DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 24 Agustus 2018, 16:25 WIB

Kolom

Pemimpin Baik dan Jahat Akhirnya Masuk Kardus Juga

Xavier Quentin Pranata - detikNews
Pemimpin Baik dan Jahat Akhirnya Masuk Kardus Juga Jangan pilih capres jahat (Ilustrasi: Andhika Akbaryansyah/detikcom)
Jakarta - Saat Asian Games berlangsung, di luar arena ajang olahraga se-Asia itu Indonesia sedang demam menjagokan calon pemimpin masing-masing. Sorak-sorak penonton di lapangan olahraga baik di Jakarta maupun Palembang kalah oleh gemuruh saling tuduh di antara dua kubu capres dan cawapres. Berita tentang siapa kecewa dan dikecewakan siapa menjadi lebih viral ketimbang gempa bumi di Lombok sana. Sejak pilkada rasa pilpres di DKI, "permusuhan" antara, maaf, "cebong" dan "kampret" terus didendangkan.

Kembali ke Kardusnya

Di perpustakaan pribadi saya, ada sebuah judul buku yang menjadi top of mind setiap kali ada kontestasi dan kompetisi. Judulnya pun provokatif dan menjawab keriuhan perang tagar Jenderal Kardus, Jenderal Baper, dan bisa saja Jenderal yang kalah sebelum bertanding, yaitu When the Game is Over, It All Goes Back in the Box karya penulis apik John Ortberg. Saat permainan selesai, semua alat permainan itu akan kembali ke kardusnya. Klop sekali.

Begitu ciamik dan mendalamnya buku dari penulis best-seller ini sehingga saya membacanya sampai tuntas. Intisarinya seperti ini. Dengan memakai permainan yang populer, agar membumi sebut saja catur, John Ortberg membuat metafora yang indah. Hidup kita di muka bumi ini seperti permainan. Jika kita selesai bermain, semua peralatannya masuk kotak.

Demikian juga dengan pilpres. Begitu masa jabatan kita habis, kita kembali ke masyarakat. Itu yang jangka pendek. Untuk jangka panjang, jika hidup kita di muka bumi habis, kita pun akan masuk 'kotak'.

Saat menghadiri pemakaman ayah sahabat saya di Karrakatta Cemetery, Perth, Western Australia saya mendapat iluminati ilahi. Ketika berjalan di kuburan Spanyol itu, saya mendapati deretan angka kelahiran dan kematian. Di tengah tanggal, bulan, dan tahun antara hari lahir dan hari wafat, ada satu tanda kecil "-" (strip) di tengahnya. Meskipun kecil, tanda itu menunjukkan waktu hidup kita. Pencerahan ilahi yang saya dapatkan, tidak peduli panjang atau pendek, yang penting adalah dampak yang kita buat selama kita masih hidup di dunia ini.

Berkembang Sampai Mekar

Dua dekade sebelumnya Warren Dennis menulis buku apik berjudul On Becoming A Leader yang menjadi 'buku wajib' para pemimpin, bukan hanya di sektor bisnis melainkan hampir di semua lini kepemimpinan. Jika di dalam buku sebelumnya Leaders (1985) meneliti para pemimpin di berbagai bidang kehidupan mulai dari astronaut Neil Armstrong sampai pendiri McDonald Ray Kroc, di buku ini dia meneruskan karya masterpiece-nya.

Pemimpin sejati, kata Dennis, tidak perlu membuktikan dirinya sendiri. Pemimpin perlu express themselves fully tidak peduli apakah yang dia lakukan dianggap pencitraan atau bukan. Toh jika orang melakukan pencitraan, dia tidak bisa terus-menerus melakukan hal yang sama. Sangat melelahkan!

Siapa pun yang bersandiwara terus-menerus, tidak peduli semanis apa pun tokoh yang dia mainkan, akhirnya akan turun panggung dan kembali ke watak aslinya. Bukankah orang yang hanya pandai beretorika suatu kali akan terjebak oleh ucapannya sendiri? Jejak digital tidak mudah dihilangkan. Orang yang plin plan suatu kali akan menelan cuilan lidahnya sendiri karena tergigit oleh gigi sendiri!

Pemimpin yang baik, kata Dennis, tidak boleh berhenti mencipta. Seperti bunga, mereka berkembang sampai mekar, bukan berkompetisi, menghalalkan segala cara untuk menang. Dengan demikian, seorang pemimpin akan terus-menerus memacu diri untuk maju dan mengembangkan visi kepemimpinan yang kuat dengan kerja nyata agar orang-orang yang melihat karyanya mengikutinya. Di dalam proses ini, bisa jadi dia belajar dari keberhasilan dan kegagalan pemimpin sebelumnya. "Leaders learn from others, but are not made by others," ujar Dennis.

Menghancurkan Mitos

Undang-undang yang mengharuskan calon presiden diusung oleh partai politik membuat sistem oligarki bertambah kuat dan menjerat. Tarik-menarik antara menjadi pemimpin yang mumpuni di banyak sektor atau sekadar menang karena mesin bernama elektoral tidak semenarik lomba tarik tambang dalam acara tujuh belasan.

Bocah di NTT yang berinisiatif memanjat tiang bendera yang tinggi tanpa menimbang-nimbang risiko yang dihadapinya membuat kita malu. Kita jengah saat untuk memilih wakil saja seorang pemimpin tidak bisa mensinkronkan tangannya. Satu tangan menggandeng cawapres pilihannya sementara tangan yang lain ditarik untuk memeluk yang lain karena lawan dianggap bakal memakai politik identitas.

Kita semua melihat politik oligarki bekerja maksimal di hari terakhir pengumuman capres dan cawapres kemarin. Persis seperti orang main kartu atau catur. Kalau you mengeluarkan kartu ini, saya akan mengeluarkan yang ini. Kalau kamu maju pakai kuda, saya akan tangkis pakai gajah. Pelajaran untuk berdemokrasi biayanya sangat mahal seperti yang bisa kita saksikan di ring tinju. Petinju yang punya rekam jejak yang baik bisa di-KO di babak terakhir dengan stamina bernama logistik.

Di sinilah Dennis menghancurkan mitos yang mengatakan bahwa pemimpin itu pahlawan yang dilahirkan dan bukan dibentuk. Toh nyatanya ada pemimpin senior yang mati-matian membentuk --baca: mengkarbit-- anaknya agar masak sebelum waktunya. Caranya, memperkenalkannya lewat 'uji tanding' di aras domestik agar namanya sounding di aras nasional. Para penganut politik dinasti lupa bahwa kemampuan memimpin seseorang perlu diuji di berbagai kawah candradimuka dan bukan cari muka dengan politik transaksional.

Pemimpin Baik dan Pemimpin Jahat

Proposal yang disampaikan John Ortberg menurut saya bisa menjadi "pancasila para pemimpin". Pertama, hidup dengan penuh keberanian dan kasih sayang. Menjadi pemimpin di Indonesia-apalagi yang nomor 1-dibutuhkan urat keberanian yang tidak gampang putus diterpa fitnah dan pengkhianatan.

Kedua, menjadi pemain dan bukan bidak yang digerakkan oleh segelintir elite partai sehingga untuk memilih wakil dan anggota kabinet saja harus pakai sistem power sharing yang sangat transaksional: sumbangan suara menentukan empuk tidaknya kursi.

Ketiga, tanyakan terus-menerus dan temukan misi pribadi serta melakukan yang terbaik. Jika melakukan yang terbaik dengan kerja nyata saja sudah mendapat cibiran dari para lawan politik apalagi kalau melakukannya asal-asalan atau malah auto pilot. "Toh saya tinggal jalan-jalan ke luar negeri pakai business class anak buah saya bisa jalan sendiri," ujar seorang pemimpin sambil menyeruput jus buatan pramugari yang cantik.

Keempat, isi setiap papan catur --eh, wilayah kepemimpinan-- dengan hal yang paling penting sambil tetap mengingat bahwa bidak lain perlu diperhatikan. Terbukti bahwa jika infrastruktur dianggap paling penting, tapi kalau sembako dan kebutuhan lain harganya naik terus, minyak goreng pun ikut menari-nari di atas wajan yang sudah sangat panas.

Kelima, inilah yang sangat saya senangi: "Seek the richness of being instead of the richness of having." Proses menjadi --yang makin lama makin baik dan utuh-- jelas lebih elok di mata rakyat, apalagi Tuhan, ketimbang proses menumpuk harta dan takhta yang kita tahu sifatnya sementara.

Superhero macam Superman pun --karena tidak bisa menjadi dirinya sendiri-- dibuat mati oleh produser. Apalagi kita. Pada akhirnya, kita semua --pemimpin yang baik maupun yang jahat-- akan kembali ke kardus, eh kotak. Jadi tidak perlu baper!

Xavier Quentin Pranata pelukis kehidupan di kanvas jiwa


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed