Kekerasan di Jalan Raya yang Makin Mengerikan
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom Kang Hasan

Kekerasan di Jalan Raya yang Makin Mengerikan

Senin, 27 Agu 2018 10:57 WIB
Hasanudin Abdurakhman
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Kekerasan di Jalan Raya yang Makin Mengerikan
Hasanudin Abdurakhman (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Ada sejumlah kejadian kekerasan di jalan raya yang diberitakan berbagai media belakangan ini. Kejadian-kejadian itu bukan lagi sekadar perselisihan antar pengguna jalan, tapi sudah merupakan tindak kriminal. Beberapa kejadian sudah merupakan tindak kriminal berat, berupa penganiayaan berat dan pembunuhan.

Kekerasan di jalan biasanya dimulai dari perselisihan antar pengguna jalan. Ada tabrakan, atau senggolan, atau sekadar salip menyalip. Satu atau kedua pihak merasa benar, dan menganggap pihak lain salah. Itu memicu pertengkaran yang menguras emosi. Yang gagal mengendalikan diri akan melakukan tindak kekerasan.

Jalan raya kita memang salah satu pemicu stres. Tingkat kemacetannya termasuk paling parah di dunia. Kemacetan tidak hanya terjadi pada jam-jam tertentu, tapi nyaris sepanjang hari, dan setiap hari. Pengguna jalan yang rutin melewati jalan tertentu setiap hari harus menghadapi hal yang sama, kemacetan pembuat stres. Orang menjadi tidak sabar, mudah marah, tidak mau mengalah, dan mengidap berbagai gejala stres yang lain.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jalan raya kita dipenuhi oleh orang-orang yang tidak terdidik. Lho, bukankah orang-orang itu sudah menempuh pendidikan yang cukup tinggi? Banyak dari mereka yang lulusan perguruan tinggi. Betul. Tapi, kebanyakan tidak mendapat pendidikan memadai soal bagaimana berkendara.

Coba perhatikan bagaimana Anda dan orang-orang di sekitar Anda berkendara. Umumnya orang belajar berkendara dengan langsung menyetir kendaraan di jalan raya. Paling-paling sebelum itu mereka latihan sebentar di tanah lapang. Banyak pengendara sepeda motor yang sudah menjadi pengendara sejak mereka masih kecil. Jarang orang ikut sekolah menyetir. Fakta yang menyedihkan, kita bahkan (mungkin) tidak punya sekolah menyetir dengan kurikulum yang memenuhi suatu standar.

Artinya, para pengguna jalan kita umumnya adalah orang-orang yang tidak paham peraturan, tidak terampil berkendara berdasar kaidah keselamatan. Tidak kalah penting, mereka tidak dididik untuk menjaga akhlak berkendara.

Ketika macet sangat parah, orang cenderung tidak sabar. Ada yang menyerobot. Ketika sudah terbentuk antreran panjang, banyak orang tidak mau lagi mengikuti antrean itu, karena akan memakan waktu lama. Mereka membuat antrean baru, menyerobot antrean sebelahnya. Lalu, orang-orang itu saling berebut jalan. Itu yang disebut tidak berakhlak dalam berkendara.

Orang tidak paham peraturan, bercampur dengan orang yang tidak peduli peraturan. Mereka harus berebut jalan untuk tiba di tempat tujuan. Terlambat tiba boleh jadi akan menimbulkan kerugian finansial atau material. Maka, orang berebut jalan seakan mereka berebut makanan di saat paceklik. Dalam suasana itu orang yang tadinya berakhlak pun bisa berubah menjadi beringas. Apalagi, orang yang dari awalnya memang tidak berakhlak.

Secara umum pendidikan kita memang kurang melatih orang untuk mempraktikkan nilai-nilai mulia. Kita kurang dilatih antre, memberi kesempatan kepada orang lain, juga menghargai orang lain.

Keadaan itu makin diperparah oleh tiadanya penegakan hukum. Para pelanggar bisa bebas dengan menyuap aparat. Aparat menindak pelanggar tidak dengan tujuan membuat jera, tapi sekadar untuk mencari uang.

Jalan raya kita adalah tempat di mana semua bentuk kesalahan sistemik berbaur. Tidak ada upaya sistemik untuk mengurai berbagai kesalahan itu. Aparat korup dibiarkan tetap korup dan makin korup. Jalan macet dibiarkan tetap macet dan makin macet. Juga tidak ada usaha sistematik mencegah kota-kota tumbuh menjadi kota macet. Nyaris tidak ada kota yang ditata dengan suatu sistem transportasi massal yang memadai. Tidak ada usaha serius untuk membenahi kurikulum sekolah mengemudi. Juga tidak ada upaya serius untuk membenahi sistem pengujian untuk mendapatkan SIM.

Apa yang bisa kita harapkan? Tidak ada. Yang bisa kita lakukan hanyalah tindakan personal, yaitu mengendalikan diri. Atur diri kita agar menjadi pengendara yang baik. Buat diri kita berbeda dari pengendara lain. Mengalah mungkin akan membuat kita ketinggalan 10-15 menit, atau 1-2 jam. Tapi, memaksakan diri dan melanggar mungkin akan membuat kita rugi lebih banyak.

Hindari adu mulut dengan pengendara lain. itu adalah pangkal terjadinya kekerasan. Kalau sudah terlanjur, segera hentikan. Jangan ladeni ucapan orang. Makian apapun dari pengendara lain sebenarnya tidak akan melukai kita. Sekali kita ladeni, itu bisa merambat pada kekerasan.

Tidak ada keuntungan dari tindak kekerasan. Kita kalah, kita akan terluka. Kita menang, mungkin ujungnya akan membuat kita terpenjara. Sadarilah bahwa banyak pengguna jalan yang tidak waras dan sanggup membunuh. Kita tidak bisa mengidentifikasi mereka secara jelas. Jadi, lebih baik menghindari hal-hal yang bisa berujung pada tindak kekerasan.

Hasanudin Abdurakhman cendekiawan, penulis, dan kini menjadi seorang profesional di perusahaan Jepang di Indonesia
(mmu/mmu)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads