ADVERTISEMENT

Mimbar Mahasiswa

Kekuasaan Sumber Patologi Sosial bagi Masyarakat?

Kusuma Putri - detikNews
Rabu, 03 Okt 2018 10:56 WIB
Foto: Ari Saputra
Jakarta - Membahas mengenai kekuasaan pasti langsung merujuk pada seorang pemikir besar Michael Foucault. Pemikirannya sangat seksi dan berhasil menjabarkan hubungan antara kekuasaan dengan ilmu pengetahuan. Kekuasaan menurut Foucault adalah tentang sebuah relasi, karena menurutnya selama di sana masih ada dimensi maka akan ada suatu relasi yang mengikuti dan melekat pada dirinya. Kekuasaan berhubungan dengan relasi karena selalu berhubungan dengan interaksi yang terjadi di tengah masyarakat. Masyarakat kadang tidak sadar bahwa mereka berada di bawah perintah kuasa orang lain maupun negara.

Foucault meneliti kekuasaan lebih pada individu, subjek dalam lingkup yang paling kecil, karena kekuasaan menyebar tanpa bisa dilokalisasi dan meresap ke dalam seluruh jalinan perhubungan sosial. Kekuasaan beroperasi dan bukan dimiliki oleh oknum siapa pun dalam relasi-relasi pengetahuan, ilmu, lembaga-lembaga. Lagipula sifatnya bukan represif, melainkan menormalisasikan susunan-susunan masyarakat. Kekuasaan tersebut beroperasi secara tak sadar dalam jaringan kesadaran masyarakat karena kekuasaan tidak datang dari luar tapi menentukan susunan, aturan-aturan, hubungan-hubungan itu dari dalam.

Sebagai contoh dapat disebutkan bahwa hubungan keluarga yang menormalkan bahwa suami adalah yang harus bekerja untuk mencari nafkah sementara istri hanya bertugas mengurusi rumah tangga serta merawat anak-anaknya. Atau, contoh lain seperti mahasiswa yang secara berdisiplin menjalankan perannya dengan baik dan ketaatannya pada tata tertib kampus bukan karena adanya represi dari dosen maupun universitas melainkan karena adanya regulasi dari dalam yang menormalkan. Mereka berkuliah dengan giat bukan saja hanya karena ada ancaman atau tekanan tapi juga karena adanya semacam struktur diskursif yang mengatakan akan ada penghargaan bagi mahasiswa yang berprestasi dalam menuntut ilmu.

Dalam masyarakat modern, semua tempat berlangsungnya kekuasaan juga menjadi tempat pengetahuan. Dalam penelitiannya Foucault meneliti fenomena kegilaan yang menjadi lahan subur bagi berkembangnya bidang-bidang keilmuan seperti psikiatri, psikologi, kedokteran, sosiologi, kriminologi, bahkan teologi. Produksi mendorong perkembangan ilmu ekonomi, sosiologi, psikologi. Demikian sebaliknya, semua pengetahuan memungkinkan dan menjamin beroperasinya kekuasaan. Kehendak untuk mengetahui menjadi proses dominasi terhadap objek-objek dan terhadap manusia. Pengetahuan adalah cara bagaimana kekuasaan memaksakan diri kepada subjek tanpa memberi kesan bahwa ia datang dari subjek tertentu. Karena kriteria keilmiahan seakan-akan mandiri terhadap subjek.

Dalam fenomena di atas dapat kita katakan bahwa konsep kekuasaan Foucault ini memberikan dampak dalam ilmu pengetahuan, terutama dalam hal proses pembenaran maupun menentukan kebenaran baik-buruk yang sifatnya diskursif dalam kehidupan masyarakat. Konsep kekuasaan Foucault yang cenderung membuat masyarakat tidak menyadari bahwa mereka berada dalam relasi kekuasaan, dan pada akhirnya menggerakkan mereka untuk menjalankan perintah kuasa tersebut dan sudah menjadi hal yang wajar, maka hal ini menjadi sumber patologi bagi kehidupan sosial masyarakat.

Hal ini dikarenakan dalam setiap pemikiran masyarakat selaku dipengaruhi oleh dengan adanya wacana (batas) dalam hal objektivitas berpikir. Kita seolah dibatasi oleh batasan-batasan diskursif yang menjadikan kita membatasi pandangan kita pada suatu hal mengenai benar maupun salah. Sebagai contoh ketika kita mendengar kata Padang, maka yang terlintas di pikiran adalah pelit atau rendang, padahal Padang memiliki makna yang lebih luas daripada itu.

Ketika kekuasaan itu tersebar, berada di mana-mana (omnipresent), imanen terdapat dalam setiap relasi sosial maka hal ini bukan karena kekuasaan itu memiliki kemampuan mengkonsolidasikan segala sesuatu di bawah kondisi ketidaktampakannya, melainkan karena kekuasaan selalu diproduksi dalam setiap momen dan setiap relasi. Dan, klaim kebenaran itu merupakan bentuk beroperasinya kekuasaan sebagai suatu wacana yang mempengaruhi institusi-institusi sosial dan praktik-praktik sosial. Kekuasaan dapat diketahui dan dirasakan melalui efek-efeknya. Bentuk pengetahuan atau rezim wacana yang otoritatif itu merupakan efek dari kekuasaan tersebut.

Relasi sosial pada masyarakat tanpa disadari berada dalam alunan kekuasaan sehingga persepsi, cara berpikir, dan aktivitas masyarakat akan dengan sendirinya terkendali oleh kekuasaan tanpa mereka sadari. Hal inilah yang menjadi patologi bagi masyarakat karena membiarkan mereka hidup di bawah kuasa yang sebenarnya mereka tidak mengetahui siapa yang mengendalikan kuasa tersebut.

Patologi sosial di sini membahas bagaimana kekuasaan yang selalu melekat pada relasi dan memiliki hubungan dengan pengetahuan lalu menguasai pemikiran masyarakat untuk melakukan suatu perintah dari kuasa orang lain padahal kita tidak mengetahui siapa yang memberi kuasa itu. Kebingungan, ketidakadilan, dan salah penerapan pun akan muncul ketika ilmu pengetahuan hadir mendominasi kebenaran yang sifatnya baik-buruk dan dibungkus oleh suatu hal yang diskursif (wacana), di mana kita tidak dapat berpikir melampaui apa yang kita ingin pikirkan, dikarenakan sudah tercipta batas pada pola pikir kita.

Sebagai contoh ketika seorang petani berada dalam dominasi pengetahuan dan dominasi kekuasaan, maka ia tidak akan berpikir jauh untuk belajar sejarah, maupun teknologi dan hanya berkutat pada hal yang berkaitan dengan pertanian, dikarenakan dalam pikirannya sudah dikendalikan oleh dominasi kuasa dari ilmu pengetahuan itu sendiri.

Ketika kekuasaan tidak dapat dimaknai dengan baik, maka dominasi ilmu pengetahuan dari konsep kekuasaan Foucault ini tentu akan terus menghantui masyarakat dalam berbagai macam aktivitas, sehingga sulit mengalami perkembangan, terutama dalam hal pola pikir dan pembebasan dari hal-hal yang sifatnya diskursif. Patologi sosial yang diciptakan karena sebuah dominasi kekuasaan tentu akan menjadi permasalahan yang berantai dan alot, dikarenakan sesuatu yang berhubungan dengan kekuasaan akan selalu berhubungan dengan kepentingan. Dan, terkadang kepentingan membawa kita pada sebuah ranah permasalahan baru, tergantung subjek pengemban kepentingan tersebut.

Kusuma Putri mahasiswi Fakultas Filsafat UGM
(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT