DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 14 September 2018, 15:10 WIB

Kolom

Milenialisasi Jokowi, Santrinisasi Sandi

Irfan L. Sarhindi - detikNews
Milenialisasi Jokowi, Santrinisasi Sandi
Jakarta - Setidaknya ada dua pangsa pasar besar yang kerap disituasikan sebagai faktor penggali kontestasi Pilpres 2019: komunitas santri dan kalangan milenial. Yang pertama berhubungan dengan konteks muslim sebagai mayoritas pada situasi di mana religiusitas sedang kuat-kuatnya; yang kedua terkait dengan bonus demografi anak muda yang 'terdigitalisasi' dan terdisrupsi kehidupan dan tatanan sosio-kultural dan politisnya. Tak heran jika kemudian narasi yang dimobilisasi oleh kedua pasangan capres dan cawapres beserta timsesnya senantiasa beririsan, atau berada di wilayah spektrum, kedua faktor tersebut.

Kita mulai dari Joko Widodo, incumbent yang ngetren dengan panggilan Jokowi. Demi kemaslahatan, terutama di tubuh koalisi, akhirnya melabuhkan pilihan pada Kiai Ma'ruf Amin, Jenderal tinggi MUI dan NU. Usianya yang sepuh menjadi titik-temu kepentingan, dan juga mungkin gesekan, di antara aspirasi politik Gus Romi dan Cak Imin. Dengan mempertimbangkan politik identitas dan politisasi agama yang muncul semenjak Pilpres 2014, pemilihan Kiai Ma'ruf Amin tidak hanya menawarkan gagasan konsolidasi ulama-umara, tetapi juga menjadi tameng bagi tuduhan anti-Islam dan anti-ulama yang kerap dialamatkan kepada Jokowi.

Dengan pemilihan Kiai Ma'ruf Amin, secara teoritis, dukungan dari kalangan santri, apalagi yang berafiliasi kepada NU, dianggap sudah aman --sudah "masuk Pak Eko". Walaupun, perubahan masih mungkin terjadi mengingat corak kepemimpinan di tubuh NU yang desentralistik, pun para kiai di daerah memiliki otoritas untuk tidak seiya sekata dengan PBNU. Namun, setidaknya Kiai Ma'ruf Amin dapat menggunakan privilege-nya sebagai ulama sepuh yang mesti di-sami'na wa atha'na dengan merujuk pada etika relasi santri-kiai ala Imam al-Ghazali maupun ala etika-belajar ta'lim muta'allim.

Tinggal kemudian bagaimana merangkul faktor X lain: kalangan milenial, yang tidak selalu beririsan dengan kalangan santri. Isu-isu mereka berbeda; kecenderungan mereka tidak sama. Muncullah kemudian, suatu argumen yang menurut saya cenderung dipaksakan: Kiai Ma'ruf Amin adalah kiai (pro) milenial. Bahwa terlepas dari usianya yang sepuh, Kiai Ma'ruf dianggap punya kemampuan untuk mengakomodasi, dan bahkan peka terhadap kebutuhan, kalangan milenial. Tetapi, narasi ini banyak bolongnya, sehingga kemudian yang dimilenialisasi adalah Jokowi. Apalagi secara usia Jokowi jelas lebih muda ketimbang Kiai Ma'ruf, pula jauh sebelum pilpres Jokowi telah dimilenialisasi oleh tim komunikasi politiknya melalui, misalnya keaktivannya main vlog, hadiah sepeda untuk yang bisa menjawab pertanyaan, dan seterusnya.

Ndilalah, dalam proses tersebut hadirlah momen Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang. Atas kecerdikan Wishnutama meramu acara kreatif, Jokowi dimunculkan dalam opening dengan mengendarai motor besar menembus kemacetan, masuk ke stadion disambut riuh teriakan dan tepuk tangan. Video tersebut viral, dibahas di mana-mana; sebagian dengan nada kagum, sebagian dengan kesal hingga Jokowi dituntut untuk jujur bahwa yang membawa motor pasti, dan memang tidak bisa tidak, adalah stuntman. Wishnutama menolak tuduhan bahwa opening Asian Games bermuatan politik walau tidak bisa dipungkiri bahwa kesediaan Jokowi terlibat dalam scene yang "sangat muda" semakin mengukuhkan proses milenialisasi tersebut.

Apalagi kemudian tim suksesnya diisi oleh sederet nama-nama anak muda, diketuai Erick Thohir yang bukan politisi tulen melainkan pengusaha muda --salah satu otak kesuksesan Asian Games 2018. Semakin mengindikasi bagaimana proses milenialisasi tersebut berjalan dengan harapan, kedua faktor X di atas dapat diakomodasi dan dirangkul semaksimal mungkin.

Di sisi lain, kubu Prabowo yang dekat dengan kalangan 212 dan FPI disodori calon wakil presiden hasil ijtimak ulama: Ustaz Abdul Somad (UAS) dan Salim Segaf Al-Jufri. Dengan menggunakan bargaining position hasil kemenangan Pilgub Jakarta, usulan ijtimak ulama ini ditegaskan bukan sekadar usulan, melainkan rekomendasi nyaris wajib. Nama Anies Baswedan juga sempat muncul, begitu pula AHY yang diiklankan Demokrat sejak lama. Tetapi, akhirnya pilihan jatuh kepada Sandiaga Uno di menit-menit akhir, diwarnai tuduhan mahar Rp 500 miliar untuk PKS dan PAN. Demokrat sendiri setelah galau beberapa waktu akhirnya memutuskan berlabuh kepada Prabowo, tetapi mempersilakan kadernya untuk mendukung Jokowi jika mau.

Dengan mempertimbangkan usia Sandiaga Uno yang muda, secara teoritis Prabowo-Sandi punya kapasitas lebih untuk mengamankan suara kalangan milenial. Sandi dianggap punya personifikasi pengusaha muda yang sukses dan senang olahraga; akrab dengan isu-isu anak muda di era digital, role model bagi anak muda yang tidak mau terjebak dalam pekerjaan yang dibenci dan membosankan. Ke-"anakmuda"-an Sandi juga bisa kita lacak dari duelnya dengan Menteri Susi Pudjiastuti di Danau Sunter. Katakanlah, 11-12 dengan aksi motornya Jokowi; hanya ekspos dan responsnya yang berbeda.

Idealnya, sebagai pengusaha muslim yang kaya, Sandi mestinya memahami isu-isu yang dihadapi oleh kalangan muslim kelas atas di perkotaan. Tetapi, tidak ada kesan "santri" pada diri Sandi; apalagi terma santri kerap hanya dilekatkan secara eksklusif pada murid pesantren --wabil khusus pesantren tradisional. Alhasil, Sandi perlu disantrinisasi secara eksplisit guna meneguhkan hati pemilih muslim, utamanya yang kecewa karena UAS dan Salim Segaf tidak dipilih Prabowo. Sohibul Iman pun kemudian yang menyebut Sandiaga Uno sebagai santri post-islamisme; koboi dalam tampilan, santri dalam substansi-akhlak.

Salah satu akhlak yang jadi trademark santri dan pendidikan pesantren adalah cium tangan kepada yang lebih tua, lebih-lebih orangtua dan guru. Sehingga, dalam menyikapi permohonannya untuk bersilaturahmi kepada Jokowi, Sandi merasa harus secara eksplisit menegaskan keinginannya mencium tangan Jokowi. Jadi, kita telah melihat bagaimana dua kubu memiliki kekuatan besar di salah satu dari dua faktor X Pilpres 2019, dan secara sistematis berusaha merebut signifikansi pihak lawan di faktor X yang lain. Sejauh mana ini akan berjalan, perlu dilihat pada hari-hari ke depan.

Irfan L. Sarhindi pengasuh Salamul Falah, associate researcher Akar Rumput Strategic Consulting, alumni Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan Ahmad Syafii Maarif


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed