DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Senin 15 Oktober 2018, 15:00 WIB

Kolom

Pertemuan IMF-Bank Dunia dan Wajah Indonesia

Mohammad Nuryazidi - detikNews
Pertemuan IMF-Bank Dunia dan Wajah Indonesia Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -
International Monetary Fund (IMF) and World Bank Group (WBG) Annual Meeting 2018 di Bali adalah event terbesar yang pernah diadakan oleh negeri ini sejak dilahirkan oleh founding fathers kita pada 1945. Sebanyak 34.000 orang hadir ada acara tersebut, 15.000 orang di antaranya berasal dari luar negeri. Berbeda dengan ajang pesta olah raga seperti Asian Games atau Asian Para Games, peserta yang hadir pada IMF and WBG Annual Meeting adalah para pengambil kebijakan penting di bidang ekonomi dari seluruh dunia. Tercatat ada 189 Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral yang hadir sebagai Head of Delegation (HoD) dari seluruh dunia. Ada pula beberapa pemimpin negara yang secara langsung hadir untuk mengikuti beberapa event dalam rangkaian annual meeting di Bali (8-14 Oktober).

Alhamdulillah, di tengah kekhawatiran tentang gempa dan erupsi Gunung Agung, acara superbesar ini sukses. Pidato Presiden Joko Widodo yang sangat memukau menambah bobot kesuksesan penyelenggaraan acara IMF and WBG Annual Meeting 2018. Saya tidak bisa bohong. Saya bangga menjadi bagian dari kesuksesan IMF and WBG Annual Meeting 2018 di Bali. Ibarat Candi Borobudur yang megah, saya ikut bangga meski cuma menjadi batu kecil yang mengisi salah satu stupa di Candi Budha terbesar di dunia tersebut.

Selain kebanggaan, ada hal lain yang saya dapatkan, yaitu pengalaman. Bekerja dengan berbagai instansi yang memiliki beragam budaya kerja adalah tantangan tersendiri. Perbedaan cara pandang dan gaya mengatasi masalah tak jarang menciptakan banyak drama. Di sisi lain, tekanan dan kelelahan yang kami rasakan bersama menciptakan hubungan emosional para Liaison Officer (LO) menjadi lebih erat.

Meski awalnya saya agak kaget mendapatkan penugasan sebagai LO, saya tetap berusaha melakukan yang terbaik yang saya bisa. Saya sadar bahwa LO adalah wajah pertama Indonesia. Begitu para HoD turun dari garbarata pesawat yang mereka tumpangi, wajah kami, para LO dari seluruh Indonesia, adalah wajah yang pertama mereka lihat. Indonesia adalah negara besar dan luas, oleh karena itu wajah LO juga memiliki sebaran yang beragam.

Ada wajah model Melayu seperti saya dan teman-teman dari Jawa, Sumatera, atau Kalimantan. Ada teman-teman dari Indonesia bagian timur yang memiliki kulit agak gelap yang mirip dengan para delegasi dari Afrika. Ada pula teman-teman LO keturunan Tionghoa, Arab, dan Eropa yang mewakili wajah Indonesia yang berbeda. Penampakan wajah LO sudah menunjukkan keberagaman Indonesia. Meski beragam, para LO memiliki senyum yang sama, senyum Indonesia.

Saya adalah LO untuk Gubernur Bank of Thailand (BoT), bank sentral negeri gajah tetangga kita. Saya bertugas memastikan semua kegiatan Gubernur BoT berjalan lancar. Jangan sampai Gubernur BoT terlambat untuk hadir pada suatu rapat apalagi sampai kesasar. Jadwal Gubernur BoT sangat padat, satu hari bisa enam atau tujuh rapat yang harus dihadiri. Adalah dosa besar bagi saya apabila sampai kegiatan Gubernur BoT tersendat. Oleh karena itu saya dibantu seorang patwal polisi untuk membantu pergerakan Gubernur BoT selama di Bali. Selain itu, saya juga membantu kegiatan non formal yang tidak terdapat dalam jadwalnya, seperti memesan restoran untuk makan malam, makan siang, serta menemani Gubernur BoT untuk berbelanja.

Pada hari kedua, Gubernur BoT mengajak saya untuk bergabung bersama delegasi Thailand yang lain untuk makan malam. Ada beberapa dialog menarik yang rasanya perlu saya sampaikan pada tulisan ini. Untuk kemudahan membaca dan menulisnya, sengaja saya terjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.

Di tengah keasyikan menyantap sea food di Jimbaran, tiba-tiba Gubernur BoT menanyakan pertanyaan yang membuat saya tersenyum sumringah. "Untuk penerbangan dua jam dari Jakarta, kamu menyarankan aku pergi ke mana?"

Sebuah assist matang untuk mempromosikan pariwisata Indonesia.

"Labuan Bajo," jawab saya mantap. Sebelumnya, saya memang telah mempelajari latar belakang Gubernur BoT. Umur Gubernur BoT masih muda dan aktif berolahraga, serta mempunyai sertifikat menyelam. Oleh karena itu, rasanya Labuan Bajo adalah rekomendasi yang tepat untuk Gubernur BoT. Saya kemudian menceritakan tentang pantai-pantai di sekitar Labuan Bajo yang sangat indah. Untuk lebih mudah menggambarkannya, saya tunjukkan beberapa foto keindahan pantai Labuan Bajo, Pink Beach, Komodo dan tentu saja Pulau Padar yang ikonik. Kebetulan dua minggu sebelumnya saya mengunjungi Labuan Bajo sehingga memorinya masih lumayan lekat.

Saya juga menceritakan bagaimana dampak positif penyelenggaraan IMF and WBG Annual Meeting 2018 terhadap pembangunan infrastruktur di Indonesia. Mulai dari penyelesaian Patung Garuda Wisnu Kencana, pembangunan jalan di Labuan Bajo sampai perbaikan toilet di Pulau Padar.

Ketika ada seorang delegasi menanyakan tentang hewan komodo, saya menjelaskan dengan bersemangat bahwa binatang ini adalah binatang purba, sepantaran dengan para dinosaurus yang sudah punah. Binatang ini adalah pemburu terbaik di darat yang masih hidup sekarang. Komodo bisa berlari sampai dengan 20 km/jam, bisa berenang, dan memanjat pohon. Saya bisa melihat kengerian dalam pandangan mereka. Kemudian saya menambahkan, "Air liurnya mengandung 54 bakteri berbahaya. Satu bakteri sudah cukup untuk membunuh seorang manusia dewasa. Jadi kalau kita sampai terkena air liurnya, kita akan mati 54 kali."

Kebetulan malam sebelumnya terjadi gempa di laut Situbondo yang dampaknya terasa sampai ke Nusa Dua Bali. Menceritakan pariwisata dan budaya Indonesia adalah hal mudah bagi saya, tapi menjawab kekhawatiran tentang gempa adalah persoalan lain. Saya kemudian menceritakan bahwa standar hotel di Nusa Dua mampu menahan sampai 8 skala Richter. Panitia juga sudah menyiapkan sistem evakuasi yang memadai apabila terjadi bencana alam. Saya menambahkan bahwa berbagai bencana alam yang sering terjadi di Indonesia telah membuat bangsa Indonesia banyak belajar untuk menangani bencana alam.

Baru saja saya bernapas lega melihat mereka tidak lagi khawatir tentang gempa, sang Gubernur BoT tiba-tiba bertanya, "Begitu banyak bencana alam, termasuk Lombok dan Palu, kenapa IMF and WBG Annual Meeting 2018 masih terus dilaksanakan di Bali?"

One million dollar question. Saya harus menarik napas agak panjang sebelum menjawab pertanyaannya. Di hadapan saya adalah doktor lulusan Harvard yang ketika bertanya tentu saja tidak mudah dipuaskan seperti anak saya yang baru berumur delapan tahun.

"The show must go on, Mr. Governor. Berbagai bencana alam, termasuk Lombok dan Palu, tidak pernah kami rencanakan. Sebaliknya, IMF and WBG Annual Meeting sudah direncanakan dan dipersiapkan sejak tiga tahun lalu. Meskipun tenaga dan konsentrasi kami harus digunakan untuk penanganan bencana, tapi kami juga harus tetap menjaga agar rencana yang telah kami susun sebelumnya terus berjalan."

"Dan, itu membuktikan negara Indonesia adalah negara yang kuat," komentar Gubernur BoT. Sebuah komentar yang mendadak membuat bulu kuduk saya merinding. Saya terharu dan bangga. Saya bangga menjadi orang Indonesia.

Mohammad Nuryazidi pegawai Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia; tulisan ini atas ama pribadi



Saksikan juga video 'Indonesia Sukses Bikin Pertemuan IMF-World Bank Berkelas':

[Gambas:Video 20detik]


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed