DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 28 September 2018, 13:37 WIB

Kolom

Manusia di "Republik Pisang"

Hatib Kadir - detikNews
Manusia di Republik Pisang Suhu bumi semakin panas (Foto: dok.)
Jakarta - Manusia pada saat ini memasuki era yang melebihi kapasitas daya tampung bumi. Pertumbuhan penduduk yang pesat kini mencapai 7,5 milliar. Urbanisasi mengubah jumlah penduduk kota lebih banyak daripada masyarakat perdesaan. Minyak bumi dan batubara berkontribusi terhadap meningkatnya karbondioksida (CO2) dan pemanasan global. Pembakaran batubara untuk pembangkit tenaga listrik melepaskan asapnya ke atmosfer dan meningkatkan suhu bumi dan perubahan iklim.

Berbeda dengan epos sebelumya, yakni holosen, di mana para ahli geologi berpendapat bahwa suhu dan ekosistem di atas permukaan bumi ditentukan oleh aktivitas perut bumi, antroposen adalah era di mana manusia berperan sebagai aktor utama yang secara dramatis mengubah ekosistem dan iklim bumi. Dalam hitungan geologi, manusia saat ini berada di era pasca Mezosoik, yakni Cenozoic. Pertandanya adalah punahnya binatang berukuran raksasa seperti plesiosaurus, iguanodon, megalosaurus, dan dinosaurus sekitar 66 juta tahun lalu akibat tabrakan asteroid ke bumi dan menyebabkan perubahan suhu secara drastis.

Manusia mampu mengubah energi terbarukan terus-menerus, dari api ke batubara ke minyak bumi ke gas, hingga terakhir adalah angin dan matahari. Salah satu penemuan revolusi makan adalah sintesis nutrisi nitrogen fertilizer yang ditebar di atmosfer untuk mengatasi tanah yang tidak subur sehingga mampu meningkatkan volume produksi makanan dalam jumlah masif. Akibat tingginya produktivitas makanan, jumlah manusia meninggal karena obesitas sekarang 3 juta per tahun dibanding jumlah orang mati kelaparan 1 juta per tahun. Volume makan berlimpah diproduksi untuk ternak (livestock), misalkan kedelai untuk konsumsi babi.

Dalam sejarah spesies, manusia pada awalnya tidak berada di puncak rantai makanan karena ia juga dapat dimangsa reptil berukuran lebih besar yang femur (tulang paha)-nya saja berukuran dua meter. Namun, kemampuan otak manusia dalam mengubah ekosistem membuatnya berada pada puncak rantai makanan baik karnivora maupun herbivora.

Manusia sebagai aktor telah mengubah natur-kultur sebagai relasi yang menyatu karena sifatnya bisa diatur, didesain, dan dibentuk ulang. Natur atau alam pada saat ini juga mengalami perubahan besar-besaran. Alam tidak lagi liar, namun keliaran yang diatur (managed wild). Berbagai taman nasional (national park) di Amerika telah mengalami penataan ulang. Berbagai binatang liar telah tergeser ke tempat yang paling tepi atau didomestifikasi ke dalam kebun binatang. Berbagai jenis flora dan pinus yang terjangkiti penyakit atau melepuh dicangkok ulang dan dikembangkan di ketinggian yang berbeda agar ia tampak lebih alami. Danau-danau disuntik, pembakaran hutan dilakukan untuk meningkatkan unsur hara, dan diatur dengan sangat rapi.

Sebaliknya, di beberapa tempat kosong yang ditinggalkan pasca-era industrialisasi tumbuh flora dan fauna secara liar, seperti belalang, kumbang, ulat (caterpillar), dan beberapa binatang kecil (bugs). Karena manusia telah mengatur dan menjinakkan semua alam, definisi "pristine nature" atau alam liar berubah, bukan di hutan yang telah sangat diatur, melainkan tempat-tempat kosong reruntuhan pasca-industri seperti bekas rel kereta api di Philadelphia, gedung-gedung kosong di Detroit, hingga di bawah jembatan besi di Pittsburg. Alam liar di tengah reruntuhan ini membentuk ekosistem baru (novel ecosystem). Flora dan fauna ini melakukan penyerbukan atau membentuk tanah baru dengan sendirinya. Novel ecosystem ini banyak kita temukan di daerah-daerah kosong bekas atau akibat dari pembangunan modern yang gagal atau tidak berkelanjutan.

Kemampuan manusia mengubah keseimbangan ekologi tidak dimiliki oleh simpanse atau orang utan sekalipun. Secara individual, jika manusia dan simpanse tinggal di batu karang, kemungkinan simpanse yang dapat bertahan hidup. Manusia akan mati jika ia sendiri diasingkan. Namun, kelebihan manusia adalah kemampuannya bekerja sama, membentuk organisasi atau institusi, dan mengubahnya secara fleksibel jika tidak lagi diperlukan. Secara politik, manusia mampu mengubah hidupnya dari klan, kerajaan, ke bentuk negara, dan seterusnya. Sedangkan, simpanse jika berkumpul tak dapat membentuk institusi seperti yang dibuat oleh manusia.

Terlepas dari kemampuannya menemukan institusi politik saat ini, bernama negara, manusia adalah makhluk yang sangat individualis dan serakah. Yuval Noah Harari, penulis buku Homo Deus (2016) menyebut manusia mengidap sifat "banana republic". Artinya, berbeda dengan singa di gurun yang tampak nyaman dengan hasil buruannya, manusia seperti kera dalam republik pisang, tidak pernah puas terhadap apa yang sudah ada di genggamannya. Itu sebabnya, implikasi yang terjadi adalah kerusakan alam dan pemanasan global.

Ancaman Ekologi

Antroposen tidak hanya berbicara tentang kemampuan manusia mengubah planet, namun juga apa yang punah dari perubahan tersebut. Perkembangan infrastruktur seperti bendungan dan pembangunan jalan menyebabkan punahnya keragaman hayati, binatang langka hingga serangga karena deforestasi. Diversitas tanaman juga akan mengalami kepunahan. Bukan saja karena kemampuan manusia mengawinkan berbagai varietas, namun yang terpenting adalah aktivitas antroposen yang menyebabkan naiknya suhu menyebabkan banyak tanaman kehilangan kemampuan adaptabilitasnya.

Pada saat ini terdapat enam ribu varietas apel di Amerika dari tujuh ribuh seratus varietas pada abad ke-18. Di beberapa negara, hingga tahun 2030 akan ada beragam varietas makanan yang akan punah, baik itu jenis-jenis jagung hingga kopi arabika karena naiknya suhu bumi.

Di lautan, hal paling tampak adalah punahnya binatang-binatang dan komponen phytoplankton di terumbu karang yang berguna menyediakan oksigen. Jika hukum keseimbangan termodinamika di bumi tidak berjalan, di mana oksigen berkurang karena berkurangnya kemampuan phytoplankton dalam memproduksi oksigen, manusia terancam pula karena tercekik kekurangan oksigen. Namun demikian, dibanding spesies lainnya manusia adalah makhluk yang justru paling terakhir bertahan dari ancaman kepunahan karena kemampuannya mengubah alam dengan kecanggihan teknologi.

Kerja Sama Global

Pada saat ini tidak ada satu negara pun yang mau menghentikan pemanasan global karena hal tersebut akan menghentikan pertumbuhan ekonomi. Karena itu permasalahan ekologi dalam antroposen adalah permasalahan tidak terbatasnya ruang gerak sistem kapitalisme. Manusia mengalami eskalasi konsumsi karena menganggap bahwa cara menyelesaikan permasalahan hidup adalah dengan membeli barang baru. Pemerintah dengan sangat mudah melakukan deforestasi dalam membangun infrastruktur, namun tidak mudah mengatasi efek ekologis dan sosial dari pembangunan tersebut.

Efek ekologi dari sistem kapitalisme mutakhir adalah memanasnya suhu bumi karena kadar C02 terperangkap di atmosfer sehingga menimbulkan panas bumi. Kadar C02 yang naik berkorelasi dengan naiknya permukaan air laut dan mengancam tenggelamnya kota-kota dan pulau-pulau kecil. Karena mempunyai kemampuan menciptakan institusi berdasarkan keperluan yang terbaru seperti disebutkan di awal, maka manusia perlu kontrak sosial baru yang sifatnya global, di mana memerlukan semua partisipasi masing-masing negara, misalnya dalam menggunakan energi berkelanjutan yang mempunyai kandungan rendah karbon (AC, lampu), mendorong reforestasi, dan menekan laju populasi yang dimulai dari membentuk keluarga kecil.

Konstitusi baru ini penting mengingat nasionalisme tidak mampu menjawab tantangan pemanasan global. Ketika mencapai kesepakatan tersebut, maka manusia mampu mengubah dirinya dari homo sapiens pauper, makhluk serakah, ke homo sapiens luxus, manusia yang mempunyai kapasitas intelektual untuk merefleksikan dirinya dalam berbagai perubahan. Merujuk pada filsafat klasik J.J Rousseau, manusia memang makhluk rakus (animal lives), tapi pada saat yang sama terpanggil sebagai makhluk sosial yang terikat oleh moralitas (moral lives). Kita dapat memperluas kapasitas moral manusia untuk menggugah apa yang harus dilakukan untuk merawat planet tempat kita tinggal.

Hatib Kadir Ph.D dosen Antropologi Universitas Brawijaya. Alumnus University of California, Santa Cruz

(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed