalam karya tersebut, menurut Christian Pelras, etnolog Prancis, berlangsung di masa lalu yang jauh lebih awal dibanding masa yang kita ketahui dari teks-teks sejarah Bugis.

I La Galigo merupakan karya seni sastra yang menceritakan kisah pengorbanan dan kehidupan para dewa dan manusia dalam mengisi ketiga dunia tadi. Tutur tulisan berujung pada tokoh utama cucu Batara Guru, Sawerigading yang bagi penduduk suku Bugis merupakan tokoh budaya terpenting sampai sekarang.

Tokoh lainnya yang amat penting dan ditulis di buku adalah Sandana. Tokoh perempuannya, We Tenriabeng, istrinya, We Cudaiq dan teristimewa I La Galigo dan keturunannya Laide dan La Tenritatta. Kitab sastra klasik ini merupakan kisah pengalaman kehidupan I La Galigo, panjangnya melebihi buku klasik Mahabarata ataupun Ramayana. Sayangnya kitab klasik I La Galigo hingga sekarang belum seluruhnya diklasifikasikan secara lengkap seperti buku klasik lainnya.

Ketika Robert Wilson datang ke Indonesia pada 2001, semua berubah. Wilson sutradara kelas dunia, telah malang melintang selama 40 tahun terakhir di dunia drama panggung. Berbagai penghargaan di Eropa dan Amerika Serikat telah direnggutnya, antara lain hadiah Pulitzer Prize (1986), American Academy of Arts (2000), dan puluhan penghargaan lainnya. Kedekatannya dengan kegiatan seni di Indonesia terjadi secara tidak sengaja. Dua puluh satu tahun lalu Robert Wilson tertarik pada sebuah patung primitif. Ia mengira patung itu berasal dari Afrika atau Oceania. Wilson tertegun ketika dinyatakan bahwa itu adalah patung primitif Indonesia. Segera ia memutuskan untuk ke Indonesia tepatnya di Bali, tempat kemudian ia menetap dan bertemu komposer dan pakar musik Rahayu Supanggah.

Supanggah belajar tentang ilmu musik tradisional hingga memperoleh gelar doktor dari Universite Paris VII. Ia adalah pengampu tingkat dunia untuk musik tradisional di Indonesia. Khusus untuk I La Galigo ia sengaja bertandang ke Luwuq untuk mendapatkan intisari dari filosofi buku tersebut, dan belajar mengenai instrumen musik tradisional Bugis kuno.

Mendampingi Robert Wilson dalam membuat aransemen lakon dan musik I La Galigo, tidaklah lengkap kalau tidak menyebut nama Restu Imansari Kusumaningrum. Ia mendampingi Robert Wilson sejak di Bali ahun 2001, sebagai co-producer dan koordinator pemain dan artistik.

Kunci sukses Robert Wilson dalam pementasan I La Galigo ialah ketika ia berhasil mengajak Rahayu Supanggah untuk menghasilkan musik ilustrasi tradisional yang setara dengan musik ilustrasi Barat. Pengalamannya melanglang buana dan pementasannya di 40 negara membuat Supanggah unggul dalam istilah Restu Kusumaningrum "menghasilkan kekuatan musik yang liris dan dramatis, yang menghadirkan jalinan halus yang mengikat semua elemen produksi --alur, cerita, tata cahaya, kostum, membuat para seniman bersemangat, menggila, dan di setiap akhir pentas disambut penonton dengan standing ovation, tepuk tangan sambil bersorak riuh tak henti-hentinya."

Desember 2005, setelah empat tahun berlanglang buana ke Eropa, Asia, dan Amerika, I La Galigo pulang kampung. Pentas di Teater Tanah Airku di Jakarta.

Tahun 2011, Restu mengorganisir pentas di Benteng Rotterdam Makassar. Sekitar 2.500 penonton menikmati karya nenek moyang Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja itu. I La Galigo setelah 10 tahun akhirnya pentas di tanah tempat kisah-kisah dalam kitab Sureq Galigo berasal. Sungguh sangat mengharukan tatkala menurut Restu Kusumaningrum, Robert Wilson dalam sebuah kesempatan menyerahkan naskah lengkap drama epik I La Galigo kepada seniman muda Sulawesi Selatan, "Gunakan produksi saya jika Anda mau. Tapi lebih baik berkreasilah! Sureq Galigo adalah harta tak ternilai yang penuh dengan cerita, tak ada habisnya menginspirasi seniman, sarjana dan orang sehari-hari dari generasi ke generasi di masa yang akan datang. Saya bangga menjadi bagian dari itu dan berharap untuk kembali".

Pertunjukan di Bali telah melalui persiapan lama lewat latihan tiada henti di Bali dari jam 9 pagi sampai dengan jam 21 malam.

Sebagai ilustrasi Robert Wilson menginginkan di sepanjang 10 adegan I La Galigo digunakan 1000 clue lampu. Di setiap clue lampu semua pelakon dan pemusik wajib untuk mengikuti scene demi scene tiada kecuali. Kalau dalam satu scene ada yang salah segera dilatih ulang.

Dalam dua tahun lewat latihan yang keras dan kedisiplinan tinggi, Wilson berhasil menjadikan semua artis bermain sesuai skenario tanpa kesalahan sedikitpun.

Saya kepincut dengan I La Galigo, saya menonton pementasan ini di Jakarta tahun 2008, kemudian di Makassar tahun 2011, dan yang ketiga di Peninsula tanggal 10 Oktober 2018.

Apa yang membuat saya tertarik untuk menonton lagi? Alasannya sederhana, kita menyaksikan di panggung sebuah kesempurnaan adegan dan lakon. Sejumlah 55 penari dan pelakon di atas panggung tampil ganti berganti dalam gerakan yang indah tanpa berulang-ulang. Setiap episode gerakan baru diiringi musik yang tak pernah putus. Tak ada salah, tak ada kekeliruan. Semuanya berdasarkan skenario. Robert Wilson mengendalikan semua detail dan latihan keras kepada segenap pelaku agar mereka menari dan menyanyi sesuai dengan skrip. Tak pernah sekalipun salah. Karya musik tidak pernah berhenti, berganti dengan kreativitas yang baru dan segar.

Robert Wilson dengan merendah mengatakan, "Saya hanya membuat bingkai dan para seniman mengisinya dengan energi dan kreativitas."

Pengamat seni panggung Soedarmadji Damas menggambarkan, "Para penampil bergerak di atas panggung bagai bayang-bayang. Robert Wilson adalah sang dalang dalam pentasnya wayang Indonesia, mengerahkan dan mengatur segala aspek pertunjukan. Dialah maestro dari pertunjukan, lewat gambar-gambar indah yang telah ia buat dan siapkan selama latihan yang amat keras dan tanpa kompromi."

Saya menemui M. Gentille Andi Lolo, penari yang sudah 20 tahun mengikuti Wilson pentas ke puluhan negara. "Tidak merasa lelah, tidak bosan karena I La Galigo adalah rumah saya, tempat saya berlatih tempat saya manggung."

"Dan, lihatlah dalam suasana angkasa biru. Sebagaimana keinginan kanak-kanak ajaib yang terlaksana..."

"Kejarlah I La Galigo, pergilah jauh kau kan kutangkap di mana pun kau pentas."

Ishadi SK Komisaris Transmedia

(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed