Analisis Zuhairi Misrawi

Manuver Turki Keluar dari Krisis Lira

Zuhairi Misrawi - detikNews
Kamis, 06 Sep 2018 11:14 WIB
Zuhairi Misrawi (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Turki merupakan salah satu negara di kawasan Timur-Tengah yang selama ini menjadi contoh antara tumbuhnya demokrasi dan pertumbuhan ekonomi yang sangat menakjubkan. Erdogan dipuji sebagai sosok yang mampu menjadikan demokrasi sebagai instrumen penting dalam meningkatkan ekonomi, dan sebaliknya.

Hal tersebut terbukti dengan kepercayaan warga Turki terhadap AKP, partai Erdogan. Warga Turki mengganjar Erdogan dengan dukungan penuh sebagai Perdana Menteri selama 2 periode, dan berhasil mengubah konstitusi Turki melalui referendum dari sistem parlementer ke sistem presidensial. Erdogan pun terpilih sebagai Presiden Turki. Kisah keberhasilan Erdogan dalam sektor ekonomi telah mengangkatnya sebagai "Bapak Turki Modern", yang sejajar bahkan melebihi Mustafa Kamal Attaturk.

Namun, apa yang terjadi dalam sebulan terakhir seolah-seolah memupus itu semua. Lira, mata uang Turki, terperosok tajam terhadap dolar Amerika Serikat. Satu dolar AS setara dengan 7.24, atau terperosok sekitar 35-43 persen. Akibatnya, inflasi mencapai 15.6 persen, yang disertai dengan naiknya harga bahan-bahan pokok dan bahan-bahan lainnya.

Sejauh ini, Turki diselamatkan oleh sikap Qatar yang menggelontorkan 15 M dolar AS untuk investasi di pasar keuangan dan perbankan, sehingga lira dapat terkoreksi dari 7.24 menjadi 5.84 per 1 dolar AS. Qatar menganggap Turki sebagai mitra strategis yang telah setia membantu di saat-saat genting akibat blokade Arab Saudi, baik bantuan militer maupun suplai bahan-bahan pokok. Karenanya, Qatar hadir dengan mengulurkan tangan di saat-saat Turki sedang membutuhkan bantuan.

Ada dua faktor utama yang menyebabkan krisis mata uang lira terjadi di Turki. Pertama, kebijakan AS yang secara tiba-tiba menaikkan tarif baja dan alumunium bagi Turki. Kedua, AS melakukan itu sebagai tekanan bagi Turki agar membebaskan Pendeta Andrew Brunson yang ditahan oleh aparat keamanan Turki karena dianggap terlibat dalam kudeta yang dianggap sebagai bagian dari aksi terorisme.

Maka dari itu, krisis mata uang lira Turki lebih bernuansa politis. Amerika Serikat menggunakan dolar sebagai senjata untuk menjatuhkan legitimasi politik Erdogan yang selama ini keras terhadap AS dan sekutunya di Timur-Tengah, khususnya Arab Saudi dan Israel. Tidak hanya itu saja, AS berjanji akan memberikan sanksi ekonomi yang lebih mematikan lagi bagi Turki.

Jelas, apa yang terjadi di Turki bukan sesuatu yang alami terjadi karena fundamental ekonomi dalam negeri Turki, melainkan karena faktor eksternal. Kondisi objektif internal juga menyulut krisis yang semakin dalam karena jumlah utang dan inflasi yang relatif besar dalam beberapa tahun terakhir.

Pukulan telak AS terhadap lira telah menjadi ujian serius bagi Turki, khususnya AKP yang selama ini menjadikan ekonomi sebagai basis keberhasilan mereka dalam memenangkan pemilu sejak 2003. Tidak ada pilihan lain yang harus dilakukan Turki selain menaikkan harga roti dan iPhone. Begitu pula, barang-barang impor lainnya secara otomatis meroket harganya.

Di samping itu, Erdogan meminta kepada warga Turki untuk berbondong-bondong menjual dolar dan euro untuk membantu pemulihan mata uang lira. Karena itu, kita melihat para loyalis Erdogan turun ke jalan menukarkan dolar mereka ke tempat penukaran mata uang asing. Erdogan meminta agar krisis mata uang lira disertai dengan kesadaran penuh bagi setiap warganya untuk melepas dolar dan euro.

Lebih ekstrem lagi, sebagian warga Turki meluapkan kekesalannya dengan membanting dan merusak iPhone yang selama ini identik dengan produk AS. Mereka menuduh AS serius melancarkan "perang dagang" terhadap Turki. Sebagai balasan, Turki juga menaikkan tarif bahan-bahan impor dari AS, seperti mobil, alkohol, dan tembakau.

Turki sedang bekerja keras untuk menjadikan momentum krisis mata uang lira sebagai instrumen memupuk solidaritas untuk melawan perang ekonomi AS. Warga Turki bersatu untuk melawan tindakan AS yang tidak masuk akal dan tidak manusiawi itu.

Selain itu, Turki berusaha untuk menggenjot kembali sektor pariwisata yang sempat lumpuh akibat sejumlah aksi kudeta dan terorisme. Begitu halnya dengan sektor ekspor akan terus dinaikkan untuk membantu pemulihan mata uang lira terhadap dolar AS.

Meskipun semua itu tidak mudah akan membalikkan keadaan seperti membalikkan kedua telapak tangan, tetapi kesadaran untuk menghadapi "perang dagang" dengan AS harus dimulai dari sekarang. Turki mulai mengurangi belanja APBN, menekan inflasi tidak terus meroket, dan tentunya pertumbuhan ekonomi pada tahun-tahun mendatang akan terus melamban.

Tidak hanya itu, krisis mata uang lira terhadap dolar telah menyebabkan krisis mata uang terhadap dolar di beberapa negara lainnya, seperti Argentina, India, Afrika Selatan, Brazil, Rusia, China, dan termasuk negeri kita yang dalam beberapa hari belakang mata uang rupiah terus merosot di hadapan dolar AS.

Memang fundamental dan kondisi objektif ekonomi dalam negeri kita relatif lebih baik daripada Turki, karena inflasi kita hanya 3%, utang kita terhadap PDB juga 30%, dan pertumbuhan ekonomi yang juga lebih baik. Tetapi, semua itu tidak boleh membuat kita terlena dengan apa yang terjadi sekarang.

Sikap darurat sebagaimana ditunjukkan Turki dengan meminta warganya agar mempunyai kesadaran kolektif perihal krisis yang dihadapi saat ini patut dicontoh. Langkah pemerintah RI dengan mengimbau warga agar membeli produk lokal buatan dalam negeri, menunda beli handphone dan barang elektronik, menukar dolar ke rupiah, menunda jalan-jalan ke luar negeri dan mendorong wisata dalam negeri, memakai transportasi publik, menaikkan ekspor dan menurunkan impor, semua itu merupakan langkah yang harus didukung bersama, sehingga kita bisa selamat dari lubang jarum krisis ini.

Zuhairi Misrawi intelektual muda Nahdlatul Ulama, analis pemikiran dan politik Timur-Tengah di The Middle East Institute, Jakarta
(mmu/mmu)