DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Senin 17 September 2018, 11:10 WIB

Kolom Kang Hasan

Demonstrasi Mahasiswa, Obsesi Mengulang Sejarah

Hasanudin Abdurakhman - detikNews
Demonstrasi Mahasiswa, Obsesi Mengulang Sejarah Hasanudin Abdurakhman (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Sejarah sering kali tampak berulang. Orang-orang belajar dari sejarah dengan pikiran bahwa sejarah bisa terulang. Dari pola sejarah mereka mencoba mencari gagasan untuk menghadapi situasi sekarang. Ada juga yang terobsesi untuk mengulangi sejarah. Mereka mencari kecocokan antara situasi masa lalu dengan kondisi sekarang. Lalu, mereka merancang tindakan dengan meniru tindakan di masa lalu. Mereka menjadi pelaku sejarah yang berulang.

Obsesi untuk menjadi pelaku pengulang sejarah itu selalu ada. Karena itu banyak orang yang suka mencocok-cocokkan situasi, antara situasi sekarang dengan situasi masa lalu. Salah satu poin perdebatan soal melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika saat ini adalah soal apakah situasi ini sama dengan situasi krisis menjelang 1998. Perdebatan ini bukan semata soal ekonomi. Ini menyangkut harapan pada sekelompok orang agar terjadi situasi seperti pada 1998. Rantainya adalah krisis moneter yang diikuti kekacauan, lalu terjadi pergantian kekuasaan. Orang-orang yang terus mengumandangkan pendapat bahwa krisis sekarang sudah parah dan mirip tahun 1998 memiliki obsesi itu.

Bagi aktivis mahasiswa, 1998 adalah suatu momentum besar. Ia sama besarnya dengan tahun 1966. Keduanya memiliki kesamaan, yaitu tumbangnya sebuah rezim yang sudah berkuasa sangat lama, dan para mahasiswa memainkan peran besar di situ. Para aktivis di tahun 1998 menjadikan 1966 sebagai referensi sejarah. Demikian pula, aktivis mahasiswa masa kini menjadikan 1998 sebagai referensi pula.

Apa yang penting pada kejadian itu sehingga perlu diulang? Pertama, tentu penting untuk mencatatkan nama sebagai pelaku sejarah. Itu akan menjadi semacam legacy bagi pelakunya. Itu juga akan jadi bahan cerita untuk anak cucu kelak. Tapi, ada yang tidak kalah penting yaitu pelajaran dari sejarah tadi. Aksi di tahun 1966 telah melontarkan cukup banyak tokoh mahasiswa ke barisan elite politik Orde Baru. Kita mengenal orang-orang seperti Cosmas Batubara, Akbar Tanjung, Abdul Gafur, Sofjan Wanandi, dan lain-lain sebagai contohnya. Aksi 1998 menghasilkan Fahri Hamzah, Andi Arief, Fadjroel Rahman, Jumhur Hidayat, dan sebagainya. Mereka adalah elite politik pada masa Reformasi. Mahasiswa kini tentu ada sebagian yang berharap bisa terlontar ke barisan elite politik di masa depan.

Tapi, sejarah sebenarnya tidak pernah benar-benar terulang. Yang terjadi hanyalah pencocokan oleh pengamat maupun calon pelaku, baik untuk keperluan penyederhanaan maupun untuk memenuhi obsesi mengulang sejarah. Aksi di tahun 1998 misalnya tidak menghasilkan rezim baru dengan kekuasaan mutlak seperti aksi 1966. Tokoh-tokoh mahasiswa 1998 tidak menempati posisi yang benar-benar elite pada rezim baru, melainkan hanya menempati posisi-posisi kelas dua.

Apakah situasi 2018 mirip dengan situasi 1998? Sama sekali tidak. Ada krisis moneter, tapi magnitude-nya jauh berbeda. Nilai tukar rupiah terhadap dolar memang merosot ke angka yang sangat rendah, tapi jangan lupa bahwa titik awalnya sangat berbeda. Krisis moneter 1998 dimulai dari nilai tukar dolar sebesar 2500 rupiah, sedangkan sekarang nilai awalnya adalah 12.500. Selain itu, fondasi sosial politik kita sangat berbeda. Pemerintah sekarang adalah pemerintah yang terpilih secara sah, yang hanya bisa diganti melalui pemilihan umum.

Tentu ada pihak lain yang berbeda pandangan soal kemiripan itu. Mereka adalah pihak yang terobsesi untuk mengulang sejarah tadi. Tidak hanya pihak mahasiswa yang begitu, tapi juga dari kalangan politikus. Satu hal yang menarik untuk dicatat, bahwa aksi mahasiswa sebenarnya tidak pernah benar-benar murni. Selalu ada koneksi antara elite politik dengan mereka. Nah, ada pula elite politik yang ingin mengulangi sejarah. Atau, setidaknya mereka ingin mengambil suatu pola yaitu memanfaatkan mahasiswa untuk menggoyang pemerintah.

Kalau Anda melihat foto tokoh mahasiswa yang terlihat sumringah di sisi seorang politikus, itu adalah gambaran tentang dua orang yang punya obsesi sama yaitu mengulang sejarah tadi.

Bagi saya, situasi sedang berjalan menjauh dari kemungkinan perulangan seperti di atas. Arus demokratisasi sudah semakin kuat, nyaris menutup semua peluang pergantian kekuasaan yang diawali dengan kekacauan. Karenanya pola gerakan mahasiswa seharusnya bergeser. Fokusnya bukan lagi pada kritik terhadap rezim secara menyeluruh, dengan harapan rezim bisa diganti. Kritik lebih tepat ditujukan pada berbasis pada suatu isu dengan tujuan perbaikan.

Salah satu hal penting dan urgen untuk diperbaiki saat ini adalah sistem politik. Di satu sisi kita tampak seperti membangun demokrasi. Tapi, bangunan ini keropos pada fondasi pentingnya yaitu partai politik. Partai beroperasi tanpa ideologi, juga tanpa konsep. Semata bergerilya mencari kekuasaan. Politik menjadi begitu pragmatis. Uang menjadi alat utama untuk meraih kekuasaan.

Ketika seseorang terpilih, ia fokus pada usaha mengumpulkan uang untuk mengembalikan modal yang sudah dikeluarkan. Lalu, ia korupsi. Korupsi yang begitu marak di berbagai lini pemerintahan terkait sangat erat dengan sistem politik tadi.

Pernahkah mahasiswa bersuara soal ini? Saya belum pernah mendengarnya. Pola aksi selama ini selalu mengarah pada kritik terhadap pemerintah eksekutif. Mengritik partai politik, atau legislatif tidak menarik karena pola pikirnya masih dipatok pada sejarah tadi. Mahasiswa kalau masih mau tampil kritis harus keluar dari kotak itu. Berpikirlah lebih merdeka.

Hasanudin Abdurakhman cendekiawan, penulis dan kini menjadi seorang profesional di perusahaan Jepang di Indonesia


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed