DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 11 September 2018, 21:23 WIB

Sentilan Iqbal Aji Daryono

Menggugat Lagi Makna Literasi

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Menggugat Lagi Makna Literasi Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Ivon/detikcom)
Jakarta - "Pada dasarnya, pemblokiran tuh tidak perlu. Sebab kalau ada konten negatif di internet, ada kekuatan yang lebih efektif untuk menangkalnya dibandingkan dengan pemblokiran paksa. Apa itu? Ya, literasi masyarakat kita sendiri! Persoalannya, literasi kita rendah, sehingga pemblokiran kadang terpaksa dilakukan."

Demikian lelaki di hadapan saya berkata. Dia tokoh penting di balik penutupan legal atas situs-situs bermasalah di Indonesia.

"Coba bandingkan dengan Singapura," Si Mas melanjutkan. "Di sana, jika seseorang melihat pop up konten pornografi muncul di ponsel, misalnya, dia akan langsung menutupnya. Lah di sini, kita terpancing dan membukanya. Jadi tampak sekali bahwa literasilah kuncinya!"

Saya menyimak sambil manggut-manggut takzim. Tapi, tunggu dulu. Singapura? Oke saja sih jika dikatakan bahwa masyarakat Singapura punya pertahanan diri yang baik dalam menghadapi konten-konten negatif di internet. Tapi, betulkah tingkat literasi di Singapura tinggi?

Buat saya, makna literasi masih terselimuti kabut misteri. Literasi tidak bisa sekadar dimaknai dengan kondisi masyarakat yang melek huruf, yang bagus pendidikan formalnya, atau yang memiliki minat baca tinggi. Itu menurut saya. Boleh sekali dibantah, tentu saja. Namun, makna paling dasar atas kata suci "literasi" semestinya dibongkar kembali, apalagi kita baru saja melewati Hari Literasi tanpa gairah yang berarti.

Hei, Anda tahu bahwa tiga hari yang lalu kita merayakan Hari Literasi Sedunia, bukan? Tidak tahu? Ah, Anda kok sangat illiterate begitu, to? Saya jadi sedih....

***

Setiap kali menyebut nama Singapura, rasanya kita minder seketika. Itu negeri mungil tapi digdaya, dan menjadi kiblat kemajuan di Asia Tenggara. Namun, betulkah dalam perkara literasi Singapura sebegitu dahsyatnya?

Saya tidak ingin langsung memercayainya karena satu hal, yakni tradisi kritis di sana. Singapura memang hebat dan kaya raya. Namun, sependek pengetahuan saya, kemerdekaan bersuara di sana amat minim. Sebagai satu indikator tergampang, warga Singapura sangat tidak bebas bersuara, apalagi di ruang publik. Satu-satunya tempat yang bisa digunakan untuk berunjuk rasa hanyalah Speakers' Corner di Hong Lim Park.

Tuh, lihat. Betulkah dengan atmosfer seperti itu literasi bisa diraih? Saya kok ragu.

Maka, saya mengintip kembali pemeringkatan yang dilakukan oleh PISA (Programme for International Student Assessment), rujukan yang sangat sering diacu oleh para akademisi. Menurut versi PISA pada tahun 2015, sistem pendidikan terbaik di dunia dipegang oleh... Singapura!

Ini membuat saya kembali minder, dan menjadikan argumen saya tentang pembatasan ekspresi di Singapura tadi runtuh seketika.

Ya, Singapura adalah negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia. Ia telah membuat Finlandia, negara yang sebelumnya selalu menduduki peringkat teratas itu, terlempar ke urutan ke-5. Karena hantaman Singapura, disusul Jepang, Estonia, dan Taiwan, Finlandia melorot seiring dengan nyungsepnya produk kebanggaan mereka: Nokia.

Pertanyaannya kemudian, betulkah sistem pendidikan memang menentukan kualitas literasi masyarakat sebuah negara?

Karena pertanyaan itu, langkah pengintipan ke situs PISA saya susul dengan membuka lagi daftar yang selama ini didengung-dengungkan di mana-mana, daftar yang membuat kita selalu memandang diri sendiri dengan sangat nista. Pihak yang meluncurkan daftar tersebut adalah Central Connecticut State University (CCSU), pada 2016. Menurut CCSU, Indonesia menduduki urutan ke-60 dari 61 negara dalam perkara literasi masyarakat. Semua pernah mendengar, bukan? Tentu saja, karena para aktivis literasi bahkan para pejabat menyitirnya di mana-mana.

Saya pun mencari-cari nama Singapura di pemeringkatan bertajuk World's Most Literate Nations itu. Di mana Singapura? Oh, saya tidak menemukannya di singgasana tertinggi, kawan-kawan yang berbahagia. Kursi terpuncak diduduki oleh Sang Legenda, Finlandia. Disusul kemudian oleh Norwegia, Islandia, Denmark, Swedia, Swiss, Amerika Serikat, dan... lho, lho, lho. Di manakah engkau, Singapura?

Singapura tidak ada di 5 besar. Pun demikian di 10 besar. Bahkan ia tidak kunjung nongol di 20 besar. Dan, dalam perkara literasi, negara pemegang takhta tertinggi sedunia untuk kualitas sistem pendidikan itu ternyata cuma ngumpet malu-malu di urutan ke-36! Apa-apaan ini?

Dari situ, saya rasa kita sudah bisa menyimpulkan secara kasar: tingkat literasi tidak ditentukan oleh pendidikan formal. Sekolah-sekolah di Singapura memang hebat, bagus, dan itu menjamin sistem pendidikan yang baik di sana. Sialnya, kehebatan sekolah-sekolah itu tidak secara langsung mendukung kualitas literasi masyarakatnya. Itu dia.

Lalu, apa yang dihasilkan oleh sekolah-sekolah yang bagus? Apakah sekadar ribuan tenaga kerja yang pintar dan penurut, serta tidak akan membikin banyak masalah saat mereka bekerja memutar mesin-mesin industri dan pembangunan? Entahlah.

Lalu, apa pula yang menentukan tingkat literasi masyarakat? Apakah dari produk bacaan yang dilahirkan masyarakat tersebut, juga antusiasme mereka atas buku-buku bermutu?

Saya pernah menulis di tempat lain tentang hal itu. Ada keraguan besar ketika melihat Malaysia duduk di angka 53, sementara Indonesia di urutan nyaris bontot yakni 60. Buku-buku di Malaysia jelek-jelek, percayalah sama saya. Tradisi berpikir di sana jauh di bawah Indonesia.

Saya pernah berjumpa dengan penerbit buku dari Malaysia yang sedang berburu hak cipta penerjemahan atas buku-buku Indonesia. Mereka sendiri mengeluhkan minimnya tradisi berwacana masyarakat Malaysia, sehingga buku-buku di Malaysia pun berkarakter kurang lebih sama. Ketika saya membuktikannya dengan berkunjung ke toko-toko buku di sana, curhat dari pelaku penerbitan tersebut menemukan pembenarannya.

Lantas, bagaimana ceritanya dalam soal literasi kok Malaysia mengungguli kita?

Di kasus lain, saya pernah begitu ternganga melihat animo masyarakat Vietnam atas buku-buku. Saya menyaksikan sendiri bagaimana sebuah toko buku di Ho Chi Minh City jauh lebih ramai daripada segala jenis toko yang lain, bahkan pengunjungnya jauh lebih berjubel daripada kafe-kafe dan restoran. Anak-anak duduk di lantai toko sambil membaca buku-buku dengan khusyuk, orang-orang dewasa dengan tekun memilih bacaan mereka masing-masing, dan puluhan lainnya mengikuti antrean panjang di depan kasir pembayaran.

Sialnya, dari seorang kawan akademisi, saya mendapatkan cerita bahwa para akademisi dari Vietnam selalu takut-takut dan menutup diri setiap kali diminta berbicara tentang pemerintah mereka. Tidak tampak sama sekali budaya kritis khas dunia akademis, khususnya saat mereka diminta berbicara tentang negeri mereka sendiri.

Jadi, apakah antusiasme atas buku-buku menentukan nasib kualitas literasi? Sepertinya memang tidak. Toh, dari 61 negara di daftar CCSU itu tadi, nama Vietnam tidak tampak sama sekali.

***

Kembali pertanyaan itu harus disodorkan: apakah itu literasi? Bukan tentang kualitas pendidikan formal, ternyata. Bahkan, bukan pula tentang tingginya nafsu masyarakat atas buku-buku dan aktivitas membaca belaka. Lalu apa?

Saya sampai berpikir, yang salah dan bermasalah justru adalah daftar bikinan CCSU itu sendiri. Lembaga yang sok tahu seperti itu pun bisa jadi gagal membubuhkan makna sejati atas literasi, sehingga produk pemeringkatan versi mereka pun tidak layak dijadikan referensi.

Namun, sebenarnya bukan soal-soal itulah yang perlu dipusingkan bersama. Yang lebih mendesak bagi kita adalah membuat rumusan bersama, bagaimana cara paling efektif untuk membangun kualitas literasi kita. Tanpa terjebak pada peringkat-peringkat, tanpa terjerat oleh angka-angka.

Dalam orasi kebudayaannya sore kemarin di gelaran festival Kampung Buku Jogja, Kyai Irfan Afifi menyebut-nyebut tentang "...tradisi permenungan berjarak yang membantu penelaahan secara sabar, runtut, mendalam, dan reflektif". Meskipun sang budayawan sedang berbicara tentang "buku", saya rasa apa yang ia definisikan itulah makna sejati atas "literasi".

Literasi itu sikap mental. Ia tidak dapat dibangun sekadar dengan sekolah, bahkan tidak juga sekadar dengan buku-buku. Antusiasme kita dalam membaca buku saja belum akan mampu membangun tradisi literasi, selama tidak kita lengkapi dengan daya kritis, refleksi, dan skeptisisme atas apa pun yang kita baca. Dari sikap-sikap itulah kita menata kemampuan untuk melihat segenap hal ikhwal secara menyeluruh, multiperspektif, penuh keraguan yang konstruktif, sehingga dari sana jalan akan terbuka menuju masyarakat yang matang dan dewasa.

Setuju? Tidak setuju juga tidak apa-apa. Yang penting mari kita membaca, tapi jangan gampang percaya dengan apa-apa yang kita baca. Selamat Hari Literasi Sedunia.

Iqbal Aji Daryono esais, tinggal di Bantul


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed