Masa Depan, Mesin-Mesin, dan Ketidaktahuan Kita
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Sentilan Iqbal Aji Daryono

Masa Depan, Mesin-Mesin, dan Ketidaktahuan Kita

Selasa, 04 Sep 2018 13:40 WIB
Iqbal Aji Daryono
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Saya mengetikkan huruf-huruf ini di atas kereta api Malioboro Ekspres, dalam perjalanan dari Jogja menuju Malang. Esok pagi, kawan-kawan di Universitas Negeri Malang menghelat diskusi kepenulisan, dan saya diajak untuk turut berbagi.

Tentu saya senang berbagi apa pun soal ini. Namun, kadangkala saya tersenyum sendiri, sambil bertanya-tanya: betulkah mereka akan mendapatkan manfaat dari ocehan saya?

Bukan berarti saya membagi omong kosong tak berguna. Bukan begitu. Saya cuma membayang-bayangkan, mereka saat ini mahasiswa tingkat awal. Akan bagus jika mereka segera mempraktikkan keterampilan menulis untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah, misalnya. Atau, untuk sekali dua kali berkirim artikel ke media.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, apa yang akan terjadi pada mereka lima hingga sepuluh tahun lagi? Apakah kemampuan menulis masih ada gunanya?

Dunia terus berubah. Dulu orang menulis di lempeng batu dan tanah liat, lalu di lembaran lontar atau kulit domba, kemudian di kertas-kertas. Sekarang, kertas-kertas mulai ditinggalkan. Medianya selalu berubah, tapi aktivitas menulis akan terus berjalan hingga kiamat. Penulis tak pernah mati!

Hei, hei, tunggu dulu, Bung! Meracau apa kau ini?

Baru sebulan lalu saya mendengar cerita, sebuah media online besar di Jakarta sudah memiliki satu program komputer canggih untuk menulis berita. Dengan algoritma tertentu, alat itu bisa memindai berbagai informasi, lalu mengolahnya ulang secara otomatis untuk dibikin menjadi tulisan baru!

"Wah, jadi wartawan nggak akan dibutuhkan lagi?" tanya saya sambil ternganga.

Kawan saya, seorang penulis untuk tema gaya hidup perempuan, menggeleng lemah.

"Penulis, seperti kita, juga akan segera tewas?" masih sambil melongo, saya mendesaknya.

"Nggg... kalau untuk menulis berbasis gagasan, bukan dari berita-berita yang berseliweran, alat itu belum bisa sih, Mas," jawabnya. Nada suaranya semakin ragu.

"Iya hari ini memang belum bisa. Tapi, tahun depan? Tiga tahun lagi? Bisa jadi segera ketemu rumus barunya kan?"

Dia mengangguk kecil. Lalu, ia seruput frappuccino dingin di hadapannya. Begitu khidmatnya, seolah esok pagi hingga seterusnya ia cuma akan mampu membeli es jeruk tanpa gula.

***

Ini kali pertama saya naik kereta lagi setelah delapan tahun. Sebelum masuk peron Stasiun Tugu tadi, saya terpukau karena ternyata sekarang tiket sudah dicetak dengan mesin-mesin. Lalu, ke mana para petugas loket yang dulu berjejer-jejer?

Kemajuan memang membawa kemudahan demi kemudahan. Tapi, bukankah itu berarti ada PHK, dan ada tungku-tungku dapur yang berhenti menyala?

Sekarang petugas loket yang hilang. Sebentar lagi para kasir toko swalayan, juga teller bank. Lalu, tukang parkir. Lalu, buruh-buruh percetakan. Lalu, wartawan. Lalu, masinis kereta. Lalu, pilot. Lalu, guru-guru dan dosen. Lalu, wasit olahraga. Lalu, penulis. Lalu, segala jenis seniman.

"Hei, feel-nya beda! Baca buku pakai tablet beda rasanya dengan pakai buku kertas! Di tablet nggak ada feel-nya!"

"Duuuh, feel-nya beda! Baca buku tulisan para penulis beneran beda rasanya dengan tulisan mesin! Karya mesin-penulis nggak ada feel-nya!"

Haha. Feel. Seperti itu jugalah barangkali yang dulu diucapkan para penunggang kuda ketika mobil-mobil bermunculan. Pada satu fase akhirnya mereka menyerah, tidak lagi mati-matian memperjuangkan feel dari lenggokan punggung kuda berikut pelananya, atau feel spesial dari air kencing tunggangannya yang pesing luar biasa.

Dan, semua terus berubah. Cara manusia dalam melihat masalah pun berubah. Dulu orang khawatir dengan ini semua, sembari yang marxis-marxis berteriak dengan lantang, "Mesin-mesin adalah monster yang merampasi roti kaum pekerja!"

Nyatanya, sebagaimana lempeng tektonik bumi yang rekah lalu mencari posisi kemapanannya yang baru, demikian pula kehidupan. Hidup akan tergoncang, sedetik dua detik, setahun dua tahun. Tapi, kesetimbangan baru akan lekas ditemukan. Penjaga loket stasiun kereta mulai dirumahkan, tapi pagi berikutnya dengan gesit dia memakai jaket hijau dan memacu sepeda motornya, sambil mencari posisi penumpang yang terpampang di aplikasi ponselnya.

Lima tahun ke depan, bisa jadi pengemudi-pengemudi motor itu pun tak lagi dibutuhkan. Mesin-mesin. Robot-robot. Algoritma-algoritma. Lalu, ke mana kita? Apa pula pekerjaan anak-anak kita nantinya?

Mana kita tahu? Apa yang kita jalani hari ini pun mungkin berbeda dengan apa yang dibayangkan orangtua kita dua puluh tahun silam. Maka, apa yang akan dijalani anak-anak kita akan sangat-sangat berbeda dengan apa yang kita bayangkan pada hari ini.

Itu pun kalau kita bisa membayangkan. Kebanyakan dari kita bahkan tidak mampu membayangkan.

"Karena kita tidak tahu bakal seperti apa pasar kerja pada tahun 2030 atau 2040, kita pun hari ini tidak tahu apa yang harus diajarkan kepada anak-anak kita. Sebagian besar dari apa yang saat ini dipelajari di sekolah mungkin tidak akan relevan pada saat mereka berusia 40 tahun." Pada buku Homo Deus, sejarawan Yuval Noah Harari pun menuangkan kebingungan yang sama.

Ya, bukan hanya tentang apa yang akan anak-anak kita jalani kelak, kita bahkan tidak punya ide tentang apa yang harus diajarkan kepada mereka pada hari ini. Ini bukan cuma sebatas persoalan materi pelajaran. Sebab, bisa jadi segalanya meluas ke nilai-nilai secara umum. Apa yang boleh, apa yang tak boleh, apa yang disebut nakal, apa yang tidak.

Dulu, anak-anak sekolah dilarang membaca komik. Komik yang dibawa ke sekolah akan disita. Dulu, anak-anak dilarang terlalu lama bermain game di komputer. Segala jenis kaset Nintendo yang kepergok dibawa ke sekolah akan disita Bu Guru dan harus diambil oleh orangtua siswa.

Sekarang, para komikus Indonesia semakin berkibar-kibar namanya. Beberapa hari yang lalu Jokowi terpana di hadapan seorang gamer profesional, yang dengan "kenakalan"-nya itu setiap bulan ia bisa meraup ratusan juta.

Lantas, apa yang harus kita ajarkan kepada anak-anak kita?

***

Tiga jam lagi kereta saya akan tiba di Stasiun Malang. Pagi tadi saya mendengar kabar, 41 dari 45 orang anggota DPRD kota ini ditangkap KPK. Tinggal tersisa 4 orang saja, dan DPRD Malang terancam lumpuh.

Saya bertanya-tanya, beberapa belas tahun lagi, masihkah perlu manusia-manusia yang rentan korup untuk menjalankan pekerjaan sebagai anggota legislatif? Mungkinkah semua anggota dewan diganti saja dengan mesin-mesin, sebagaimana petugas loket kereta, tukang parkir, dan wasit pertandingan olahraga?

Iqbal Aji Daryono esais, tinggal di Bantul

(mmu/mmu)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ajang penghargaan persembahan detikcom dengan Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Kejagung RI) untuk menjaring jaksa-jaksa tangguh dan berprestasi di seluruh Indonesia.
Hide Ads