DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 14 September 2018, 17:04 WIB

Kolom Kalis

Ragam Hidayah di Kampung Kang Kandar

Kalis Mardiasih - detikNews
Ragam Hidayah di Kampung Kang Kandar Kalis Mardiasih (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Setiap pagi, setelah subuh tepat, ceramah pengajian yang disiarkan oleh saluran Radio Jos FM terdengar amat nyaring dari rumah Kang Kandar. Narasumbernya bernama KH Ma'ruf Islamudin, seorang kiai asal Sragen yang begitu populer pada tahun 2000-an. Suara yang terdengar memenuhi satu gang perkampungan itu tidak pernah dianggap gangguan. Mungkin sebab siaran ceramah itu menghibur hingga semua senang saja, atau tradisi salah satunya terbentuk dari pemakluman ke pemakluman.

Warga gang biasanya memang sudah aktif bekerja sejak subuh, mulai dari mencuci pakaian, memasak untuk warung makan milik mereka, atau mempersiapkan keperluan anak ke sekolah. Jika berkumpul di sumur untuk menimba air, radio digantung pada batang pohon mangga. Volume disetel keras-keras. Warga kampung akan tertawa bersama jika ada materi ceramah yang lucu. Mereka juga spontan menjawab salawat atau meneriakkan 'amin' ketika Sang Kiai memanjatkan doa.

Sepintas konten agama menjadi profan, tapi sesungguhnya ada nuansa sakral yang halus jika mengingat Kang Kandar dan para tetangga adalah warga abangan yang berprofesi pekerja kasaran. Mereka sungkan pergi ke masjid dan menghadapkan wajah langsung ke Tuhan, tapi mereka tak jadi pemalu ketika mendengarkan siaran ceramah radio.

KH Ma'ruf Islamudin punya gaya ceramah yang khas. Spanduk acaranya bertajuk Nada dan Dakwah. Biasanya ia memang tidak datang seorang diri, melainkan sepaket dengan grup rebana "Walisongo" yang ia pimpin. Grup musik itu menyanyikan lirik-lirik yang bertema nasihat keseharian dan digubah bersama nadzam salawat. Beberapa judul lagu populer, misalnya Tiket Suargo, Globalisasi, Sangu Telu, Lir Ilir, dan Rumongso biasa menjadi syair yang didendangkan ketika azan magrib di musala kampung.

Bahasa lokal memiliki khasanah kebahasaan yang unik. Penceramah lokal menguasai parikan alias pantun Jawa, juga hiperbola, eufimisme, atau ironi yang lebih cocok untuk membicarakan lokalitas. Dalam sebuah ceramah, KH Ma'ruf memberi contoh kasus. "Yen sampeyan teko pengajian mung dikira antri jajan, dijarke mawon. Ati niku kedah kuat." (Kalau Anda datang ke pengajian dikira orang hanya sebab mengantre jajanan, cuekin saja. Hati itu harus kuat). Relasi sederhana antara jajan dan pengajian adalah realitas sehari-hari wong cilik. Untuk berbicara soal niat dan keikhlasan, contoh yang dipakai sangat berkenaan dengan peristiwa hidup sehari-hari yang teralami.

Ceramah-ceramah KH Ma'ruf Islamudin banyak diproduksi dalam bentuk VCD, baik versi asli maupun bajakan yang lebih laris bagai cemilan di pasar tradisional dan di jalanan. Kedudukan "ulama" sebagai mitra tergambar dalam sebuah peristiwa belanja. Seorang pedagang ayam bisa saja meletakkan koleksi VCD bajakan yang ia beli di dalam karung sepeda gunungnya. Selain KH Ma'ruf, ada nama lain seperti KH Mastur Jepara yang juga terkenal sebagai dalang dan Kharisma Yogi Noviana, penceramah perempuan remaja.

Kampung Kang Kandar juga sempat heboh dengan salinan VCD yang berisi ceramah mantan biarawati. Biarawati yang baru masuk Islam itu berkisah bagaimana hidayah menghampirinya dengan cukup dramatis. Seorang biarawati yang mendapat kebenaran baru justru ketika menempuh kuliah perbandingan agama dan mulai mempelajari kitab suci agama lain, tentu framing cerita yang sangat ciamik. Usai memaparkan kekagumannya pada ayat-ayat Al Quran, ia mulai menyajikan narasi ketakutan yang jamak kita dengar hingga hari ini. Praduga soal umat agama lain yang menunggu umat Islam lengah, lalu akan menghancurkan umat Islam lewat berbagai cara.

Warga di kampung Kang Kandar tentu saja memperhatikan ceramah si biarawati dengan seksama. Kali ini, rasa ketertarikan bersumber dari informasi yang bersifat konspiratif. Tapi, isi ceramah ibu biarawati sulit dipahami warga. Pasalnya, sejak dulu Kang Kandar berbelanja segala kebutuhan di warung Cik Noni yang Tionghoa, juga makan siang di rumah makan Koh Hendri yang tak cukup kaya. Warga kampung tidak pernah berganti keimanan. Tak ada saling curiga dan perasaan merasa bahaya seperti materi ibu Biarawati itu.

Selain ceramah kaset-kaset itu, toh yang paling nyata bersama warga kampung Kang Kandar adalah Pak Kaji Suratman. Ia adalah Pak Kaum yang setia menemani muda-tua di langgar mengeja a ba ta, tak pernah telat mengazani musala, dimintai doa untuk bayi-bayi yang sakit, mengingatkan ritual salat gerhana, sampai memberi kultum tiap pengajian malam Jumat. Pak Kaji Suratman tak pernah mengajari hal muluk. Ia hanya berpesan agar warga kampung senantiasa rukun dan saling peduli. Jika ada yang sakit, saling berkunjunglah. Jika ada undangan kenduri, hadirilah. Jika ada yang meninggal, antarkanlah sampai ke pekuburan. Jika ada yang bertengkar, leraikanlah.

Maka, Kang Kandar agak bingung saat kedatangan model pembelajaran agama bentuk baru lagi. Katanya warga kampung mesti hijrah. Kang Kandar hanya mendengar cerita hijrah kaum Ansor dan Muhajirin pada zaman Nabi. Tapi, hijrah kali ini berbeda. Anak-anak muda itu datang dengan cerita perihal usaha mereka yang bangkrut karena jerat pinjaman-pinjaman perbankan. Selain merasa kena tipu, mereka merasa berdosa karena gagal membaca ayat Al Quran soal larangan riba. Berikutnya, anak-anak muda ini menawarkan berbagai produk jualan yang katanya lebih berkah sebab segala prosesnya halal alias terjaga.

Woalah, Kang Kandar jadi bingung. Pasalnya, ia belum pernah rugi dalam usaha, wong sejak dulu bisnisnya ya gini-gini aja. Ia juga tak punya pengalaman dengan segala urusan pinjam-meminjam tingkat tinggi itu. Lagipula, kalau gagal mengatur arus keuangan, selain belajar mengevaluasi diri lewat agama, kan harusnya belajar lagi soal manajemen. Tapi, embuhlah, buku-buku yang didapat Kang Kandar dari pengajian tingkat tinggi itu ikut ia buang bersama nota belanja bahan bangunan.

Kali lain, ada ustazah datang menyuruh kaum ibu pakai kerudung yang benar. Menurut si ustazah, selama ini pakaian para ibu mengundang dosa jariyah bagi pria yang memandang. Aurat perempuan harus ditutup seluruhnya, kalau tidak jadi fitnah. Istri Kang Kandar mula-mula manggut-manggut. Besoknya ia sudah lupa sebab sudah biasa memecahi kelapa dagangan di pasar memakai setelan kaos, celana, dan kain ikat penutup kepala saja. Suatu siang, ia iseng mampir ke toko si ustazah untuk melihat-lihat model gamis dan kerudung. Eh, tahu harganya mahal, istri Kang Kandar lalu kabur sambil nyengir....

Kalis Mardiasih menulis opini dan menerjemah. Aktif sebagai periset dan tim media kreatif Jaringan Nasional Gusdurian dalam menyampaikan pesan-pesan toleransi dan kampanye #IndonesiaRumahBersama. Dapat disapa lewat @mardiasih

(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed