DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Senin 27 Agustus 2018, 13:10 WIB

Kolom

Fariz RM, Narkoba, dan Upaya Memotong Siklus "Relapse"

Bagong Suyanto - detikNews
Fariz RM, Narkoba, dan Upaya Memotong Siklus Relapse Ilustrasi: Zaki Alfarabi
Jakarta - Polisi menangkap musisi senior Fariz RM karena kasus narkoba. Pencipta dan penyanyi lagu Barcelona yang populer era 1980-an itu kembali ditangkap aparat di rumahnya sendiri karena mengkonsumsi tiga jenis narkoba sekaligus: ganja, sabu, dan heroin. Hasil tes urine yang dilakukan aparat terbukti positif, dan Fariz RM tidak lagi bisa mengelak.

Meskipun pernah terjerat kasus narkoba pada 2007 dan 2015, dan telah berjanji untuk tidak kembali terjerumus dalam perangkap narkoba, Fariz RM tampaknya tetap tak kuat menahan diri. Alih-alih setelah menjalani rehabilitasi kemudian sadar dan mampu keluar dari godaan barang laknat itu, Fariz RM kembali mengulang kesalahan yang sama.

Sebagai pecandu narkoba yang tergolong kronis —dalam arti sudah terbiasa memakai satu atau beberapa jenis obat-obatan terlarang yang dapat menimbulkan adiksi— memang tidak mudah bagi Fariz RM untuk memutus mata rantai kergantungannya terhadap narkoba.

Bermula dari coba-coba, dan kemudian menjadi recreational use, yaitu pecandu yang mengkonsumsi narkoba sekadar untuk mengisi waktu senggang dan merupakan korban pengaruh peer-group atau lingkungan kerjanya, tidak jarang pecandu itu kemudian berubah menjadi situational use. Yang dimaksud dengan situational use adalah penggunaan narkoba pada saat seseorang mengalami ketegangan, kekecewaan, kesedihan dan sebagainya, dan kemudian mereka membenamkan diri dalam penyalahgunaan narkoba dengan tujuan untuk menghilangkan perasaan-perasaan yang menekannya itu.

Seseorang yang tengah mengalami depresi, gangguan kepribadian, antisosial, mudah cemas, dan ditambah dengan faktor disfungsi dalam keluarga, maka dengan cepat mereka biasanya akan tergoda faktor pencetus. Pengaruh teman, rasa keterikatan dengan peer-group, dan klaim-klaim sugestif yang merasa selalu membutuhkan napza untuk menstimulasi kreativitas dan lain sebagainya, niscaya dengan cepat akan mengabaikan semua referensi tentang nilai dan norma sosial yang pernah dipelajarinya sedari kecil.

Tidak ada orang yang tidak tahu bahwa mengkonsumsi narkoba adalah tindakan yang keliru, melawan hukum, dan bakal menyengsarakan dirinya sendiri. Tetapi, ketika godaan demi godaan selalu hadir dan habitus di mana mereka tumbuh tidak kondusif, maka jangan kaget jika seseorang dengan mudah tergelincir menjadi pecandu narkoba.

Dalam kenyataan, sering terjadi seseorang yang semula hanya bermaksud iseng, lama-kelamaan dapat terjerumus menjadi pecandu kronis, karena secara fisik dan/atau psikologis terus terobsesi oleh kenikmatan-kenikmatan sesaat yang ditawarkan dan dibayangkan akan dapat diperoleh kembali jika mengkonsumsi narkoba. Pada taraf kecanduan ini, biasanya korban akan memilih dan menghalalkan segala cara untuk memperoleh apa yang mereka inginkan. Sebagian mungkin melakukan praktik penipuan kecil-kecilan, tetapi tak sedikit akhirnya yang memilih melakukan cara-cara kriminal untuk memperoleh apa yang mereka inginkan.

Seperti pecandu narkoba yang lain, kesulitan dan persoalan yang dihadapi Fariz RM adalah godaan dan ancaman mengalami relapse (kambuh). Studi yang saya lakukan bersama kawan-kawan (2018) menemukan, dalam proses rehabilitasi bagi pecandu napza, siklus yang terus berulang adalah: bermula dari coba-coba kemudian menjadi pecandu, lantas sadar dan terbebas dari pengaruh napza, tetapi kemudian lapse dan relapse lagi seolah tiada ujung. Tidak banyak pecandu narkoba yang dapat keluar dari perangkap barang yang memabukkan itu. Biasanya, hanya korban yang benar-benar bermotivasi tinggi dan didukung oleh sikap orang tua dan keluarga yang fleksibel dan empatif —yang mampu bertahan untuk tegak di status bebas napza.

Para pecandu narkoba yang sudah kronis seperti Fariz RM, jika tidak benar-benar kuat iman dan tidak tahan dengan sikap keluarga dan masyarakat yang serba curiga, besar kemungkinan mereka akan kembali pada kebiasan buruk di masa lalunya. Bisa dibayangkan, apa yang terjadi jika seseorang benar-benar bertekad untuk bertobat, tetapi nyatanya setiap hari diperlakukan bak mantan narapidana atau penjahat yang selalu ditatap dengan pandangan serba curiga.

Di awal proses perjuangan untuk terbebas dari narkoba, mungkin sikap keluarga dan tatapan mata masyarakat masih dapat mereka toleransi, karena hal itu dianggap sebagai hukuman yang pantas diterima akibat kesalahan yang telah dilakukan. Tetapi, jika niat baik para pecandu narkoba itu untuk bertobat berkali-kali membentur tembok sosial penolakan keluarga dan masyarakat —selalu dicurigai dan tidak pernah dengan terbuka diterima permintaan maaf serta niat baiknya untuk bertobat— maka kemungkinan mereka kembali terjerumus dalam pengaruh buruk narkoba menjadi lebih berpeluang terbuka kembali. Bahkan, tidak mustahil dengan skala ketergantungan yang lebih parah karena merasa tidak lagi dipercaya keluarga dan masyarakat.

Kasus Fariz RM yang berkali-kali relapse dan kemungkinan jika akan relapse lagi dan lagi, sesungguhnya adalah pengalaman buruk yang bisa menjadi tempat berkaca bagi semua pihak yang concern untuk membantu pecandu narkoba. Sebagai musisi terkenal, Fariz RM jelas memiliki penghasilan yang lebih dari cukup membeli narkoba. Dunia hiburan dan lingkungan kerja yang seringkali hingga larut malam tentu juga merupakan faktor yang mempersulit upaya Fariz RM keluar dari perangkap narkoba.

Memahami pecandu narkoba sebagai korban –dan bukan semata sebagai terdakwa yang salah di mata hukum—bagaimanapun sulit dilakukan, hal itu tetap harus menjadi pertimbangan utama sebelum memutuskan sanksi apa yang tepat bagi para pecandu narkoba. Berbeda dengan pengedar atau bandar narkoba yang terus mencari korban mengedarkan narkoba demi keuntungan ekonomi, para pecandu narkoba adalah korban situasi dan gaya hidup keliru yang tidak mudah ditepis. Di sini hanya kesabaran dan empati yang benar-benar mendalamlah yang akan dapat membantu pecandu narkoba memutus masa lalunya yang kelam.

Bagong Suyanto Guru Besar dan Dosen di Program Pascasarjana Kajian Ilmu Kepolisian (KIK) Universitas Airlangga


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed