DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Sabtu 08 September 2018, 11:18 WIB

Media Zaman Milenial

Ishadi SK - detikNews
Media Zaman Milenial Ishadi SK (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Senin lalu saya menghadiri seminar Creativepreneur, program diskusi yang menampilkan inovator dan kreator muda, berbakat serta sukses, untuk berbagi dengan pelajar dan mahasiswa milenial yang ingin mencoba memulai bisnisnya di media sosial.

Creativepreneur didirikan oleh Putri Tanjung (21), yang sejak berusia 15 tahun sudah mulai aktif menjadi event organizer di lingkungan SMA-nya waktu itu. Empat tahun kemudian, Putri mengembangkan program Creativepreneur ini, yang sampai sekarang sudah menggelar 17 seminar-diskusi di berbagai kota, khususnya di Pulau Jawa, umumnya di universitas negeri. Di setiap diskusi dihadiri rata-rata 750 milenial. Terakhir saya ikuti (3 September 2018) di Universitas Prasetiya Mulya, BSD, Jakarta. Ada 3 orang muda sukses di berbagai bidang sosmed, yaitu Gaery Undarsa, Yansen Kamto, dan William Utomo. Tetapi, yang saya merasa paling tertarik adalah saat William Utomo (27) menyampaikan kisah suksesnya mendirikan media untuk kaum milenial, IDN Media.

William, setelah menyelesaikan kuliah Manajemen di Los Angeles, AS diajak kakaknya, Winston Utomo, mendirikan start-up media yang berbasis internet dengan label IDN Media pada Juni 2014. Dalam waktu 4 tahun, mereka sudah menggaet 50 juta orang pengunjung per bulan. Dan, dalam waktu demikian singkat berada di posisi kedelapan (10 besar).

Strategi IDN Media yang khusus menyasar kaum milenial dan Gen Z berjalan baik dengan cara menangguk "berita" dari berbagai sumber yang diunduh di media sosial secara bebas.

Sebagai seseorang yang puluhan tahun berkecimpung di media televisi mainstream, saya menilai gerak bisnis IDN Media sangat signifikan. Sangat cepat gerakannya, sangat banyak visitornya, dan sangat cepat perkembangannya. Hal itu dilakukan oleh 2 orang muda yang tidak mempunyai latar belakang pengalaman di media sebagai jurnalis maupun pendiri media mainstream yang selama ini dikenal. Tidak memiliki latar belakang sekolah jurnalistik, tidak pernah bekerja di media tulis, media cetak, radio maupun televisi, apalagi kantor berita.

William dan Winston Utomo disekolahkan oleh orangtuanya ke Amerika untuk sekolah IT dan Business. Apa konsepnya ketika mendirikan media? Gagasan besarnya adalah "ikut serta melakukan perubahan untuk menjadikan dunia yang lebih baik", dan itu tidak harus dimulai dengan sesuatu yang besar. Perubahan juga bisa terjadi karena hal-hal kecil. Menurut pandangan mereka, media telah bertransformasi menjadi alat gerak. Pola pikir masyarakat bisa diubah dengan mudah hanya dengan media. Mereka membagi "pembacanya" dalam 2 segmen; milenial muda 19-24 tahun dan 24-34 tahun.

Untuk itu IDN Media memiliki beberapa produk yaitu IDN Times yang bergerak di bidang berita, IDN TV lewat televisi streaming, Popbela untuk remaja putri milenial dan Popmama untuk "emak-emak", dan IDN Creative. Bagaikan "molekul" usaha, bisnisnya bisa berkembang dalam sel-sel kecil yang setiap saat dengan mudah dapat dibuat. Visi-misinya adalah membangun sebuah media untuk masa depan yang lebih baik. "We build a media for the future". Membuat produk berita yang dapat memberikan positive impact ke banyak orang terutama anak muda Indonesia.

IDN Media percaya bahwa perbedaan bukan hal yang perlu dihindari, perbedaan harus dirayakan dengan toleransi yang tinggi. Sasarannya orang muda, umur 15-35 tahun, tapi umumnya anak-anak muda di bawah 25 tahun. Anak-anak muda ini mangkal di IDN Media karena mereka merasa nyaman membaca artikel, berita, catatan, laporan, temuan, dan gaya hidup yang disampaikan dengan bahasa sederhana, singkat, dan berwarna. Menurut William, IDN Media menghindari berita-berita konflik, kekerasan, kriminal, meskipun tidak menghindari berita-berita politik khususnya di tahun politik sekarang ini. Di sini menurut saya titik lemahnya, semangat untuk semata-mata menyampaikan berita good news membuat pembaca "steril" dari fakta tentang kejahatan, konflik dan kritik, yang diutamakan adalah berita yang baik-baik saja.

Perihal '2019GantiPresiden', posisi IDN Media tidak berpihak pada aliran politik mana pun, sehingga beritanya tidak pro-kontra '2019GantiPresiden' tetapi lebih membahas mengenai kelahiran hashtag ini, dampaknya terhadap iklim dan cuaca politik yang sedang berkembang, tanpa memihak dan tanpa ikut-ikutan terjerumus pada pilihan pro dan kontra secara sengaja maupun karena terlena.

Pada dasarnya, IDN Media meng-copy atau terinspirasi gagasan BuzzFeed, sebuah situs berita dan hiburan terpopuler di dunia, khususnya di Amerika Serikat. Baik BuzzFeed maupun IDN Media bergerak di Facebook dan Twitter. BuzzFeed menjangkau pengunjung yang beragam, artikelnya mudah dibaca dan diakses semua orang. Panjang judul rata-rata artikel BuzzFeed adalah 10,47 kata dan 59,28 karakter. Di awal usahanya mereka menemukan tulisan paling viral adalah sekitar 10 kata dan di bawah 60 karakter. Jumlah karakter adalah kuncinya. Pada 59 karakter berita utama tidak terpotong dalam mesin pencari, sehingga siapapun yang membaca bisa melihat seluruh judul pada halaman mereka dan tidak akan melebihi batas karakter Twitter yang pembaca gunakan.

Ada model-model berita yang karena bermain di online, amat sangat berbeda pendekatannya dengan media mainstream yang sekarang ini mulai berkurang "kekuatannya" karena "dikalahkan" oleh model-model media BuzzFeed ini. BuzzFeed selain berprinsip untuk menyampaikan berita yang mutakhir dan ringan, selalu dirancang dalam bentuk pendek agar memungkinkan pembaca dengan cepat dan mudah mengikuti dan terus melanjutkan. Meski demikian BuzzFeed tidak mengabaikan konten berdurasi panjang sebagai cara terbaik untuk melibatkan target pembaca Anda dengan menawarkan wawasan baru. Juga bisa menginformasikan "pembaca" mengenai suatu topik tertentu, sehingga mereka bisa mendapatkan value dari artikel berdurasi panjang tersebut.

Inilah yang ditiru oleh IDN Media. Kelebihan lain dari konsep media baru ini adalah mereka bergerak di dunia maya. Di lautan yang tak berujung, di kawasan yang tak terbatas, dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya, selama 24 jam. Kata kuncinya adalah harus mampu setiap jam, menit, detik menyampaikan berita baru, pemikiran baru, temuan baru yang segar dan singkat. Karena umumnya para milenial mengikuti berita secara online di handphone (umumnya) dan laptop dan tablet. Mereka membaca di tempat kerja, di ruang tamu sambil menunggu rapat mulai, di mobil, di lift, di jalan sambil menunggu busway dan sambil dibonceng di ojek. Pokoknya tidak ada satu menit pun yang terlewat dan tidak ada informasi yang terlewat, khususnya yang viral, asalkan bukan berita yang antagonis, kritis, konflik dan kontroversial.

Para milenial menikmati dunianya sendiri. Setiap tahun produsen handphone mengeluarkan versi terbaru yang lebih lengkap fiturnya, lebih besar kapasitasnya, lebih tinggi kemampuan serapnya, lebih jelas gambar dan tulisan serta suara yang dihasilkan dan terkoneksi dengan berbagai perangkat finansial, kesehatan, olahraga, leisure lewat Twitter, Instagram, dan Facebook. Apapun yang terjadi di bagian mana pun di dunia, mereka bisa akses 24 jam. William, sebagaimana para milenial, setiap hari melakukan rutinitas seperti ini; ketika berjalan ke kantor melihat Quora, sambil menunggu melihat Medium, Youtube, mengontrol pekerjaan lewat website, dan kalau ada waktu Instagram, sebelum tidur menikmati Netflix.

Apa yang saya bahas sekarang ini adalah perubahan budaya, pola pikir, gaya hidup dan mata pencaharian generasi baru, generasi milenial. Semakin jauh jarak usia, semakin besar pemahaman dan perbedaan pola pikir. Tapi, bersyukur siapapun dalam usia berapa pun, meski dengan terpaksa masih bisa mengikuti media baru ini. Paling tidak memahami. Sehingga sungguh tepat apa yang dikatakan oleh Kitab Perubahan I Ching 5.000 tahun lalu:

"Setelah masa pelapukan, datanglah Titik Balik; Cahaya penuh kuasa yang selama ini ditekan telah kembali. Ada gerakan namun tidak berdasarkan kekuatan; gerakannya alamiah dan muncul secara spontan. Karena itulah peralihan dari yang tua menjadi gampang. Yang lama ditinggalkan seraya yang baru dikenalkan. Karena keduanya sesuai dengan masanya, maka hasilnya tidak membuat cedera."

Ishadi SK Komisaris Transmedia


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed