DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 09 Oktober 2018, 15:47 WIB

Sentilan Iqbal Aji Daryono

Mubazir itu Teman Kita

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Mubazir itu Teman Kita Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Ivon/detikcom)
Jakarta - Mubazir. Kapan terakhir kali kita mendengar kata itu? Anda mungkin sudah sangat lama tidak mendengarnya. Kalau saya sih, baru saja.

Ceritanya, kemarin istri saya menggerutu. Gara-garanya, saya mengambil nasi kebanyakan, dan akhirnya gagal menghabiskan makan siang. Memang sering banget saya seperti itu, akibat minimnya kemampuan untuk membuat prediksi akurat tentang seberapa kuat perut saya menampung segala jenis input.

Lalu, muncullah kata sakti itu dari bibir seksi istri saya. "Ealah, Paaak mubazir lho!"

Mubazir. Kata itu sebenarnya berasal dari kata tabdzir dalam bahasa Arab. Artinya semacam boros, menghambur-hamburkan sesuatu. Pelakunya disebut mubadzir. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyerapnya menjadi mubazir, dengan makna mencakup orangnya sekaligus kelakuannya.

Jadi, dalam KBBI pun sudah disepakati bahwa kata mubazir bermakna lebih-kurang "menjadi sia-sia, tak berguna, terbuang-buang, berlebihan, bersifat memboroskan".

Pertanyaannya, kenapa cuma urusan membuang makanan saja yang ditimpuki dengan kata itu? Bukankah ada banyak sekali dimensi perilaku manusia yang bersifat sia-sia? Apakah pengidentikan kata mubazir dengan makanan adalah konspirasi global, dengan tujuan membuat kita lalai akan banyak hal lain yang tak kalah sia-sianya?

Kesia-siaan segenap tingkah polah kita tidak melulu dapat diukur secara rasional. Saya rasa, konsep mubazir sendiri merupakan konsep yang sangat spiritual, alih-alih hitungan yang bersifat matematis-ekonomis-finansial.

Saya ambil contoh. Beberapa pekan lalu, di dinding Facebook saya yang suci, saya mengunggah foto sisa-sisa perjuangan makan malam. TKP-nya sebuah warung angkringan langganan saya di dekat Plengkung Gading, yang dikelola oleh seorang bapak yang "jokower" dan anak lelakinya yang "prabower". Karena saking enaknya menu mereka, saya selalu terima saja ketika si bapak mengambilkan nasi lumayan banyak.

Akibatnya, lagi-lagi nasi saya tersisa. Sambil iseng, saya memotretnya, lantas mengunggahnya. Teman-teman Facebook saya yang rata-rata pengangguran tersamar itu pun mulai meributkannya.

"Ini bukan soal berapa duit yang harus kau bayar. Tapi, soal bagaimana kau menghargai orang lain," kata Cak Andhi.

"Ini dalam sekali. Terbayang lumpur yang harus dibersihkan di kaki-kaki petani, peluh yang diseka ketika istirahat di musim tanam, kibasan caping untuk mengusir gerah dan lelah," timpal Ustaz Nunung.

Teman-teman lain pada tertawa membuli saya. Namun, saya malah tepekur merenungkan teori-teori mereka. Tunggu, tunggu. Betulkah nasi yang tersisa itu akan membuat sakit hati para petani?

Kakek-nenek saya petani. Paman-paman saya petani. Tetangga-tetangga di kampung kelahiran saya, juga di kampung tempat sekarang saya menetap, pun mayoritas petani. Selama puluhan tahun bergaul di dalam lingkungan para petani, tidak pernah satu kali pun saya mendengar seorang petani mengeluh dengan nada komplain semacam ini,

"Ah, anak-anak itu. Makan kok nggak dihabiskan. Bikin kami sakit hati saja. Apa mereka tidak tahu bahwa kami para petani ini sudah berpayah-payah melawan terik dan hujan, menanam padi agar dimakan baik-baik oleh umat manusia?"

Demi Tuhan, saya tidak pernah mendengar kalimat protes dengan nada begituan. Jika pun para petani mengeluh, yang mereka keluhkan adalah harga benih yang naik, subsidi pupuk yang dicabut, hama wereng yang tak terkendali, harga pestisida yang semakin tak masuk akal, musim penghujan yang memorak-porandakan tanaman mereka, burung-burung emprit yang menyerbu hampir separuh hasil panen, harga gabah yang tiba-tiba anjlok....

Jadi, kalau toh ada tingkah yang membuat sakit hati para petani, kira-kira yang paling dekat ya kelakuan pemerintah. Pemerintah ngotot mengimpor beras, padahal hasil panen petani lokal lumayan melimpah!

Nah, itu bantahan rasionalnya. Kalau mau rasional-rasionalan dalam membahas hal-hal mubazir, memang akhirnya mentok. Konsep mubazir adalah konsep spiritual. Titik. Jadi, akan sangat taktis dan strategis, juga mangkus dan sangkil, andai Cak Andhi waktu itu cukup memberikan komentar,

"Makan kok nggak dihabiskan. Itu mubazir. Mubazir itu teman setan."

Ditambah kutipan langsung bunyi Alquran Surah Al-Isra ayat ke-27, tentu kata-kata Cak Andhi tadi langsung membuat mulut saya tersumpal. Seketika saya akan diam, tertunduk takzim. Ya, saya telah menabrak batas sebuah konsep yang bersifat spiritual. Yang spiritual-spiritual selalu bersifat irasional, dan apa pun yang irasional tidak perlu diperdebatkan. Selesai perkara.

Sayangnya, lagi-lagi, kenapa hanya soal penyia-nyiaan makanan yang dihajar dengan stempel mubazir?

Dalam hidup normal kita sehari-hari, kita pun melakukan banyak kemubaziran. Lemari baju Anda penuh, padahal baju yang Anda pakai cuma lima biji dan itu-itu saja. Itu jelas mubazir. Koleksi buku Anda ada ribuan, padahal yang Anda baca tidak sampai separuhnya, dan anak-anak Anda pun lebih suka menonton Youtube daripada membaca. Itu sangat mubazir.

Di waktu-waktu Anda, puluhan jam terbuang di medsos untuk memperdebatkan perbedaan antara "hoaks" dan "ingkar janji", atau tentang seberapa jauh Khabib Nurmagomedov memuja Putin. Itu tak kurang mubazirnya. Saldo rekening Anda 50 M, padahal kebutuhan hidup Anda cuma 500 juta. Mubazir juga?

Itu baru ranah domestik kita. Sementara itu, dalam hidup manusia Indonesia di era mahapenting menjelang tahun Pilpres ini, ada sekian banyak jebakan kemubaziran yang acap kali tidak kita sadari.

Sabtu dan Minggu lalu, ibu saya mengomel berpanjang-panjang. Dua hari penuh suara knalpot meraung-raung di jalan-jalan. Oh, ternyata jadwal kampanye telah dimulai. Partai Ijo dan Partai Merah sudah memenuhi Bantul dengan tretetet yang memekakkan telinga.

Cobalah buka kalender. Ini tahun 2018. Sudah ada media sosial, dan rakyat Indonesia termasuk yang paling mencanduinya di dunia. Ada kanal-kanal Youtube. Ada televisi, radio, media-media online, baik yang pers betulan ataupun yang abal-abal. Para karyawan paling rendah dengan pendapatan sedikit di bawah UMP pun sudah pada pegang telepon pintar, meski belum tentu pemiliknya cukup pintar saat dikibuli oleh para politisi yang jauh lebih pintar.

Dengan situasi riil kehidupan seperti ini, belum terdengar seorang ustaz milenial yang berkata tegas di vlog-nya: "Jangan kampanye tretetet, itu mubazir! Itu teman setan! Setan itu tempatnya di kerak neraka!"

Itu baru kampanye bermotor. Belum lagi baliho-baliho raksasa, dengan foto-foto caleg berwajah mulus dan warna kehitaman di jidat yang muncul tiba-tiba.

Kalau saya seorang ustaz, saya akan berfatwa bahwa semua baliho bernilai ratusan juta itu bentuk kemubaziran juga. Minimal, di sepanjang jalan kita jadi membuang-buang waktu, dengan melihat wajah-wajah ajaib yang tidak pernah nongol dalam kehidupan bermasyarakat kita pada waktu sebelum-sebelumnya.

Mubazir sekali.

Iqbal Aji Daryono esais, tinggal di Bantul


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed