DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 14 Agustus 2018, 16:13 WIB

Sentilan Iqbal Aji Daryono

Balada Para Penghibur Diri Sendiri

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Balada Para Penghibur Diri Sendiri Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - "Jadi, untuk meraih kesenangan merokok, kamu harus keluar uang tiga ratus ribu dulu, Uda? Wah, sulit sekali ya hidupmu. Coba nih, lihat aku. Cukup dengan rokok sebungkus enam belas ribu saja aku sudah senang. Betapa hidup yang gampang! Ha ha ha!"

Malam itu, saya nongkrong di Warung Mojok, sebuah warung kopi yang lagi nge-hits di dekat Jalan Kaliurang, Jogja. Di situ saya berjumpa dengan berjibun orang lucu. Salah satunya adalah seorang lelaki berdarah Minang, sebut saja namanya Uda Limbak.

Si Uda ini seorang perupa kawakan yang ditakuti kawan maupun lawan. Pekerjaannya cuma dua: melukis, nongkrong, melukis, nongkrong. Dengan dua kegiatan itu saja, namanya di dunia seni rupa sudah berkibar-kibar menggetarkan dada. Dan, berbekal nama agungnya itulah setiap keping lukisannya laku dengan harga ratusan juta hingga miliaran rupiah. Tidak mengherankan.

Mengantongi kekayaan yang tak kalah besarnya dengan kekayaan para cukong politik, tentu saja Uda Limbak punya banyak teman. Bagaimana tidak, lha wong rumahnya yang seluas kastil para baron abad pertengahan itu selalu cukup untuk menampung tamu tanpa henti, juga untuk menerima siapa pun yang ingin belajar menjadi kaya raya hanya dengan bekerja ala kadarnya.

Tak terkecuali saya, tentu saja, meski saya cuma sowan kepadanya di sebuah warung kopi.

Saya ambil sebatang rokok dari bungkus hijau di hadapan Uda Limbak. "Rokok apa ini, Uda?"

Ternyata, itu rokok khusus bikinan sebuah industri tradisional di Jawa Timur, semacam rokok herbal yang dibuat dengan cara sangat spesial, diproduksi dengan sangat terbatas, dan dijual dengan harga sangat mahal. Tiga ratus ribu untuk sebungkus isi dua belas batang tentu keterlaluan mahalnya bagi spesies perokok sudra seperti saya. Maka, keluarlah pertanyaan seperti saya tulis di awal tadi. Dengan enam belas ribu rupiah saya sudah merasakan enak, sementara Uda Limbak harus keluar tiga ratus ribu untuk meraih perasaan yang sama.

"Jadi," saya menyambung pertanyaan saya, "Pada titik rupiah berapakah orang tajir sepertimu merasakan bahagia saat mendapatkan uang, Uda? Kalau dalam satu waktu kamu dapat transferan seratus juta, bukankah di hatimu belum akan muncul rasa gembira?"

Uda Limbak cuma tersenyum, sebuah senyum kecil malu-malu yang agak menggoyang posisi kumis lebatnya.

"Bukan apa-apa, Uda, tapi begini maksudku...." Saya menyeruput kopi sedikit, lalu menyambung lagi kalimat yang belum selesai. "Kalau dengan seratus atau dua ratus juta yang masuk kantong saja kamu belum merasakan sebuah sensasi kebahagiaan, artinya ya susah sekali hidupmu, Uda. Prihatin sekali aku melihatnya."

Si Uda meringis semakin lebar.

"Lho, jangan marah, Uda. Coba lihat aku. Aku ngamen, misalnya, diminta orang untuk memberikan pelatihan menulis, atau untuk meracau satu-dua jam tentang media sosial, lalu dikasih satu juta. Satu juta saja, dan aku sudah sangat bahagia! Aku akan pulang dengan wajah berlumur senyum, kubawa satu juta itu dengan ucapan hamdalah berkali-kali, kuberikan kepada istriku untuk membayar tagihan listrik dan internet, lalu sisanya kami nikmati untuk makan tengkleng dan sate klatak di warung Pak Pong. Dan, itu pun kadang masih sisa! Ringkasnya, aku merasa satu juta itu sudah mampu berbuat sangat banyak untuk kebahagiaan diriku dan keluargaku! Lah, kamu?"

Uda Limbak tetap konsisten cengar-cengir, dan beberapa kawan lain di sekitar kami mulai cekikikan.

"Itu baru pertanyaan soal batas bawah kebahagiaan ya, Uda. Sekarang aku tanya tentang batas kekhawatiran. Begini. Dengan uangmu yang triliunan itu, pada titik saldo berapakah kamu akan mulai merasa cemas?"

Kali ini wajah Uda tampak mulai sebal dengan pertanyaan-pertanyaan saya.

"Aku berani bertaruh, Uda, kalau dalam rekeningmu tinggal tersisa setengah M, misalnya, pasti kamu sudah akan cemas sekali! Gimana bulan depan? Duit tinggal segini, belum ada pemasukan lagi, lalu apa yang akan terjadi kalau lukisanku tak laku lagi? Oh, Tuhan ini mengerikan sekali, duitku cuma tinggal setengah M! Nah, kira-kira begitu perasaanmu kan, Uda? Iya nggak? Ayolaaah, mengaku saja!"

Uda Limbak menolehkan kepala ke Mas Salim di sebelah kirinya, yang sedari tadi sibuk dengan ponsel dan grup Whatsapp-nya. Agaknya Uda berharap Mas Salim akan mengajaknya berbicara entah apa, sehingga ocehan saya dapat dia tinggalkan dengan segera.

"Tunggu dulu, Uda, tunggu dulu. Jangan lari dulu. Coba bandingkan. Kamu dengan setengah Em saja sudah was-was akan apa yang bakal terjadi esok hari. Betapa penakutnya! Lah, aku?"

Saya membuat sedikit drama dengan mencabut dompet lusuh warna hitam dari saku belakang jins biru lusuh saya satu-satunya. Dompet itu kado ulang tahun dari istri saya, yang ia berikan sekitar lima tahun silam.

"Nih, aku punya sepuluh atau dua puluh juta saja di saldo, tanpa kejelasan bulan depan mau dapat pekerjaan apa, belum cukup jelas media mana saja yang mau memuat tulisanku dan ngasih honor beberapa ratus ribu, itu saja aku masih cukup tenang, Uda. Aku masih bisa membayangkan uang segitu tidak buruk-buruk amat, dan kondisi moneter keluargaku belum sampai pada titik mencemaskan. Jadi dengan setengah M kamu sudah sangat was-was, sementara cuma dengan sepuluh juta aku masih sangat tenang! Oh, betapa aku ini orang yang amat pemberani, bukan? Ha? Betul kan? Setuju tidak?"

Tampaknya, Uda Limbak sudah mulai kehilangan rasa sabarnya. Ia tidak tampak hendak membalas, namun beranjak berdiri. Hingga tiba-tiba, Puthut, lelaki di sebelah saya yang sedari tadi cekikikan, mencegah Uda pergi.

"Wis to, Uda, jangan dengerin Si Iqbal ini. Biarkan saja dia ngelindur asal bunyi semaunya." Kalimat Puthut itu terdengar cukup keras. Lalu, tetap dengan posisi setengah rebah di bangku warung, ia memalingkan mukanya dari arah Uda Limbak ke arah saya.

"Gini lho, Bal. Boleh saja kamu merasa punya hidup yang lebih enak dan lebih mudah. Kamu juga sah-sah saja menganggap Uda Limbak lebih gampang didera kecemasan dan lebih sulit bahagia justru karena kekayaannya. Tapi, coba cermati. Uda belum akan bahagia hanya dengan uang seratus juta yang ditransfer ke rekeningnya, sementara kamu sudah bisa hore-hore cukup dengan satu juta. Nah, masalahnya Uda Limbak bisa mencari lima ratus juta semudah kamu mendapat satu juta! Jadi, artinya hidup kalian berdua itu ya sama-sama mudahnya, sama-sama sulitnya, sama-sama bahagianya, atau sama-sama cemasnya! Bedanya terletak pada satu faktor saja, yaitu di angka besaran saldo! Sadar nggak, kamu? Ha ha ha!"

Saya terkesiap. Sialan, betul juga Puthut ya. Uda Limbak bisa mendapat setengah M dengan cara segampang saya mendapat satu juta. Maka wajar saja, ketika Uda cuma dapat seratus juta, itu belum akan membuatnya bahagia. Jadi ini bukan tentang seberapa saya mudah bahagia atau seberapa sulit Uda bergembira. Ini semata tentang saya yang sedang berusaha membuat diri saya sendiri merasa bahagia, dengan cara membayangkan bahwa orang lain lebih sulit berbahagia. Oh, Tuhan nista sekali saya.

Ah, tapi cara seperti ini memang cara instan yang sangat realistis untuk bertahan bahagia, bukan? Betul tidak?

Ketika kita ragu dengan diri kita sendiri, akan lebih menenangkan hati kalau kita mencari-cari sisi meragukan dalam diri orang lain. Dan, karena keraguan serta kebahagiaan itu bersifat relatif, maka relativitas itu kita paksakan bukan dengan cara menunjukkan kualitas diri kita, melainkan dengan memvonis bahwa ada sisi bermutu rendah dari orang lain di hadapan kita!

Menyadari hal itu, tiba-tiba saya teringat para suporter politik yang kemarin baru saja diganjar "PHP" oleh bos kubu masing-masing itu. Simak baik-baik. Mereka tampak mulai melancarkan pukulan-pukulan sakti, sambil membawa luka dan kecewa yang coba ditutup-tutupi. Tanpa melepaskan gembolan luka itu, dengan Teori Kebahagiaan Instan mereka pun berkelahi. Aduh, mengenaskan. Sungguh mengenaskan.

Iqbal Aji Daryono esais, tinggal di Bantul


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed