DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 10 Agustus 2018, 15:00 WIB

Kolom

Kubu-Kubuan Politik dan Pelajaran Rekonsiliasi

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Kubu-Kubuan Politik dan Pelajaran Rekonsiliasi Rakhmad Hidayatulloh Permana (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Pada mulanya saya cuma ingin mengungkapkan keresahan perihal kerepotan mencari tempat parkir di Jakarta lewat status Facebook. Saya merasa bahwa tempat parkir--khususnya parkir motor-- di Jakarta itu seperti sebuah kemewahan. Karena, jika tidak ditodong pungli oleh para tukang parkir dadakan, sekalinya parkir sebentar di sembarang tempat pasti diamuk orang.

Tak disangka, ada seseorang yang menyahut di kolom komentar status itu. Ia dengan sangat yakin menjelaskan bahwa saat Jakarta dipimpin oleh Ahok, semua ongkos parkir menggunakan sistem tiket, sehingga tidak ada pungli, beda dengan zaman Anies sekarang. Ringkasnya, pada zaman Ahok, tempat parkir di Jakarta sudah mulai menjadi tertib, sedangkan zaman Anies makin semrawut.

Belum sampai saya membalas komentar tadi, tiba-tiba ada orang lain yang membalasnya dengan nada sinis: "Zaman Ahok dan zaman Anies sama saja. Sama-sama ada pungli parkir. Sudahlah, Bu, sudahilah kampanyenya."

Sampai di situ, perdebatan mereka pun berlanjut dengan skema yang seperti biasa: saling menyerang dengan sentimen, bukan dengan argumen. Sedangkan saya cuma menonton mereka dengan geli saja. Karena memang ketika membuat status tersebut, saya tak pernah meniatkannya untuk menyerang salah satu kubu baik Anies atau pun Ahok.

Namun, lagi-lagi muaranya selalu berakhir antara kubu A dan kubu B. Tentang Ahok-Anies, Jokowi-Prabowo, Kampret-Cebong, dan seterusnya, dan seterusnya. Perseteruan kedua kubu itu sudah pas sekali dengan judul novel klasik karangan Mochtar Lubis: Jalan Tak Ada Ujung.

***

Saya termasuk satu dari segelintir orang yang jengah dengan suasana pengap ruang media sosial akibat ribut politik itu. Saya bahkan sering mengaku sebagai orang yang apolitis, meskipun tiap pemilu saya juga mencoblos. Karena, sebetulnya saya memang hanya ingin menghindar dari perdebatan soal preferensi politik. Itu masalah personal, sehingga tak perlulah untuk ditarik ke ruang publik.

Namun, upaya saya itu gagal juga. Apapun topik obrolannya, semuanya selalu punya potensi buat ditarik ke perdebatan politik. Dari mulai topik soal tempat parkir, hingga soal sepatu. Dan, aktornya tetap mereka saja: para gruppies yang mati-matian membela idolanya.

Padahal, pertikaian ini sudah berlangsung sangat lama. Setidaknya dimulai sejak garis start Pemilihan Presiden 2014 hingga menjelang Pemilu 2019 ini. Waktu hampir lima tahun terbuang sia-sia untuk membangun permusuhan. Polarisasi masyarakat menjadi dua kubu yang saling bertikai itu pun langgeng selama bertahun-tahun.

Apalagi, sekarang derajat permusuhan itu kian panas, setelah beberapa hari yang lalu potongan pidato Presiden Joko Widodo yang memuat diksi "berantem" itu digoreng dan dikipasi oleh lawan politiknya. Dari mulai tokoh politik sampai ustaz Instagram. Ditambah lagi, proses menuju kontestasi Pilpres 2019 yang telah memasuki babak deklarasi dan pendaftaran pasangan capres dan cawapres, yang otomatis membuat kedua kubu ini makin bergemuruh.

Tentu, ke depan perkelahian antara kedua kubu ini akan menjadi semakin panas --sekaligus seru dan asyik buat ditonton. Tapi, sampai kapan? Apakah kita ingin terus bermusuhan dengan sengit begini? Apakah permusuhan ini akan terus kita rawat dan kita wariskan hingga tujuh turunan ke depan?

"Kenapa sih kedua belah pihak tak juga melakukan rekonsiliasi politik saja? Alias memulihkan hubungan baik seperti semula?"

Seorang teman memungkasi pertanyaan saya dengan celetukan nakal, "Apa mungkin hewan seperti anak katak dan kelelawar bisa melakukan rekonsiliasi? Kenal istilah rekonsiliasi saja belum tentu. Yang mereka tahu itu cuma berkelahi dan saling mangsa."

Saya tergelitik. Celetukan sinis kawan saya itu ada benarnya juga. Kedua kubu yang melulu terjerat dalam perkelahian oposisi biner itu memang musykil untuk melakukan rekonsiliasi. Mereka seperti mampet ketika diharuskan menghormati kubu yang lain, apalagi untuk menjalin hubungan baik. Sebab, sekali lagi, mereka tak pernah berpegang pada argumen, melainkan sentimen. Maka, jangan heran bila ada seseorang yang yang melempar fitnah kepada personalnya langsung. Mereka semua hanya menjadi korban egonya masing-masing. Terperangkap dalam kebenaran yang ia percayai sendiri.

Tapi, saya ragu. Betulkah hewan tak mengenal rekonsiliasi?

Ternyata, kawan saya itu keliru. Ada juga hewan yang mengenal budaya rekonsiliasi. Setidaknya, ini diyakini oleh Frans De Waal yang merupakan peneliti simpanse, dalam bukunya yang berjudul Good Natured.

Dalam bukunya, Frans menyangkal pendapat umum yang seringkali menyebut hewan itu sifatnya egois dan punya motif kejam. Karena dua sifat ini, mereka selalu dianggap rajin berkelahi dan memangsa siapa pun. Tapi, Frans justru menemukan fakta sebaliknya saat mengamati perilaku para simpanse. "Setelah berkelahi, para simpanse itu memulihkan hubungan baik mereka dengan kontak dari mulut ke mulut," tulis Frans.

Sungguh, fakta ini membuat saya agak kaget sekaligus malu. Ternyata, moralitas para hewan ini terkadang memang mengungguli moralitas kita sebagai manusia. Di saat ada para manusia yang masih terbebani rekonsiliasi tragedi berdarah di masa lalu hingga rekonsiliasi politik pascapemilu, ada para hewan yang tak sungkan untuk cipika-cipiki setelah bertengkar.

Semestinya kita malu dan belajar dari fakta bahwa hewan pun mengenal rekonsiliasi. Tak ada salahnya pula mencairkan batu dendam yang bertahun-tahun mengendap karena idola yang kita bela itu. Percuma pula berlarat-larat membuat argumen yang dibumbui data dan intelektualitas jika niatnya cuma perkara menjatuhkan orang lain.

Paling tidak, rekonsiliasi yang dilakukan bisa dimulai dengan langkah paling minimal. Minimal tidak saling memaki atau menebarkan fitnah kepada kubu yang berseberangan. Di luar itu, mereka bebas untuk melakukan perdebatan yang sehat-dalam arti dengan data dan argumen yang logis. Tentu, itu pun budaya yang bagus juga untuk perkembangan iklim demokrasi Indonesia.

Percayalah, bahwa sama sekali tak ada secuil hikmah dalam perkelahian. Seperti kata pepatah lama, "Kalah jadi abu, menang jadi arang." Jadi, sudahlah jangan lagi berkelahi. Kalau ingin kampanye silakan, tapi tak perlu menggoreng-goreng potongan pidato orang lain. Jangan ada lagi perkelahian baik antarkubu maupun yang sekubu. Apalagi berkelahi sembari saling lempar kardus. Hehehe. Apa kita tak malu kepada para simpanse yang mengenal rekonsiliasi itu?

Rakhmad Hidayatulloh Permana esais, saat ini bermukim di Jakarta


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed