Kolom

Dari Asian Games 2018 ke Olimpiade 2032

Eva Sundari - detikNews
Senin, 03 Sep 2018 16:40 WIB
Penutupan Asian Games 2018 di GBK (Foto: Grandyos Zafna)
Jakarta - Sejak dimulainya Asian Games dua minggu lalu, kita sudah mendapatkan rasa bangga karena kemegahan upacara pembukaan yang menyajikan Indonesia berupa keberagaman manusia dan alamnya. Penyajian tari yang bermacam-macam diperkuat dengan penataan panggung berupa hutan, air terjun, dan gunung berapi khas wilayah Rings of Fire.

Dada kita makin mekar bahagia ketika dunia memberikan apresiasi untuk sebuah upacara pembukaan yang spektakuler. Pujian "world class" diberikan, artinya persembahan dan kelas Indonesia bukan hanya tingkat Asia karena Jepang yang calon tuan rumah Olimpiade 2020 menyatakan ingin belajar dari pagelaran pembukaan Asian Games 2018 di Jakarta tersebut.

Ikatan rasa keindonesiaan itu makin memuncak ketika akhirnya para pahlawan olahraga mempersembahkan 31 medali emas, jauh melampaui target 16 medali. Dengan perolehan ini, Indonesia menduduki peringkat 4 setelah China, Jepang, dan Korea Selatan, sekaligus satu-satunya negara ASEAN yang masuk 10 besar dalam perolehan medali.

Kita memang bangsa pemenang. Di masa lampau kita pernah punya imperium Nuswantara oleh Majapahit abad 14-16 yang kekuasaan politiknya meliputi hampir seluruh ASEAN saat ini hingga Madagaskar di Afrika Timur. Lebih dari itu, relief Candi Penataran di Blitar menunjukkan hubungan diplomasi Majapahit sudah menjangkau hingga berhubungan dengan bangsa Yahudi, China, Arab, Turki, dan Indian Maya.

Jejak itu masih hidup. Festival Tari Panji misalnya, diikuti oleh 8 negara ASEAN yang berbagi budaya warisan Majapahit. Kejayaan Indonesia yang lain terkait pengetahuan dan agama. Sriwijaya pernah menjadi Pusat Budhisme, dan Kediri sebagai pusat budaya Hinduisme dunia. Tampaknya hal tersebut berlanjut saat ini, misalnya dunia tertarik belajar tentang Pancasila dan Islam Nusantara yang moderat ke kita.

Eva Sundari.Eva Sundari. Foto: dok. Pribadi

Asian Games 2018 berperan pula sebagai media menyebarkan pengaruh Indonesia. Kita misalnya, mendapat kejutan saat grup Super Junior dari Korea Selatan bernyanyi di Upacara Penutupan (2/8) sambil berjoget dayung ala Jokowi. Bukan itu saja, video lagu resmi Meraih Bintang ditonton hingga 51,460 juta penonton (3/9/18 jam 10 pagi) dan disuka 546 ribu orang. Ini jauh dari lagu resmi Asian Games XVII di Incheon yang hanya ditonton 229,786 orang

Setelah Via Vallen tampil di Upacara Pembukaan, maka Siti Badriyah meledakkan stadion di upacara penutupan dengan lagu Jaran Goyang dan Syantiik. Menarik, Badriyah mendapat respons penonton lebih heboh dibanding saat boyband IKON tampil.

Mau ke mana setelah Asian Games 2018? Presiden Jokowi memberi arah, yaitu pengajuan Indonesia untuk menjadi tuan rumah Olimpiade 2032. Presiden paham dan ingin mengulang kesuksesan Asian Games 2018 sekaligus mendulang potensial dampak positif yang lebih besar bagi Indonesia.

Kalkulasi Jokowi sederhana, yaitu adanya harapan keuntungan ekonomi, kutural, dan politik bagi Indonesia. Dari analisis dampak ekonomi Asian Games 2018 misalnya, diperkirakan ada keuntungan ekonomi senilai Rp 15 triliun plus infrastruktur yang bisa dipakai 100 tahun mendatang, termasuk bergeraknya perekonomian lokal selama acara berlangsung.

Secara politik, nasionalisme kita terkerek sehingga ada keberanian untuk mengajukan diri menjadi tuan rumah Olimpiade 2032. Keberanian khas Sukarno ini sudah ditunjukkan pada 1962, dan oleh Jokowi di 2018 sehingga saatnya melompat ke tantangan yang lebih besar yaitu perhelatan antarbenua di Olimpiade 2032.

Sama seperti Sukarno, Jokowi dalam kesederhanaannya justru sangat percaya diri. Keduanya merupakan sosok perkecualian dari kebanyakan pemimpin. Keduanya pemimpin yang tidak mempunyai problem psikologis inferiority complex. Bahkan konsep diri dua presiden ini jelas, Indonesia harus jadi bangsa pemenang.

Keyakinan demikian menjadi energi positif yang menggerakkan kabinet, relawan, tim kreatif, dan tentu saja para atlet dan masyarakat. Asian Games 2018 yang dipersiapkan kurang dari 3 tahun berjalan sukses, dan mendapat apresiasi dari Thomas Bach, Ketua Komite Internasional Olimpiade (IOC) sebagai hasil gemilang dari kombinasi keramahan dan efisiensi. Faktor ini akan menjadi dasar pertimbangan IOC untuk mengkaji usulan Indonesia tersebut.

Usulan Indonesia tersebut mendapat dukungan pula dari Sheikh Ahmad al-Fahad al-Sabah, Ketua Badan Olimpiade Asia. Dalam pidatonya di Upacara Penutupan Asian Games 2018 kemarin, ia layaknya merayu Presiden IOC Thomas Bach untuk meloloskan usulan Indonesia.

Empat belas tahun adalah waktu yang akan cukup bagi Indonesia untuk melakukan persiapan yang memadai. Meski demikian, sebagaimana dalam logika strategi Trisakti, hanya apabila kita sukses membangun perekonomian maka kita bisa mempromosikan budaya kita. Sementara, untuk mewujudkan perekonomian yang berdikari syaratnya adalah kedaulatan di bidang politik.

Selama ini Presiden Jokowi sudah menunjukkan keteguhan dalam mengambil keputusan untuk memenangkan kepentingan nasional. Di sektor energi misalnya, mulai dengan mereformasi kebijakan subsidi BBM hingga penguatan Pertamina untuk mengelola tambang-tambang minyak yang sebelumnya dikelola asing.

Hal yang sama harus juga dilakukan oleh presiden untuk bidang pangan. Ini merujuk pada pesan Sukarno bahwa mewujudkan prinsip berdikari di bidang ekonomi paling tidak membutuhkan adanya kedaulatan di bidang energi dan pangan. Ketergantungan di dua sektor itu akan membuat negara menjadi lemah, termasuk untuk mewujudkan agenda-agenda strategis sesuai cita-cita proklamasi.

Singkatnya, Presiden Jokowi harus segera membereskan tata kelola sektor pangan untuk membantu presiden 2-3 periode mendatang sukses menjadi tuan rumah Olimpiade 2032.

Eva Sundari Anggota Komisi XI DPR, politisi PDIP

(mmu/mmu)