DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 25 September 2018, 12:08 WIB

Kolom

Banjir Informasi dan Literasi Statistik

Muhammad Iqbal Nasution - detikNews
Banjir Informasi dan Literasi Statistik Foto: Business Insider
Jakarta -

Beberapa bulan yang lalu, hasil survei sebuah lembaga kesehatan terkemuka mempublikasikan temuan kontroversialnya yang menyatakan, "Ternyata, selama ini manusia rata-rata hanya memiliki organ reproduksi (maaf) buah zakar/testis satu buah saja." Bagaimana mungkin cuma satu? Semua orang tahu bahwa setiap pria normal pada umumnya memiliki dua buah organ genital itu. Kontan, berita tersebut segera menjadi pro dan kontra, diulas di berbagai kolom opini media massa.

Menanggapi berita ini, sebagian anak laki-laki yang tak paham bertanya pada ibunya. Sekelompok ibu-ibu yang galau, tak yakin berdiskusi dengan para suaminya. Dan, segerombol suami macho merasa ditikam hati nuraninya, memprotes keras statistik hasil survei yang mereka anggap tidak manusiawi. Turut serta pula, kaum milenial dengan jari jemari terampilnya menyoal wacana ini di berbagai media sosial dilengkapi dengan berbagai tudingan akan buruknya kredibilitas lembaga yang mempublikasikannya.

Meskipun banyak yang setuju, menyatakan rata-rata manusia mempunyai dua buah testis adalah pendapat yang keliru. Mengapa begitu? Manusia tidak hanya pria. Wanita dengan struktur organ genital yang sangat berbeda juga merupakan bagian dari populasi semesta. Rata-rata dari keduanya akan menjurus kepada kenyataan statistik yang sulit dicerna. Kegagapan dalam menginterpretasikannya merupakan akibat dari kurangnya literasi statistik bahkan untuk ukuran statistik yang paling umum, yaitu rata-rata.

Tentu saja, cerita di atas hanyalah fiktif belaka. Sayangnya, kegagapan dalam menginterpretasikan statistik rata-rata nyata terjadi menyusul keluarnya statistik kemiskinan pada periode Juli 2018 lalu. Kehebohan serupa ramai menghiasi jagad maya maupun dunia nyata perihal angka garis kemiskinan per kapita yang pada dasarnya juga merupakan nilai rata-rata.

Garis Kemiskinan

Garis Kemiskinan (GK) merupakan representasi dari rata-rata jumlah rupiah minimum yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pokok makanan dan bukan makanan per orang (BPS, 2018). Mengingat krusialnya peran GK dalam menentukan miskin-tidaknya status seseorang, adalah hal yang lumrah untuk menguji validitas statistik GK sebesar Rp 401.220 per kapita per bulan atau sekitar Rp 13 ribu perorang per hari berdasarkan intuisi pengalaman pribadi.

Pada umumnya dua pendekatan yang digunakan untuk mengakomodasinya, yaitu pendekatan pendapatan dan pendekatan pengeluaran seseorang sehari-hari. Namun, diperlukan kehati-hatian dalam melakukannya karena adanya dua potensi kekeliruan interpretasi rata-rata yang terdiri dari exceptional fallacy dan ecological fallacy (Levitin, 2016: 19).

Melalui pendekatan pendapatan, kekeliruan akibat kecenderungan kita untuk menghakimi beragamnya kondisi populasi hanya berdasarkan sudut pandang pihak tertentu saja (exceptional fallacy) seperti pada kasus buah zakar di awal, terindikasi. Hal ini terbukti dalam berbagai opini, sang pemilik pendapatan seringkali menganggap angka rata-rata GK Rp 13 ribu sangat kecil sekali. Misalnya saja, pada pemulung yang dianggap tidak miskin lagi karena berpenghasilan Rp 15 ribu per hari.

Padahal, nilai rata-rata tersebut tidak hanya ditujukan bagi penduduk yang memiliki pendapatan, tetapi juga bagi mereka yang tidak berpenghasilan sama sekali. Faktanya, secara proporsi 51% penduduk Indonesia merupakan penduduk tanpa pendapatan atau pekerjaan yang terdiri dari pengangguran, balita, lansia, ibu rumah tangga, dan anak sekolah (Sakernas BPS, 2018).

Sementara, pada pendekatan pengeluaran, rata-rata GK Rp 13 ribu selalu dibenturkan dengan biaya belanja konsumsi seorang ibu rumah tangga setiap hari. Seorang ibu merupakan sosok yang paling bertanggung jawab dalam pengeluaran untuk kebutuhan keluarga sehari-hari, maka wajar saja jika pengeluaran seorang ibu jauh lebih tinggi dibanding anggota keluarga lainnya. Statistik rata-rata meringkas keragaman rentang nilai ini, dan menyajikannya dalam suatu nilai tengah yang bernilai lebih rendah dibanding pengeluaran si ibu yang cenderung berada di sekitar batas atas (upper limit). Kemudian, potensi salah interpretasi ecological fallacy pun terjadi.

Oleh sebab itu, agar kita tidak terjerumus dalam berbagai bias makna, BPS selalu membantu menerjemahkan statistik GK per kapita pada kondisi sekelompok manusia yang hidup dan tinggal bersama atau disebut dengan rumah tangga. Artinya, GK Rp 401.220 per orang dikalikan terlebih dahulu dengan rata-rata jumlah anggota dalam suatu rumah tangga miskin yang sebesar 4,6 orang. Dengan demikian, diketahui bahwa sebuah rumah tangga akan tergolong miskin jika pengeluaran­nya kurang dari Rp 1,8 juta per bulan atau sekitar Rp 60.000 per hari jika dibagikan dengan 30 hari.

Literasi Statistik

Rata-rata merupakan salah satu ukuran statistik yang paling sederhana, tetapi tanpa disadari bias masih sering terjadi dalam memaknainya. Dalam bukunya A Field Guide to Lies, Levitin (2016) mengingatkan kita untuk berhati-hati dengan statistik rata-rata dan bagaimana bentuk interpretasinya. Rata-rata dari beberapa populasi yang jauh berbeda karakteristiknya seperti kasus-kasus di atas akan menghasilkan statistik yang absurd dan dapat mempermainkan logika. Pemahaman terhadap statistik yang baik merupakan kunci untuk dapat memandang secara jernih duduk persoalan yang sebenarnya.

Kutipan populer dari seorang Profesor Statistik, Edwards Deming berbunyi, "In God we trust, all others must bring data." Masalahnya: kemarin pihak oposisi menggunakan data statistik untuk mendukung argumentasinya; hari ini sebuah media corong pemerintah menampilkan fakta yang berlawanan untuk membantahnya; dan, esoknya seorang ekonom memakai informasi lainnya untuk membuktikan bahwa pendapat keduanya salah (The Economist, 2017). Lalu, siapa yang mau kita percaya?

Kebanjiran data dan informasi jauh melebihi apa yang kita butuhkan merupakan keniscayaan ketika seseorang memiliki gadget yang terkoneksi dengan dunia 24 jam dalam sehari. Literasi statistik merupakan harga mati untuk dapat tetap berpikir kritis di era teknologi dan informasi seperti saat ini.

Muhammad Iqbal Nasution statistisi, alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Statistik


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed