DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 05 Oktober 2018, 11:30 WIB

Kolom

Air Mata Ratna, "Grasa-Grusu" Prabowo, dan Hoax Nasional

Xavier Quentin Pranata - detikNews
Air Mata Ratna, Grasa-Grusu Prabowo, dan Hoax Nasional Ratna Sarumpaet (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta - Sekali lagi kita melihat Indonesia 'terbelah' bukan oleh gempa apalagi tsunami tetapi oleh hoax yang kali ini diciptakan oleh Ratna Sarumpaet, dan tersebar cepat oleh konferensi pers Prabowo dan cuitan para elite politik. Seandainya Ratna tidak segera melakukan konferensi pers dan mengakui kebohongannya, perang di media sosial bisa berakhir ke perang antarsaudara sebangsa dan setanah air yang muaranya balik lagi ke pilihan yang berbeda di pilpres mendatang.

Perang tagar '2019GantiPresiden' dan '2019TetapJokowi' sudah melampaui pagar kepatutan hidup berbangsa dan bernegara. Ibu Pertiwi yang matanya masih lebam karena menangisi Palu dan Donggala kembali dibuat pilu dan sakit kepala bukan karena oplas, melainkan oleh ulah anak bangsa yang menghalalkan segala cara untuk berkuasa.

Memaknai Air Mata Ratna

Bagi saya yang menyaksikan konferensi pers Ratna lewat handphone, tidak saja mendengar suaranya yang bergetar saat mengakui kesalahannya, melainkan melihat air mata yang tercurah. Melihat dan mendengar pengakuannya, perasaan iba dan jengkel bisa saja berkelindan. Saat menemani anak ke sekolah, saya membaca berita di koran nasional. Di pojok kanan bawah, ada gambar kartun pasutri. Di depan suami yang melipat tangan di dada dengan wajah marah, sang istri menunduk sambil berkata, "Maaf...kemarin aku bohong."

Respons sang suami langsung membalikkan badan sambil berkata, "Halah, maafmu paling juga bohong!"

Tudingan langsung yang 'nyelekit' ini memang membuat sakit, tetapi tujuannya untuk bangkit. Shock therapy. Tujuannya memang membuat orang 'tersengat' dan 'kembali ingat'. Eling lan waspada. Gusti mboten sare. Becik ketitik ala ketara. Bagaimanapun cekatannya seekor tupai melompat akhirnya jatuh juga. Sepandai-pandainya kita bersandiwara, akhirnya kembali ke alam nyata.

Urip sejatine gawe urup. Api seperti apa yang sebenarnya ingin kita nyalakan? Api pesta olahraga yang mengagungkan sportivitas dalam setiap rivalitas atau bara yang menghanguskan gara-gara ingin menang? Kasus meninggalnya Harlingga Siria dari Jackmania yang dianiaya bobotoh dari Persib menunjukkan bahwa sebagian masyarakat kita masih menghalalkan segala cara sebagai wujud fanatisme sempit. Jika hal ini dibiarkan, NKRI pecah jadi sebesar teri.

Mengartikan "Grusa-Grusu"

"Bahwa saya akui, bahwa saya agak grasa-grusu (terburu-buru). Tapi itu ya sudah namanya kita baru belajar, tim saya ini baru. Tapi tidak ada alasan, kita kalau salah, kita akui salah," ucap Prabowo.

"Suatu jerat bagi manusia ialah kalau ia tanpa berpikir mengatakan 'kudus', dan baru menimbang-nimbang sesudah bernazar," ujar raja paling bijak di dunia Salomo.

Jerat itu bukan hanya menimpa Prabowo, tetapi timnya yang dengan bersemangat membela Ratna. Alangkah terkejutnya mereka karena yang dibela ternyata lebih dulu minta maaf sambil mencucurkan air mata.

Itulah sebabnya "grusa-grusu" bukanlah tindakan yang sederhana.

"Whoever is careless with the truth in small matters cannot be trusted in important affairs," kata Albert Einstein

Guru Agung berkata, "Tetapi, Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman."

Lengkap sudah. Dari sisi manusia maupun Tuhan, kecerobohan harus dibayar mahal. Dari sisi manusia, salah satu manusia paling cerdas di muka bumi, Einstein mengatakan bahwa jika untuk urusan sepele saja kita tidak dipercaya, apalagi untuk mengurus hal-hal yang lebih besar.

Dari sisi Tuhan, setiap kecerobohan harus kita pertanggungjawabkan saat kita meninggal dunia nanti. Jika Polri berhasil menangkap 4 orang dengan 14 akun yang sering menyebarkan hoax, keempat orang itu bakal menerima hukuman badan di muka bumi. Hukuman lain yang lebih berat menanti mereka di alam sana.

Pucuk Gunung Es

Saya percaya, penangkapan 4 orang penyebar hoax berkenaan dengan bencana Palu dan Donggala baru permulaan. Pencekalan Ratna Sarumpaet yang hendak terbang ke Chile merupakan follow up dari kebohongan tingkat dewa yang dilakukannya sehingga warganet menyebut tanggal 3 Oktober sebagai Hari Hoax Nasional.

Jika orang yang ikut menyebarkan hoax Ratna disidik, disidak, dan disidang, pengadilan bakal ramai. Bukan saja karena banyaknya tersangka, melainkan juga siapa yang dijadikan tersangka. Saya sempat mengobrol dengan anak saya, bisakah seorang capres ditersangkakan?

Apalagi jika teman-temannya sekubu ikut diperkarakan semua. Keriuhan pengadilan bukan hanya karena orang-orang elite yang dijadikan tersangka, melainkan demo berjilid-jilid yang bisa jadi punya platform baru untuk terbit. Apa jadinya bangsa ini jika tekanan massa dijadikan determinant factor untuk menjatuhkan palu pengadilan? Jika ini yang terjadi, maka di bawah pucuk gunung es yang tampak indah terjadi arus bawah yang mengerikan.

Peran Konsultan Tim Pemenangan?

Sejak Donald Trump di luar perkiraan banyak orang memenangkan pilpres di Amerika Serikat, orang 'memuji' konsultan kampanyenya yang berhasil menjungkirbalikkan Hillary Rodham Clinton yang punya track record yang dinilai 'lebih bersih' ketimbang suami Melania itu. Analisis para pakar politik mengatakan bahwa konsultan yang 'disewa' dari Rusia itu memakai metode kampanye 'firehouse of falsehood'. Makanan apa pula itu? Dalam bahasa awam kira-kira 'alarm kebakaran palsu'.

Kata 'kebakaran' bisa menciptakan rasa takut dan trauma, sehingga rakyat Amerika diharapkan memilih orang yang mampu memadamkannya --siapa lagi kalau bukan Donald Trump. Cerdas atau culas? Pihak Trump sengaja memencet tombol alarm ini untuk mengingatkan Amerika bahwa negara adidaya tersebut sedang menuju kehancuran karena invasi 'asing' (baca: China) dalam berbagai lini kehidupan. 'Data' ini ditunjang dengan defisit perdagangan AS-China yang berujung ke perang dagang.

Jika dua gajah berkelahi, pasti pelanduk yang ada di tengah-tengahnya mati tergencet. Dampak yang dirasakan sampai ke Indonesia. Kata sebagian orang yang dianggap ahli ekonomi makro, salah satunya adalah melonjaknya nilai tukar dolar terhadap rupiah. Kebenarannya perlu ditelisik dan bukan sekadar diulik karena kalau salah bisa dianggap menyebarkan hoax ke publik.

Nah, apakah cara yang sama dipakai oleh orang-orang di seluruh dunia --termasuk Indonesia-- untuk 'memakai' jasa konsultan asing (baca: Rusia) untuk memenangkan pertarungan di pilpres? Apakah sinyalir bahwa kubu Prabowo menyewa konsultan yang sama perlu disisir sampai ke hilir sehingga tidak dianggap nyinyir. Ingat, grusa-grusu bisa membuat orang-orang terpelajar pun termakan isu palsu.

Jika memakai cara yang sama Rusia berhasil 'mencaplok' semenanjung Krimea, apakah cara yang sama bisa diterapkan di Indonesia? Yang utama adalah pertanyaan pertama yang harus kita ajukan, benarkah tim pemenangan Prabowo-Sandi memakai jasa konsultan asing, dalam hal ini Rusia? Jika jawabannya 'tidak', buat apa dibahas? Jika jawabannya 'ya', kita baru boleh menjawab pertanyaan inti.

Jawaban saya sebagai orang awam adalah belum tentu atau bisa jadi malah tidak. Mengapa? Cara yang sukses dilakukan di luar negeri tidak menjamin kesuksesan yang sama saat diterapkan di Indonesia. Kultur jaringan tanaman yang tumbuh subur di suatu lahan tidak serta merta bisa bertumbuh di kontur tanah yang berbeda habitatnya.

Jadi, ketimbang mengembangkan sendiri teori konspirasi, alangkah bijaknya jika kita menahan diri dan menyerahkan kasus hoax Ratna Sarumpaet ini ke tangan yang berwenang. Biarkan kasus ini menjadi kenangan buruk yang tidak seharusnya terulang. Biarlah kebenaran sejati yang menjadi pemenang.

Xavier Quentin Pranata pelukis kehidupan di kanvas jiwa


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed