DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Senin 10 September 2018, 10:56 WIB

Kolom Kang Hasan

Perilaku Sesat Energi

Hasanudin Abdurakhman - detikNews
Perilaku Sesat Energi Hasanudin Abdurakhman (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Kemarin petang saya check in di sebuah hotel di Surabaya. Saya sendiri, tapi pihak hotel menyediakan dua kartu tamu. Tiba di kamar, lampu kamar dalam keadaan mati semua, karena lampu baru akan menyala kalau kartu tamu tadi diselipkan di tempat yang ditentukan. Anehnya, AC kamar sudah menyala. Tidak hanya menyala, tapi disetel di suhu 16 derajat. Maka, hal pertama yang saya lakukan setelah masuk kamar adalah mematikan AC.

Kartu kamar difungsikan sebagai sakelar utama di kamar, dengan tujuan hemat energi. Bila tamu tidak berada di kamar, ia akan membawa pergi kartunya, otomatis seluruh lampu kamar akan mati. Dengan cara itu ratusan tamu di hotel bersama melakukan penghematan.

Tapi, sistem seperti itu menjadi ironi ketika AC tidak masuk dalam rangkaian sakelar utama. Artinya, AC akan tetap hidup tanpa penghuni kamar berada di dalam. Lebih parah lagi, AC disetel di suhu yang luar biasa dingin. Situasi ini tidak searah dengan niat untuk hemat energi melalui sistem kartu tadi.

Tujuan sistem juga tidak tercapai ketika tamu diberi dua kartu. Begitu tamu masuk, ia menyelipkan satu kartu, sedangkan kartu yang lain bisa dia bawa keluar. Selama ia keluar, lampu kamar akan terus menyala.

Soal setelan AC, hotel-hotel di Indonesia memang kemaruk. Setelan AC selalu dibuat sangat dingin, selalu pada suhu terendah. Maka, seperti saya tulis tadi, saya selalu mematikan AC ketika tiba di kamar hotel untuk pertama kalinya. Suhu kamar hotel sangat tidak nyaman buat saya.

Kalau diundang di acara-acara di hotel mewah saya lebih sering datang dengan memakai jas. Bukan karena pakai jas itu keren, tapi untuk memastikan saya tidak kedinginan selama acara. Seperti di kamar, suhu di ruang pertemuan hotel juga disetel sangat dingin.

AC itu fungsinya untuk membuat tubuh kita nyaman. Panas dan gerah tentu bukan suasana yang nyaman. Maka, dibuatlah AC untuk menurunkan suhu udara. Sebaliknya, dingin juga bukan keadaan yang nyaman. Suhu kamar di bawah 20 derajat celcius bukanlah suhu yang nyaman untuk kita orang tropis. Itu setara dengan suhu musim semi atau musim gugur di negara empat musim, di mana orang keluar rumah memakai pakaian ganda (dengan sweater atau jaket). Menyetel suhu ruangan di suhu itu sebenarnya menyiksa diri. Suhu kamar sebaiknya disetel antara 24-26 derajat celcius.

Cerita di atas adalah contoh perilaku sesat dalam pemakaian energi yang sangat sering kita temukan dalam keseharian. Orang membuang energi, tidak untuk memenuhi kebutuhannya. Energi terbuang karena ia tak paham apa konsekuensi tindakannya pada energi. Atau, mereka mungkin paham, tapi tidak terlatih untuk bersikap tepat. Ada juga yang memang tidak peduli.

Perhatikan bahwa hemat energi bukan berarti kita menahan diri untuk tidak memakai energi yang kita butuhkan, demi penghematan. Hemat artinya kita memakai sesuatu hanya sebatas yang kita butuhkan saja. Jangan sampai kita memakai energi (juga berbagai sumber daya yang lain) melebihi batas yang kita butuhkan.

Perilaku positif soal energi memang harus dijadikan kebiasaan. Sekadar tahu saja tidak membuat orang mengubah perilaku. Sekadar sadar pun tidak cukup. Kebiasaan harus dibangun di berbagai lingkungan.

Seringnya kita temukan sikap boros energi tadi menunjukkan bahwa tidak ada upaya serius untuk membangun kebiasaan hemat energi. Faktanya memang tidak ada. Yang bisa kita sebut sebagai contoh usaha membangun kesadaran energi adalah iklan layanan masyarakat Kementerian ESDM di TV. Frekuensinya jarang, jauh dari cukup untuk membangun kesadaran. Padahal, bahkan kesadaran pun masih jauh dari cukup untuk membangun kebiasaan.

Sistem pendidikan kita juga tidak bisa diharapkan untuk membangun perilaku hemat energi. Bahkan para guru sendiri tidak punya kesadaran soal itu. Pernah saya hadir di suatu acara di sekolah anak saya. Saat menuju ke ruang pertemuan, saya temukan ruang-ruang kelas dengan AC menyala, disetel di suhu 18 derajat, dengan pintu terbuka. Tidak ada orang di ruang-ruang kelas itu.

Saya temui Kepala Sekolah, saya ajak dia ke kelas. "Maaf, Pak ini tindakan mubazir. Ini sia-sia, dan kami para orangtua murid yang harus membayar semua ini. Ini bukan contoh yang baik untuk anak-anak kami," tegur saya. Kepala Sekolah minta maaf, sambil mengatakan bahwa ia sudah sering menegur guru-guru soal ini. Saya tidak yakin ia mengatakan yang sebenarnya.

Secara umum memang pendidikan kita tidak bisa diandalkan untuk membentuk perilaku. Sistem pendidikan kita hanya cukup untuk membuat pelajar tahu, atau bahkan sekadar hafal saja.

Apa yang bisa saya lakukan? Kita bisa memulainya dari keluarga. Saya berprinsip bahwa komponen utama pendidikan adalah pendidikan di rumah, dalam keluarga. Saya selalu mematikan lampu kamar yang tidak ada orangnya. Anak-anak selalu saya suruh mematikan lampu saat keluar ruangan. Itu saya lakukan terus-menerus, sampai anak-anak punya kebiasaan yang sama dengan saya.

Tempat kerja juga sama. Selain tempat mencari nafkah tempat kerja adalah tempat pendidikan. Untungnya saya bekerja di perusahaan Jepang, yang sudah sangat ketat dalam soal kebiasaan hemat energi. Karyawan selalu diarahkan untuk mematikan lampu ruangan kalau ruangan tidak dipakai. Terlebih di pabrik, hemat energi selalu jadi sasaran utama untuk melakukan kaizen. Maka, berbagai upaya penghematan dilakukan, termasuk dengan memperbaiki perilaku karyawan.

Tapi, lagi-lagi sering pula kita temukan sikap-sikap konyol. Orang memperlakukan sikap di perusahaan sebagai sikap yang dipraktikkan karena ada tekanan. Ketika tekanan itu lepas, ia kembali ke sikap aslinya. Di tempat kerja perilakunya hemat energi, tapi ketika keluar kembali ke perilaku asli yang tak hemat energi.

Kalau menemui hal-hal seperti ini, saya lantas teringat pada frasa "Revolusi Mental" yang muncul bersamaan dengan munculnya Jokowi sebagai calon presiden 4 tahun yang lalu. Kini, entah ke mana perginya frasa itu.

Hasanudin Abdurakhman cendekiawan, penulis dan kini menjadi seorang profesional di perusahaan Jepang di Indonesia

(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed