detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 31 Agustus 2018, 13:30 WIB

Kolom

Kelapa Ajaib dan Kekuasaan

Y. D. Anugrahbayu - detikNews
Kelapa Ajaib dan Kekuasaan Y. D. Anugrahbayu (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Mengapa kalangan tertentu bisa lebih berkuasa daripada yang lain? Babad Tanah Jawi menjawabnya dengan sebuah kisah.

Dalam kitab itu tersebutlah dua orang sahabat: Ki Pamanahan dan Ki Ageng Giring. Ki Pamanahan dikisahkan tinggal di Mataram --kala itu masih sebuah desa. Ki Ageng Giring tinggal di wilayah Gunung Kidul --hingga kini masih desa, tetapi di masa lalu tentu masih lebih desa, bahkan hutan belantara.

Suatu pagi, Ki Ageng Giring dibuat heran oleh sebuah pohon kelapa di ladangnya. Pohon itu biasanya tak berbuah, namun kali ini berhasil menelorkan sebuah kelapa muda. Masih heran dengan pemandangan ganjil itu, terdengarlah olehnya sebuah suara gaib: "Ketahuilah, Ki Ageng Giring. Barangsiapa minum air kelapa muda ini sampai habis, ia akan menurunkan raja agung yang memerintah seluruh tanah Jawa."

Ki Ageng Giring pun memanjat, memetik kelapa ajaib itu, lantas membawanya pulang. Sesampainya di rumah, dipangkasnya sabutnya sampai bersih, supaya mudah meminum airnya. Tapi, hari masih pagi. Ki Ageng Giring belum haus. Maka disimpannya kelapa itu di dapur. Katanya dalam hati, "Nanti sepulang dari hutan, betapa segarnya minum air kelapa ini." Maka pergilah Ki Ageng Giring ke hutan, membuka lahan.

Tak lama kemudian datanglah Ki Pamanahan ke rumah Ki Ageng Giring. Kerongkongannya haus setelah menempuh perjalanan jauh dari Mataram. Ia pun mencari sesuatu untuk diminum. Ketika dilihatnya sebuah kelapa muda di dapur, lekas-lekas ia melubanginya, lantas menenggak airnya hingga tuntas.

Dan, benarlah, Ki Pamanahan kemudian memperanakkan Panembahan Senopati, raja pertama Mataram. Dari Panembahan Senopati beranak-pinaklah orang-orang di sekitarnya: Sultan Agung dan seterusnya, mereka yang merasa berhak punya kuasa, sebab dengan satu dan lain cara, masih berkaitan dengan seorang yang mujur karena minum air kelapa ajaib di masa lalu. Siapa sangka, hanya dari sebutir kelapa, dapat tercipta suatu golongan priyayi?

Adakah kisah kelapa ajaib dalam Babad Tanah Jawi itu telah jadi usang? Agaknya belum. Sebab menginjak usia kemerdekaan ke-73 negeri ini, struktur priyayi tak pernah sungguh-sungguh terhapus dari bumi Indonesia --dan hingga kini tak ada tanda-tanda akan terhapus. Malah sebaliknya: ia lestari. Dan, justru kian subur.

Kenyataan itu punya akar jauh sejak sebelum kemerdekaan. Periksalah latar belakang tokoh-tokoh nasionalis pertama: sebagian besar berasal dari kalangan bangsawan. Denys Lombard, seorang ahli sejarah terkemuka, mencatat bagaimana struktur priyayi tetap bertahan, bahkan ketika Indonesia mengalami modernisasi begitu pesat. Sementara kaum darah biru mundur ke latar belakang, kebangsawanan baru segera tumbuh lewat golongan pegawai negeri, tentara, dan akademisi.

Kata Lombard dalam Nusa Jawa jilid I: "Jangan sekali-kali disimpulkan bahwa negara Indonesia adalah 'jiplakan' model Barat [...]. Sambil lalu telah kami kemukakan beberapa perlawanan, beberapa kejanggalan. Dapat dikemukakan banyak yang lain, mulai dari adanya 'korupsi' di mana-mana-yang mungkin bagi kita tampak sebagai kanker imoralitas, namun sebenarnya dapat dijelaskan dengan kenyataan bahwa struktur-struktur lama tetap hidup."

Tetapi, mentalitas priyayi tak terbatas pada kalangan atas. Kalau roman sampai batas tertentu boleh dianggap sumber sejarah, kita pantas menengok apa yang dilukiskan oleh Y. B. Mangunwijaya dalam Burung-Burung Manyar. Dalam sebuah bagian kecil dari roman itu, Mangunwijaya menggambarkan --boleh jadi dengan jujur, sebab ia sendiri pernah terlibat dalam perang kemerdekaan-- bagaimana tak semua pejuang republik punya budi luhur seperti biasa kita bayangkan. Sepenggal kisah tentang ulah tentara republik di sebuah desa:

"Kalau seorang tentara peleton memuji pepaya yang menguning di pohon, segera seorang anak disuruh ibunya memetiknya. Bila mereka berkomentar ayam ini gemuk dan bertanya apa betul itu ayam kedu sungguh, maka petang harinya seorang anak disuruh ayahnya mempersembahkan ayam itu kepada mereka. Tetapi bagaimana bila mereka memuji Si Tinem atau Piyah cantik?"

Kisah itu bisa jadi cermin, bagaimana mentalitas priyayi dapat menyelinap ke benak orang biasa sekalipun. Setelah sekian lama menanggung hidup sebagai kéré, ada sesuatu dalam jiwa kita yang selalu siap berlagak bangsawan, begitu ada kesempatan.

Hingga kini, beban sejarah itu masih kita pikul. Tetapi, politik wajib selalu berisik. Ramai betul orang bicara tentang ganti presiden, tentang korupsi, tentang demokrasi, tentang pembangunan infrastruktur, tanpa menghitung bagaimana struktur priyayi masih berdenyut dalam keseharian masyarakat. Barangkali itu justru menguntungkan, terutama buat kubu-kubu yang tak punya alasan lain untuk hidup kecuali berebut kuasa.

Tujuh puluh tiga tahun sudah kita (memilih) merdeka. Dua puluh tahun di antaranya: demokrasi. Tapi, agaknya kita belum cukup mengerti, kemerdekaan dan demokrasi menuntut keberanian dan kedewasaan menentukan nasib sendiri. Dan, itu berarti: tak lagi berharap pada kelapa ajaib Ki Ageng Giring.

Pohon kelapa ajaib di Gunung Kidul itu rupanya terus berbuah. Kita tak tahu siapa akan menenggak airnya: tentara, pengusaha, atau ulama. Tapi, satu hal kita tahu pasti. Kata George Orwell dalam Animal Farm: "Semua setara, tapi beberapa lebih setara daripada yang lain."

Y. D. Anugrahbayu peminat filsafat


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com