DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Kamis 04 Oktober 2018, 14:26 WIB

Kolom

Problem Rumah Generasi Milenial

Muhammad Husein Heikal - detikNews
Problem Rumah Generasi Milenial Ilustrasi: Luthfy Syahban/detikcom
Jakarta - Apakah generasi milenial saat ini sempat memikirkan untuk memiliki sebuah rumah di masa mendatang? Bisa jadi ya, bisa juga tidak. Semua bergantung pada perspektif dan kepentingan individual yang berbeda-beda. Namun, saya--sebagai bagian dari generasi tersebut--mengakui bahwa saya tak cukup banyak memikirkan hal itu.

Ada sebuah pepatah berujar, rumahmu adalah istanamu. Saya sendiri menganggap rumah sebagai tempat saya membangun kenyamanan yang dapat saya nikmati sepenuhnya. Meski berulang-kali berpindah rumah, pada setiap rumah saya selalu berusaha mengadaptasikan diri sesegera mungkin. Dengan demikian, meski rumah itu bukan hak milik saya, saya dapat menjalani keseharian di dalam rumah tersebut secara tenang dan nyaman, terlepas dari faktor lingkungan, sosiologis, dan kondisi rumah tersebut.

Hal seperti ini saya jalani begitu alami, nyaris tidak ada yang dibuat-buat. Jika saya tidak mampu beradaptasi dengan rumah tersebut --akibat beberapa faktor, misalnya--dan mengalami ketidaknyamanan, maka saya tak sungkan untuk segera pindah. Dengan berpindah rumah, saya merasa telah menyelesaikan persoalan. Di rumah yang baru, kembali terbuka kemungkinan bagi saya untuk kembali mencoba beradaptasi dan menyamankan diri.

Mengapa kenyamanan di dalam rumah begitu penting bagi saya? Padahal dengan status saya saat ini sebagai seorang mahasiswa, saya cukup banyak menghabiskan waktu di luar rumah. Semestinya saya tak perlu mementingkan kenyamanan dengan begitu cermat. Toh rumah hanya menjadi tempat untuk mandi dan tidur bagi saya. Namun, pandangan seperti itu bukanlah termasuk dalam pemikiran saya. Saya tak pernah meletakkan rumah pada perspektif itu, yaitu hanya sebagai tempat untuk mandi dan tidur belaka. Walau tak salah bila disebutkan sebagian besar mahasiswa memang menganggap rumah atau kamar kos mereka dengan demikian. Berbeda halnya dengan saya. Sebagaimana bunyi pepatah tadi, rumahmu adalah istanamu, maka memang demikianlah rumah saya perlakukan. Rumah saya adalah istana saya.

Rumah yang kini saya tempati--bukan miliki--memang bukanlah selayaknya sebuah istana. Rumah ini biasa saja, sama seperti kebanyakan rumah rata-rata. Itulah pandangan yang dilihat orang-orang ketika melihat rumah tersebut. Namun, orang-orang tidak mengetahui bahwa di dalam rumah ini, saya telah membangun area kenyamanan yang sulit untuk saya ciptakan atau dapatkan di tempat lainnya. Dalam kenyamanan rumah inilah saya dapat berproses, tanpa terganggu ataupun tertekan. Saya membaca, mendengarkan musik, menonton televisi, mengerjakan tugas-tugas, termasuk ketika menuliskan artikel ini; saya menjalani proses dengan nyaman.

Lantas, apakah sebenarnya maksud saya memaparkan perihal diri saya serta kaitannya dengan rumah, dan kenyamanan? Semua itu tak lain hanyalah gambaran sederhana yang berkaca pada diri saya sebagai salah bagian dari generasi milenial, dengan rumah sebagai kesatuan korelasi yang menarik untuk diulas lebih lanjut.

Memiliki atau Memakai?

Saya rasa kita tak perlu memungkiri bahwa rumah merupakan sarana kebutuhan dasar (basic needs) yang dibutuhkan oleh setiap orang. Namun, kita juga tak perlu mangkir bahwa ada begitu banyak orang yang tidak memiliki rumah. Secara implisit ini mengartikan bahwa tidak setiap orang mampu memenuhi kebutuhan dasarnya masing-masing. Tentu hal ini tidak dapat disalahkan, sebab bukan karena tidak memiliki rumah, maka mereka tidak tinggal di rumah. Sama-sekali bukan. Orang-orang yang tidak memiliki rumah tetap tinggal di rumah, melalui cara menyewa atau menumpang. Dengan demikian, meski tidak memiliki, namun mereka tetap memakai.

Apakah perbedaan antara memiliki dan memakai tersebut?

Perlu kita ingat, generasi milenial adalah generasi yang dihidangi oleh hal-hal instan. Generasi milenial sama-sekali tidak mau beribet-ribet, apalagi dengan persoalan yang tidak menguntungkan. Oleh sebab itu tak salah bila generasi milenial merasa tak begitu perlu untuk memiliki sesuatu, termasuk rumah. Generasi milenial tampaknya tak terlalu jauh memikirkan masa depan tempat tinggal bagi diri mereka, dan keluarga mereka nantinya. Walau rasionalitas mereka bekerja dengan baik, kebanyakan dari mereka merasa tak perlu memiliki sebuah rumah untuk dijadikan sebagai tempat tinggal. Tidak perlu memiliki mengartikan bahwa cukup dengan memakai saja. Jika bisa memakai, mengapa harus memiliki? Demikian kira-kira simpulannya.

Saat ini, untuk memiliki sebuah rumah, kita harus merogoh saldo tabungan hingga ratusan juta rupiah. Dengan biaya sedemikian besar kita hanya mendapatkan sebuah rumah. Dan, hal apakah kiranya yang bisa didapatkan dengan memiliki rumah? Jika hanya sekadar sebagai tempat tinggal, saya kira kita tidak perlu memiliki rumah. Kita cukup memakainya saja.

Di dalam fenomena ini, ada sebagian pandangan yang menganggap memakai bakal lebih ekonomis dibanding memiliki. Misalnya saja, sebuah rumah tipe 36 dihargai sebesar Rp 200 juta per unit. Sementara, jika menyewa tidak bakal sampai sebesar itu, cukup dengan Rp 10 juta per tahun. Hal ini tak salah bila ditilik dari sisi jangka pendek. Namun, hal ini cukup keliru dari sisi jangka panjang.

Jika kita membeli rumah seharga Rp 200 juta tersebut, kita tidak akan dikejar-kejar tempo kehabisan waktu. Biaya sewa Rp 10 juta per tahun, jika dikali selama 20 tahun, maka akan mengeluarkan biaya yang sama. Tidak hanya itu, harga Rp 200 juta yang dibeli pada 20 tahun sebelumnya tentu telah meningkat, paling tidak 25 atau 50 persen. Dengan demikian, dengan memiliki rumah kita bakal mendapatkan manfaat yang multipler effect.

Namun, problem penting dari hal di atas ialah keterbatasan penyediaan rumah. Menurut Kementerian Pekerjaaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), setiap tahunnya di Indonesia, dengan jumlah populasi sebesar 262 juta, ada 880.000 permintaan terhadap rumah. Namun, permintaan ini tak sebanding dengan penawaran yang disediakan. Inilah yang menyebabkan terjadinya backlog (kekuarangan persediaan). Pada 2015 terjadi backlog sebesar 7,6 juta unit rumah.

Oleh karena hal ini maka tak perlu heran bila tidak setiap orang dapat memiliki rumah. Di samping harganya yang begitu mahal --meski dibantu oleh subsidi dan berbagai macam fasilitas kredit-- tetap saja ada begitu banyak orang hanya masih sekadar memakai rumah. Meski, di dalam UUD 1945 Pasal 28H ayat 1 kita dapat menemukan kalimat bertuliskan, "Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan."

Kata "berhak" menandakan bahwa setiap orang (warga negara) harus melanggengkan semua hal di atas dengan usaha dan caranya masing-masing. Jika ia mampu, maka ia akan dapat memiliki rumah. Jika tidak, maka ia hanya sekadar memakai rumah. Sebab negara hanya bertanggung jawab atas penyelenggaraan perumahan dan kawasan pemukiman yang pembinaannya dilaksanakan oleh pemerintah (UU No. 1/2011, Pasal 5 ayat 1). Dengan kata lain, negara tak berkewajiban memberikan rumah.

Pada akhirnya, terlepas dari apakah harus memiliki atau memakai rumah, kita tetap menjalani kehidupan sebagaimana mestinya. Sebagai manusia kita punya pemikiran yang berbeda, namun dengan basic needs yang serupa. Sulit membayangkan jika kita hidup tanpa rumah. Mari kita jadikan rumah yang kita tempati saat ini sebagai ruang yang damai dan bersahaja, sebagai medium untuk menyalurkan segala aktivitas dan kreativitas.

Muhammad Husein Heikal kolumnis, analis Economic Action (EconAct) Indonesia


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed