DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 24 Agustus 2018, 14:30 WIB

Kolom

Asian Games dan Politik Keadaban

Umbu TW Pariangu - detikNews
Asian Games dan Politik Keadaban Opening Asian Games 2018 (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta - Indonesia sukses mencuri perhatian dunia luar pada pembukaan Pesta Olahraga se-Asia Asian Games di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (18/8) lalu. Tidak saja karena melibatkan 4000 penari yang dibawakan secara kolosal atau setting panggung megah (berukuran 120 x 30 x 26 meter) yang menampilkan panorama gunung dan berbagai flora khas Indonesia. Atau, juga melibatkan selebritas papan atas (di antaranya Anggun C Sasmi, Via Vallen, Raisa, Tulus, Edo Kondologit, Rosa, Rini Wulandari, dll). Namun, yang tak kalah menarik yakni aksi Presiden Joko Widodo menunggangi motor gede Yamaha FZ 1 milik pengawalnya saat menuju acara opening ceremony tersebut.

Jokowi menggunakan helm full face hitam berjas formal memasuki stadion dengan menaiki motor setelah sebelumnya sempat melakukan atraksi menegangkan: adegan terbang untuk menghindari kemacetan hingga atraksi free style saat melewati gang sempit. Aksi ini seketika memantik pujian dan menjadi viral. Namun, tak sedikit pula menuai cibiran. Mereka menganggap aksi tersebut tak ada relevansinya dengan pelaksanaan Asian Games. Politisi Demokrat Ferdinand Hutahaean misalnya menuntut tim kreatif harus jujur mengatakan ke publik bahwa adegan moge Jokowi memakai stuntman. Politisi Gerindra Fadli Zon menyebut adegan tersebut hanyalah pencitraan politik.

Kontra dan cibiran yang bernapaskan kritik dalam kacamata politik bukan hal baru. Kritik adalah "senyawa" kerja kekuasaan agar tidak melenceng dari garis liabilitasnya. Sejauh ia konstruktif, pelbagai sinisme dan nyinyir asal di dalam koridor semestinya, ia bagus dan sehat untuk merangsang otokritik kekuasaan. Namun, akan jadi disfungsional jika kritik tersebut tendensius, semata-mata ingin menggagahi kelemahan personal kekuasaan.

Upaya Memadai

Adegan moge Presiden tersebut mestinya dilihat sebagai rangkaian dari upaya yang memadai untuk menyukseskan pembukaan Asian Games. Sebagai Kepala Negara, Jokowi tentu punya kepentingan dan intensi moral untuk menyuguhkan pelaksanaan hajatan besar multievent tersebut. Komitmen tersebut sudah diejawantahkan jauh sebelumnya dalam pelbagai persiapan mulai dari himbauan tegas Presiden kepada panitia untuk lebih ulet menggencarkan promosi Asian Games yang juga merupakan berkah simbiosis destinasi kunjungan wisata, memastikan langsung proses penyiapan venue olahraga yang dipergunakan, termasuk Wisma Atlet Kemayoran sebagai tempat penginapan atlet, hingga persiapan teknis pengaturan lalulintas, akomodasi dan konsumsi para atlet, pergerakan para atlet dan ofisial dan kesiapan tenaga pendukungnya.

Untuk memberi dukungan moral, Presiden dengan bangga mengenakan jaket Asian Games saat bertemu dengan siswa-siswa OSIS SMA berprestasi se-Indonesia di Istana Bogor awal Mei 2018 lalu. Praktis dalam tiga tahun terakhir Indonesia berhasil membangun infrastruktur arena olahraga, perkampungan atlet serta LRT, sebagaimana dipuji oleh Presiden Dewan Olimpiade Asia (OCA) Sheikh Ahmad Al Fahad Al Sabah melalui laman resmi OCA (18/7). Ia memuji Presiden, Wakil Presiden, dan Ketua Panitia yang sungguh-sungguh bekerja keras menyiapkan event kelas dunia tersebut sehingga dalam waktu sebulan sebelum hari-H, Indonesia dinyatakan sudah siap menerima para kontingen tamu yang datang.

Menyaksikan kemegahan kerja cergas berbagai pihak dalam menyongsong Asian Games tersebut, menjadi picik jika ada yang masih mempersoalkan atraksi motor Presiden sebagai sesuatu yang lebay atau pencitraan, termasuk secara norak meributkan soal stuntman di balik atraksi moge itu. Publik awam pun tahu, untuk adegan yang sedemikian trengginas itu pastilah ada stuntman di baliknya. Toh Jokowi bukanlah seorang Valentino Rozi yang ekspertis di dunianya. Tapi, bukan itu isu utamanya.

Yang perlu digarisbawahi bahwa opening ceremony Asian Games tempo hari telah menghadirkan sebuah politik keadaban, suatu nuansa yang berbeda, melampaui imajinasi khalayak. Ia sebentuk suguhan otentik dari insting artistik seorang kepala negara yang hendak membuktikan kepada rakyat Indonesia dan Asia, bahwa kita adalah bangsa besar yang kaya dengan peradaban pikiran dan budaya adiluhung. Lewat politik keadaban itu, Presiden seakan ingin membuktikan bahwa sajian kolosal di balik seremoni itu merupakan representasi impresionik dari sebuah layar megah yang hendak meluruhkan stigma kelam tentang potensi pengingkaran keragaman bangsa oleh anak-anak bangsa yang tidak bertanggung jawab, tentang banyaknya politisi tak bermoral dan korup yang semakin tidak tahu malu dan loba merampas harta negara.

Tanda Kebesaran

Dulu, pada masa awal kemerdekaan Indonesia, tidak sedikit seniman yang diajak Sukarno pergi ke luar negeri untuk mengikuti berbagai pameran kesenian sekaligus belajar berkreasi. Sebab bagi Sukarno, seni adalah tanda kebesaran bangsa. Itulah sebabnya kenapa Sukarno juga giat membangun monumen-monumen nasional yang bisa kita nikmati sampai saat ini, sekadar ingin mengerek kepercayaan diri rakyat agar senantiasa bangga dan terhormat sebagai rakyat dan bangsa Indonesia, yang tidak boleh lagi merasa inferior di dalam selimut bayang-bayang kelam feodalisme.

Sosiolog Ignas Kleden (2009) mengatakan, seni harus bebas atau merdeka dari intervensi politik. Artinya, seni harus dibaca sebagai ruang deliberatif untuk mengekspresikan segala kehendak dan ekspresi, karena dari situlah terbit kemerdekaan yang esensial sebagai manusia yang otentik dan bangsa yang bermuruah. Dalam konteks ini, justru sebaliknya saya curiga, para politisi yang selalu rajin mencibir termasuk mengaitkan kreasi seni dengan politik adalah merupakan bagian dari korban dari relasi traumatik seni-politik di abad pertengahan yang selalu mempertentangkan politik sebagai sebuah keburukan an-sich, bukan (nilai) seni yang mengintroduksi kebaikan dan kemaslahatan.

Bagaimanapun sentrum apresiasi dunia terhadap gawe olahraga termasyur di Asia itu berhasil mendapat apresiasi rakyat mondial. Simak saja pujian Menpora Malaysia, Syed Saddig yang ditulis dalam posting-an akun Instagram pribadinya @syedsaddig (Minggu, 19/8) yang mengunggah foto kebersamaannya dengan Presiden Jokowi di sebuah tribun. Ia bahkan mengira yang mengendarai motor tersebut adalah Valentino Rozi.

Alih-alih sibuk menari nyinyir di atas kerja peluh dan airmata dari para eksponen hingga rakyat yang menyukseskan pembukaan Asia Games kemarin, alangkah lebih terhormat dan bijaksana jika kita semua, termasuk para politisi, untuk terjun masuk dalam arus kolosal bahu-membahu memberi kontribusi nyata menyukseskan gelaran pesta tersebut mulai dari menjamu hingga pada akhirnya melepas para atlet kembali ke negaranya masing-masing. Ini jelas lebih mulia daripada memproduksi cibiran yang mudarat.

Umbu TW Pariangu dosen FISIP Universitas Nusa Cendana Kupang


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed