DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 07 September 2018, 15:04 WIB

Kolom

Menjaga Rupiah

Edy Sutriono - detikNews
Menjaga Rupiah Ilustrasi: Mindra Purnomo/Tim Infografis
Jakarta -
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika sempat menyentuh level Rp 15.000. Pelemahan rupiah ini telah terjadi selang beberapa waktu yang lalu dan masih terasa sampai saat ini. Fakta tak terbantahkan dari sisi ekonomi sebagai penyebab gejolak fluktuasi rupiah tersebut adalah daya tarik dolar AS yang memberikan insentif lebih tinggi berupa kenaikan suku bunga melalui kebijakan normalisasi moneter oleh Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed).

Pelemahan nilai tukar rupiah lebih sebagai imbas kebijakan AS tersebut, dan bukan berasal dari guncangan pada fundamental ekonomi. Hal tersebut ditandai bahwa pengaruh kenaikan suku bunga AS tidak hanya berdampak terhadap rupiah, namun berdampak pula pada mata uang global. Di sisi fundamental ekonomi domestik masih cukup tangguh dan stabil. Tercatat angka pertumbuhan ekonomi Triwulan I-2018 mampu berada di level 5,06%, sementara neraca perdagangan sempat mengalami surplus senilai 1,1 miliar dolar AS pada Maret 2018 sampai dengan Juni 2018.

Fondasi ekonomi yang baik ini mampu menahan pelemahan nilai tukar rupiah tidak pada tingkat yang dalam. Menghadapi gejolak nilai tukar tersebut, lantas apa yang dapat kita lakukan sebagai masyarakat, rakyat, dan bangsa Indonesia? Langkah bijaksana yang dilakukan untuk menjaga rupiah yang kita yakini sebagai salah satu alat pemersatu bangsa Indonesia ini adalah mengidentifikasi simpul-simpul ekonomi yang terdampak, dan menetapkan kebijakan yang tepat untuk meredamnya.

Rupiah dan dolar AS ibarat komoditas yang sangat dipengaruhi permintaan dan penawaran mata uang tersebut. Pertama, dari sisi investasi, kenaikan suku bunga AS mengakibatkan penurunan penawaran dolar AS disebabkan arus modal keluar dari pasar modal dan pasar uang dalam negeri sebagai motif logis spekulasi. Alternatif langkah yang ditempuh meng-counter dengan memberikan insentif lebih tinggi sebagai opportunity, yakni menaikkan suku bunga secara prudent.

Bank Indonesia (BI) telah menempuh langkah tersebut dengan menyesuaikan tingkat suku bunga acuan menjadi 4,5 persen. Hal ini menurut hemat saya merupakan langkah yang dapat diterima. Kebijakan ini dapat membantu menjaga iklim investasi agar modal asing bisa kembali masuk ke pasar keuangan domestik dan dapat membendung aksi jual investor. Modal asing yang masuk berbentuk valuta asing akan membantu memenuhi supply dolar AS.

BI bersama pemerintah perlu melakukan monitoring dan evaluasi terhadap fluktuatif nilai tukar rupiah dan kebijakan The Fed. Kenaikan suku bunga acuan BI ini lebih bersifat jangka pendek, meskipun demikian tentu dapat berpengaruh kepada kenaikan suku bunga kredit perbankan. Perbankan diharapkan secara prudent dan selektif dalam meningkatkan suku bunga kredit. Kenaikan suku bunga kredit dapat berimbas menurunnya tingkat konsumsi masyarakat. Peran BI dan pemerintah harus didukung oleh seluruh masyarakat dalam berinvestasi, menabung, dan bertransaksi ekonomi dengan menggunakan rupiah.

Kedua, pengeluaran pemerintah dalam APBN tidak terlalu berpengaruh karena baik penerimaan dan belanja lebih banyak berbasis rupiah. Namun, perlu dicermati belanja dalam mata uang asing, seperti perwakilan RI di luar negeri dan proyek yang menggunakan bahan baku atau material dari luar negeri. Pengendalian belanja pemerintah dengan prinsip skala prioritas dan disiplin pelaksanaan anggaran perlu dilakukan. Adanya selisih kurs yang terjadi akan membuat pemerintah harus mengeluarkan dana sedikit lebih besar untuk melunasi pokok dan bunga utang.

Sementara itu program jejaring sosial untuk kesejahteraan rakyat masih dapat dijalankan dalam kondisi aman. Bidang pendidikan, kesehatan, ketahanan pangan, dan Dana Desa untuk Cash For Work dapat direalisasikan sampai dengan Mei 2018 ini. Terkait subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan listrik, tetap mengedepankan penyediaan BBM dan listrik di seluruh Indonesia dengan harga terjangkau. APBN tetap sehat dan shock yang berasal dari luar itu kemudian bisa diminimalkan pengaruhnya kepada masyarakat.

Dari sisi swasta walau masih dalam angka yang aman menurut BI, namun dengan adanya pelemahan rupiah ini dapat membebani kondisi finansial mereka sehingga dapat menghambat proses produksi. Oleh karena itu, apabila diperlukan pihak dunia usaha dapat melakukan rescheduling utang atau melakukan buyback loan.

Ketiga, ekspor-impor. Ketersediaan dolar meningkat ditopang dari ekspor namun belum signifikan, sementara permintaan dolar untuk impor menunjukkan peningkatan. Data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2018 memperlihatkan bahwa neraca perdagangan sempat mencatatkan surplus mencapai 1 miliar dolar AS. Surplus yang diterima dapat lebih besar apabila ekspor dapat dinaikkan lebih tinggi lagi terutama ke negara-negara mitra dagang utama seperti China, Australia, Malaysia, Singapura, dan AS.

Di antara komoditas ekspor yang dapat dimaksimalkan selain minyak dan gas yakni kelapa sawit/CPO. Indonesia salah satu eksportir utama CPO di dunia dengan pangsa pasar hampir 50%. Ini harus dimanfaatkan untuk meningkatkan nilai tambah dari produk CPO sehingga mampu meningkatkan surplus perdagangan. Sementara itu, penurunan ekspor terbesar yaitu ke Tiongkok dipengaruhi perang dagang antara AS dan Tiongkok yang menyebabkan ketidakpastian dalam melakukan impor dari negara lain. Penurunan terjadi pada ekspor minyak mentah dan hasil minyak, namun ekspor gas tetap mengalami kenaikan pada posisi April 2018.

Sedangkan impor menurut penggunaan barang didominasi golongan bahan baku sebesar 74,32 persen pada April 2018. Impor bahan baku tersebut dinilai positif karena menandakan pelaku industri mulai percaya diri untuk menambah produksi. Hal ini diharapkan agar peningkatan produksi ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi,

Sektor pariwisata diupayakan lebih mendorong banyak turis datang ke Indonesia dan mendatangkan devisa. Menciptakan stabilitas politik dan keamanan dan bidang lain untuk memberi kepercayaan investor, wisatawan asing, dan masyarakat harus digaungkan secara masif oleh BI, pemerintah, dan segenap komponen bangsa, dan tidak sebaliknya.

Keempat, konsumsi masyarakat diupayakan tidak banyak mengkonsumsi impor atau banyak melakukan permintaan dan menggunakan dolar. Semakin mahalnya dolar membuat barang produksi dalam negeri akan semakin banyak diminati dan menjadi pilihan masyarakat. Pilihan yang terbaik saat ini, kalau membeli barang impor yang memberatkan dan mahal, mengapa tidak menggunakan atau membeli barang atau konsumsi dalam negeri? Tambah lagi, kita sebagai bangsa Indonesia diharapkan mencintai produk sendiri.

Hal lain yang perlu dijaga adalah bahwa konsumsi rumah tangga sangat sensitif terhadap kenaikan harga-harga seperti pangan. Pemerintah terus berupaya menjaga stabilitas harga dan tingkat inflasi masih cukup rendah dan optimistis dalam kondisi cukup terjaga.

Pada akhirnya, upaya dan kebijakan pemerintah untuk menjaga rupiah merupakan kebijakan publik yang perlu ditopang oleh sikap bijaksana dari seluruh masyarakat sebagai bangsa Indonesia. Perlu disadari bahwa kebijakan ekonomi publik berangkat dari teori ekonomi yang selalu mengandung trade off dan tantangan. Semoga langkah dan upaya kita bersama dalam menjaga dan mencintai rupiah dapat meredam dan menenangkan gejolak.

Edy Sutriono Kepala Bidang Pembinaan Pelaksanaan Anggaran II Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Kepulauan Riau; tulisan ini pendapat pribadi, tidak mencerminkan kebijakan institusi tempat penulis bekerja


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed