Kolom

Memperluas Manfaat "Jember Fashion Carnaval"

Anang Hermansyah - detikNews
Senin, 13 Agu 2018 16:00 WIB
Anang Hermansyah
Jakarta -

Jember Fashion Carnaval (JFC) tahun ini memasuki tahun ke-17 sejak pertama kali digelar di awal 2003 yang bertepatan dengan Hari Jadi Kabupaten Jember 1 Januari 2003. Tahun ini digelar pada 7-12 Agustus 2018, merupakan tahun kedua setelah Jember dinobatkan sebagai Kota Karnaval pertama di Indonesia yang bertaraf nasional dan internasional oleh Kementerian Pariwisata.

Penempatan Jember sebagai Kota Karnaval pertama di Indonesia ini tentu harus disyukuri oleh semua pihak khususnya masyarakat Jember. Setidaknya, penobatan ini merupakan hasil dari kerja keras yang dilakukan oleh inisiator sekaligus pengelola JFC Dynan Fariz. Hal ini juga dapat menjadi role model partisipasi masyarakat dalam mengelola suatu gelaran yang berbasis warga.

Pelaksanaan JFC yang telah digelar hingga dua windu lebih ini semakin memperkokoh eksistensi Jember sebagai Kota Karnaval pertama di Indonesia. Gaung JFC telah menggema, tidak hanya di Indonesia saja, namun gelaran ini juga menjadi perbincangan di kalangan dunia internasional. Setidaknya hal tersebut dapat dilihat dari peserta karnaval yang melibatkan banyak negara dari luar Indonesia.

Kendati digelar dan diinisiasi oleh pihak swasta, peran pemerintah daerah (pemda) suka tidak suka juga harus terlibat secara aktif. Toh, manfaat yang muncul dari gelaran JFC ini secara nyata memperkuat identitas Jember. Lebih dari itu, juga menggairahkan sektor turunan lainnya seperti hotel, pariwisata, dan lain-lain. Oleh karenanya, tidak ada alasan bagi pemerintah untuk tidak turut aktif mendukung dan mengakselerasi gelaran semacam JFC ini.

Selain itu, pemda juga dituntut untuk memperluas nilai manfaat JFC ini agar membumi dan dirasakan khususnya oleh seluruh masyarakat Jember dari dusun hingga kota. Masyarakat dari pinggir pantai hingga pinggir gedung megah di kota. Ibarat kail, JFC adalah kail yang mesti dimanfaatkan sebaik mungkin oleh pemerintah untuk menjaring ikan-ikan yang lebih variatif.

Jika tidak memanfaatkan sebaik mungkin "kail" JFC ini, gelaran selama 17 tahun ini tak lebih hanya sebagai gelaran seremoni yang tentu memberi manfaat, tetapi areanya sangat terbatas yang hanya dirasakan kelompok terbatas juga. Masyarakat luas di pelosok dusun di Jember tidak mendapat berkah JFC. Di sinilah fungsi dan peran pemda untuk lebih diperkuat dan dipertajam.

Perkuat Sektor Pariwisata

Melambungnya gelaran JFC dalam pentas nasional dan internasional semestinya dapat dimanfaatkan untuk mengangkat sektor lainnya yang potensial dikembangkan di Jember. Salah satu sektor yang cukup potensial tersebut tak lain sektor pariwisata. Sebagai Kota Karnaval, label baru yang disematkan untuk Jember, potensi pariwisata yang dimiliki kota ini dapat menjadi bonus bagi wisatawan saat berkunjung ke Jember menyaksikan dan terlibat dalam gelaran JFC.

Bila melihat kinerja sektor pariwisata di Jember, sektor ini cukup menjanjikan dalam menunjang pendapatan asal daerah (PAD) Tahun lalu, sektor pariwisata mampu mencetak sumbangan PAD sebesar Rp 20 miliar.

Pemerintah kabupaten (pemkab) juga mencatat terjadinya kenaikan kunjungan wisawatan ke Jember. Pada 2015 sebanyak 1.050.000 wisatawan datang ke Jember, sedangkan pada 2016 mengalami peningkatan kunjungan wisatawan baik domestik maupun mancanegara dengan total 1.9 juta wisatawan. Dan, pada 2017 lalu menembus angka 2,3 juta pengunjung.

Belum ada data detail soal kontribusi perhelatan JFC atas kehadiran wisawatan dari luar Jember. Namun, diyakini dari gelaran ini sumbangan wisawatan yang hadir di Jember juga cukup tinggi, dari target kunjungan pengunjung JFC tahun lalu sebanyak 300 ribu pengunjung. Selain itu, kunjungan wisatawan di Jember juga disumbang Meeting, Incentive, Conference, Exhibiton (MICE) yang juga tidak sedikit digelar di Jember. Sektor ini juga mendorong kehadiran wisatawan ke Jember.

Capain dan target PAD di sektor pariwisata ini tidak berbanding lurus dengan potensi objek pariwisata yang dimiliki Jember. Dalam catatan pemkab, saat ini terdapat 83 objek wisata aktif di Jember. Semestinya jika berbagai objek wisata potensial itu digarap dengan baik, target PAD bisa ditargetkan lebih dibanding capaian saat ini.

Sayangnya, hingga tiga tahun pemerintahan di bawah kepala daerah baru ini, saya belum menemukan terobosan konkret untuk meningkatkan PAD dari sektor pariwisata ini. Seperti dalam amatan saya di lapangan, saat berkunjung ke Pantai Watu Ulo dan Pantai Pasir Putih Manikan (Papuma) sebagai salah satu ikon tempat wisata Jember, manajemen pengelolaan cenderung asal-asalan alias tidak profesional. Belum lagi jika melihat dari sisi infrastruktur, tampak pemkab belum melakukan langkah konkret untuk meningkatkan kepuasan dan kenyamanan pengunjung.

Alih-alih menguatkan sektor kreatif sebagai turunan dari sektor pariwisata ini, tampak belum ada langkah yang kolaboratif dan sistematis untuk menggandeng kelompok kreatif yang berbasiskan kekayaan budaya lokal. Bila pun ada upaya ke sana, hingga saat ini belum terkonfirmasi di lapangan.

Belum lagi bila membicarakan sejumlah potensi objek pariwiasata baru yang belum tereksplorasi oleh pemerintah setempat dengan baik. Waktu tiga tahun terakhir ini semestinya telah muncul peta jalan (road map) atas pengelolaan objek wisata di daerah serta hasil nyata dari rencana-rencana tersebut. Namun, jika dicek di lapangan situasinya masih belum digarap dengan maksimal, untuk tidak menyebut tidak digarap sama sekali.

Perhatikan UMKM dan Pertanian

Selain sektor pariwisata yang harus dibuat terobosan, Jember juga harus memanfaatkan JFC ini dengan menguatkan sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jember dalam sensus ekonomi pada 2016 mengungkapkan jumlah UMKM di Jember sebanyak 283.078 usaha.

Capaian ini hanya mengalami kenaikan sebesar 8,97 persen pada 2006 atau setara dengan 259.785 usaha. Padahal, idealnya UMKM selama satu dasawarsa dalam rentang waktu sensus ekonomi harus mengalami kenaikan sebesar 10 persen. Data BPS yang juga mengungkapkan peta sebaran UMKM di berbagai daerah di Jember semestinya dapat dijadikan acuan bagi pemkab untuk melakukan supervisi dan berbagai insentif bagi pelaku UMKM.

Lebih dari itu, jika UMKM mengalami pertumbuhan yang signiifkan, idealnya dapat dikolaborasikan dengan sektor pariwisata. Hasil UMKM dapat dipasarkan melalui medium pariwisata. Dalam konteks hajatan JFC, produk UMKM yang telah mendapat pembinaan dan peningkatan kualitas semestinya juga dapat lebih mendominasi di ajang JFC, baik sebagai suvenir maupun produk jualan yang menarik bagi pengunjung JFC. Asumsinya, setiap kecamatan di Kabupaten Jember memiliki kontribusi dan menikmati perhelatan JFC ini dengan memasarkan produk UMKM. Pemkab harus mendorong "one kecamatan, one product" (OK-OP) UMKM.

Sejalan dengan itu, produk pertanian yang juga menjadi andalan penting bagi Jember dan mayoritas warga Jember juga semestinya juga menikmati berkah JFC ini. Langkah inovasi hasil produk pertanian dapat dilakukan untuk menarik minat wisatawan untuk membeli buah tangan dari produk pertanian. Meskipun bila melihat kinerja sektor ini pada 2015, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di sektor pertanian, perikanan, dan perkebunan berada dalam posisi terendah sebesar 3,45 persen. Ironi yang semestinya tak perlu terjadi.

Ragam ikhtiar yang dilakukan ini semata-mata untuk memastikan label Jember sebagai Kota Karnaval pertama di Indonesia serta eksistensi JFC yang telah go international dapat memberi nilai manfaat bagi masyarakat kebanyakan di Jember. Jangan sampai label Kota Karnaval dan gegap gempita JFC tidak ditangkap dengan baik oleh pemkab. Pemkab semestinya tidak gagap dalam menangkap peluang ini, yang bersentuhan langsung dengan hajat hidup orang banyak.

Anang Hermansyah anggota Komisi X DPR/Daerah Pemilihan Jatim IV (Jember dan Lumajang)



(mmu/mmu)