DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 21 Agustus 2018, 14:43 WIB

Kolom

Anak-Anak Bagai Bayang-Bayang Kehidupan

Nurul Huda - detikNews
Anak-Anak Bagai Bayang-Bayang Kehidupan Foto: Pradita Utama
Jakarta -

"Ternyata, kita telah lama meninggalkan masa kecil." Demikianlah kata teman saya beberapa pekan lalu. Saat itu, kami sedang duduk-duduk bersama. Di bibir pantai kampung halaman yang berada di ujung Jawa Tengah sana. Sudah lama memang kami tak berbincang-bincang seperti ini. Sore itu, di hadapan kami ada sejumlah anak-anak yang bermain layang-layang. Persis seperti apa yang kami lakukan dulu. Mungkin hanya berbeda jumlah. Dulu kami berbondong-bondong bermain di pasir putih itu. Seolah di sana adalah wahana yang menyenangkan. Wahana yang tak akan kalah atas keparipurnaan wisata-wisata modern saat ini.

Kami berpikir sejenak, merenungi apa yang kami rasakan. Ya, memang sudah lama kami meninggalkan masa kecil. Tanpa terasa sudah lima belas tahun, setelah kami berpisah dan beranjak pergi meninggalkan kampung pasir putih ini. Lima belas tahun, tentu bukan waktu yang sebentar. Cukup terasa perubahan yang terjadi. Kelindan wahana permainan semenjak kecil kami, dan sedikitnya anak-anak yang berada di sini adalah rombakan perubahan yang terjadi. Mungkin bagi anak-anak di zaman ini, bermain gadget akan lebih menyenangkan ketimbang bermain tanpa kenal panas dan dingin seperti kami, berenang di tengah derasnya ombak laut tanpa berpikir tentang risiko mati yang setiap saat menghampiri, berselancar dengan papan-papan perahu tanpa mengenyam ketakutan yang menjelma.

Sudah banyak memang perubahan yang terjadi. Perubahan untuk mawas diri dari kehariban luka dan lara yang pernah dijalani. Menyuarakan tentang hakikat kesenangan tanpa berpikir pahitnya kehidupan. Ya, itulah kehidupan anak terdahulu. Kehidupan yang masih menyimpan seribu duka atas beragam kekurangan yang menyapa. Sangat kontras dengan kehidupan zaman sekarang, yang sarat akan kemewahan dan kelimpahruahan. Namun, semua itu tentu juga berdampak pada tataran kehidupan di masa depan. Sebab anak-anak zaman dulu sesungguhnya berpatri dengan dunia yang diilhami oleh alam. Mungkin kenyataan ini masih semakna dengan apa yang disematkan oleh Ibnu Khaldun dalam kitab Muqadimah, tentang pendidikan dari alam.

Terhempas dari pendidikan itu, golongan kami juga sudah merasakan belajar di lembaga-lembaga pendidikan yang diasuh oleh pemerintah ataupun swasta. Hanya saja, perlu ada perhatian khusus yang mesti digulirkan, sebab pendidikan yang dituangkan belum mengandung arti pembelajaran yang sesungguhnya. Artinya, jika dibandingkan dengan dunia pendidikan kami, pendidikan di zaman ini memang sudah jauh dari kata kemajuan. Hanya saja, apabila dibandingkan dengan negara lain, maka akselerasi pendidikan kita jauh lebih rendah ketimbang negara lain. Perlu pembenahan yang mendalam, agar dunia pendidikan tak menjadi momok yang sering meninabobokkan anak-anak, yang kerap hanya mengajarkan cita-cita setinggi angkasa, namun tak diimbangi dengan pembelajaran yang bermakna.

Bermain Layang-Layang

Ada pepatah bilang bahwa mendidik anak ibarat bermain layang-layang. Perlu seni tarik ulur yang seimbang agar tak jatuh ke permukaan. Perlu ditarik agar kedisiplinannya terbentuk dan tak suka menyepelekan perihal yang kecil. Perlu juga diulur, agar mengetahui dampak baik dan buruk atas setiap hal yang ia kerjakan. Pendeknya, mendidik anak memiliki seni yang mau tak mau harus dilaksanakan dengan kekerasan dan kelembutan, hingga melahirkan keseimbangan. Keseimbangan yang menjurus pada norma kehidupan yang sesungguhnya. Terlepas dari kenyatan demikian, lembaga pendidikan di negeri ini juga masih tak ada ubahnya seperti kenyataan di masa lalu. Sudah saatnya kita bermetamorfosis, tidak mematok pada sistematika pendidikan yang mengerupsi. Tapi, membangun pendidikan yang senantiasa berpatron untuk mengetahui kebutuhan di masa depan.

Adalah penting, tentang visi pendidikan oleh negara yang diniscayakan kepada kebutuhan anak-anak di masa mendatang. Tidak seperti pendidikan di zaman dulu, yang tak diorientasikan kepada kebutuhan-kebutuhan di masa datang. Dampaknya banyak masyarakat yang justru menjadi "korban" pendidikan. Bahkan karena itu pula, dunia pendidikan yang dulu dipandang utopis kini menjadi wahana yang tak memiliki perbedaan dengan wahana-wahana lainnya. Karena itu, mari bersama-sama mengelorakan hakikat pendidikan yang sesungguhnya. Sebab negara juga memiliki tujuan penting berupa mencerdasakan kehidupan bangsa. Maka dari itu, diperlukan prediksi-prediksi tentang kebutuhan hidup di masa depan, agar pendidikan bisa mengupayakan peserta didik menuju jurang kemanfaatan.

Semakna dengan itu, terkadang kita juga lupa tentang hikmah perbedaan di masa lalu, kini, dan akan datang. Sehingga, tak jarang banyak masyarakat yang tidak menyadari peluang-peluang di masa depan. Ada ungkapan menarik dari Syeikh Nawawi Umar al-Banteni. Orang mulia (berpengetahuan) tidak akan memiliki tanah terasing, sedangkan orang jahil tidak memiliki tanah air. Mengingat ungkapan itu, sudah saatnya Indonesia menggalang generasi yang cakap dalam beragam hal. Sebab, orang ahli akan dicari dan yang biasa-biasa saja harus mencari. Dunia pendidikan kita seharusnya sudah membangun generasi-generasi ahli, tidak mencipta generasi yang hanya sekadar paham semata.

Ahli berbeda dengan paham, apalagi mengerti. Jika paham dan mengerti hanya terangkum dalam penangkapan isi dan mampu menjelaskan kepada orang lain, maka ahli memiliki pengertian yang lebih dalam lagi. Ia bisa menangkap isi, menjelaskan kepada yang lain dan mampu menyelesaikan beragam persoalan yang berkaitan tentang keahlian demikian. Karena itulah, para ahli—kata al-Fadil—seolah memiliki negeri sendiri. Sebab, sebagaimana dalam tradisi pembangunan karakter ikhlas ala sufi, manusia disarankan untuk menjadi murad (yang dicari) bukan murid (yang mencari). Akhirnya, mari kita bersatu. Bersama kita cetak generasi yang bisa diharapkan, bukan generasi yang hanya bisa berharap. Dan, itu bermula dari keselarasan visi pendidikan yang seutuhnya. Wallahu a'lam bi al-shawaab.

Moh Nurul Huda pengajar di Ponpes Daar al-Qalaam dan mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed